Mencoba Mengikhlaskan

1038 Words
MENCOBA MENGIKHLASKAN “Lho, iya kan bener apa kataku. Kamu itu lagi sawan sama pernikahan,” Siti masih saja bergeming tentang pernikahanku yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan sakit panas yang kuderita. Aku hanya sedang kelelahan. Mungkin saja karena pikiran dan hatiku yang masih belum sinkron sampai saat ini juga. Aku tahu ini adalah pilihan terberat yang pernah aku ambil. Akankah aku bisa melewati semua ini, sedangkan fisikku saja sudah mengatakan jika dirinya tidak kuat. Entahlah, aku juga bingung dengan semua yang melanda diriku saat ini. “Nggak Ti, aku nggak lagi sawan. Semua berjalan dengan baik. Musim mbediding seperti ini banyak membawa hawa penyakit,” jawabku dengan lemah. Mbediding adalah istilah untuk sebutan ketika akan memasuki musim kemarau namun dengan suhu dan iklim yang berubah dengan cepat. Di siang hari panasnya tak terkira, dan ketika malam dinginnya tak terkira. Itu kadang yang membuat fisik tidak kuat. “Kamu sudah periksa belum?” tanyanya kemudian. “Mbah Saripah kemarin ke sini, dia memijat kakiku dan seluruh tubuhku, diberikan rempah juga,” jawabku. Siti tersenyum sekilas. “Aku nggak nyangka kamu bakal nikah secepat ini. Di antara teman-teman kita yang lain yang belum menikah hanya aku-- dan Jumani.” pandangan wanita itu tiba-tiba datar dan nanar. Aku menghela napas berat lalu ku hembuskan begitu saja. “Ya, mau gimana lagi. Semuanya sudah takdir. Kita nggak bisa buat menolak takdir yang sudah diberikan oleh Gusti Allah. Aku dipertemukan dengan jodohku cepat ya memang itu takdirku. Kamu sampai sekarang belum dipertemukan ya semoga segera cepat dipertemukan. Menikah itu tidak siapa yang cepat siapa yang dapat. Tidak seperti itu. Kita harus memikirkan ke depannya seperti apa kan,” kataku kemudian. Siti pun mengambil tanganku mengelus dengan lembut. “Kamu enak. Punya calon mertua yang baik, penyayang, calon suami yang sabar, baik pintar. Lah aku, laki-laki saja tidak ada yang mendekat karena tahu Bapakku yang carik desa.” Bibir Siti turun. Agaknya anak itu sedang putus asa dengan apa yang dialaminya saat ini. Kecerdasan berpikirnya dan juga strata keluarganya yang lebih tinggi dari kebanyakan orang di desa membuatnya selalu dihormati. Kisah cintanya pun harus kandas begitu saja saat kekasihnya memilih untuk mundur dari pada betemu dengan Bapaknya. “Ya sudah  lah, mungkin itu sudah menjadi takdirku Sati. Karena hari sudah mau petang, aku mau pulang dulu ya. Nggak baik kan anak perawan dibiarkan sendiri begitu saja jalan kaki dan tidak ada yang mengantar,” matanya sayu dirinya masih berduka soal jodohnya yang belum datang juga. “Biar diantara Mas Subekan. Nggak baik anak gadis jalan sendiri maghrib-maghrib seperti ini,” kataku kemudian. Secara kebetulan, Mas Subekan datang ke kamarku. Menyibak selambu dan membawakan jajanan matahari hasil dari keriwehan selama di dapur tadi. “Bawa pulang ya Siti,” kata Mas Subekan dengan memberikan jajanan matahari itu kepada Siti dengan wadah daun jati. Siti pun menerimanya. “Terima kasih Mas,” katanya kemudian. “Mas, sekalian Siti antar pulang ya. Sudah mau maghrib juga kan,” kataku. “Boleh. Sekalian mau mengantar undangan ke Pak Carik,” kata Mas Subekan sudah siap dengan layang ulemnya. Aku mengangguk. Sebelum pulang Siti memelukku dengan erat. Dirinya sampai menitihkan air mata haru. Aku akan pergi ke rumah suamiku. Begitu juga dengan yang lain.Siti tinggal sendiri dengan mimpinya yang sangat tinggi. Aku selalu terkesima dengannya dan ada rasa seolah iri juga. Namun malah sebaliknya, Siti ingin cepat-cepat untuk dipinang saja. Agar seperti teman-temannya yang lain. “Salam untuk Bapak dan Ibuk ya,” kataku. “Iya, Insya Alah Siti akan sampaikan. Assalamu’alaikum Sati.” “Waalaikumsalam.” Perempuan itu pun berjalan lebih dahulu. Diikuti dengan Mas Subekan di belakangnya. Aku tersenyum lalu, menyibak selimut bermotif batik yang aku gunakan untuk menutupi diri. Di belakang, rumah sangat ramai. Sanak saudara memilih menginap di sini. Tinggal beberapa hari lagi dan itu sangat sibuk persiapannya. Aku bergerak beranjak dari kamar. Ingin buang air kecil. Ibu yang awalnya menjojohi gemblong, beranjak dan menuntun tubuh lemahku. “Sati nggak apa-apa Buk,” ujarku dengan menyeka tangan Ibu. Ibu dengan raut wajah yang lelah itu menggeleng lemah. “Sudah, ayo Ibu antarkan ke kamar mandi,” katanya dengan menuntun tubuhku dengan pelan. Bulik dan Budhe yang ada di rumahku ramai membicarakan Jumani. Aku mendengar nama itu bahkan disebut beberapa kali. Aku hanya bisa tersenyum dan tidak bisa menimpali. “Owalah, Jumani itu ke lojinya londo ya. Tetep ya, kalau dasarannya anak l***e. Ya tetep jadi l***e. Itu ibunya Jumani dulu itu kan yang merebut bojonya si Supratmi. Terus punya anak Jumani itu. Ehhh, kok Jumani ikut-ikutan juga.” Suara itu sampai ke kamar mandi. Aku mendengarnya dengan sangat jelas. “Sudah jangan didengar,” kata Ibuk memberikan nasihat. Aku mengangguk paham. Agar tidak terlalu dimasukkan ke dalam hati. “Yang ada memang harus menjadi manusia baik. Namun tidak semua manusia baik dapat diterima dengan baik. Kita harus bisa belajar untuk menerapkan ilmu agama, sosial, dan budaya kita. Jangan seenaknya sendiri menggunakan hati dan nurani. Kadang itu yang membuat kita hanyut dalam masalah. Nduk, baik buruknya kita akan dinilai orang lain. Maka dari itu, jadilah versi terbaik buat dirimu sendiri.” Sore itu adzan maghrib aku dengarkan dengan pelan. Bukan suara Mas Subekan. Melainkan suara Bapak yang sudah tua memang. Jadi suara itu seperti tertahan di tenggorokan. Meski demikian masih dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Aku menghela napas. Nanti di desa seberang, di rumah mertuaku. Tidak akan terdengar lagi suara indah Bapak yang menyerukan waktu sholat. Ohh aku akan rindu berat dengan itu semua. “Jumani kemarin itu sama Nyai Lasipah. Dia kayak lagi nyrahin diri gitu ke l***e itu. Ya, mungkin sekarang jadi budaknya londo-londo di loji. Ya mau gimana lagi. Aku kalau punya anak seperti Jumani, ya pasti sudah tak gorok lah. Buat apa punya anak seperti dia.” Itu suara Bulik Tias. Dirinya bisa berkata demikian karena tidak punya anak perempuan. Ohh, bagi Ibu dan Bapak yang punya diriku di keluarganya. Seumpama seperti berjalan di atas duri. Jika tidak hati-hati maka keluarga akan menanggung malunya seperti Jumani kemarin. Keluarga memilih jalur damai dengan memilih untuk membayar denda saja sebanyak lima puluh dokar beras. Yang digunakan untuk buat fasilitas umum. Aku hanya bisa menghela napas berat. Jika itu terjadi kepadaku, maka seluruh tanah dan rumah akan terjual. Jangan sampai itu terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD