Episode Tanpa Judul

1371 Words
“Aku sedang tidur Bae, ini kan sudah malam,” jawab Wendy dengan bibir melengkung ke atas. Senyuman itu membuat Aiden terbuai. Memang benar, sekarang sudah menunjukkan pukul 11 malam. “Oh ya?” Aiden merasa aneh melihat gelagat Wendy. “Iya Bae. Ada apa menelpon?” tanya Wendy. Video call masih bergoyang-goyang membuat wajah perempuan itu tak jelas. “Aku merindukanmu.” “Ummm... aku juga rindu kamu Bae. Seandainya kita satu rumah, aku bisa memelukmu sekarang,” keluh Wendy dengan mata puppy eyes. Bibir bawah berwarna pink, ia gigit pelan menghadirkan tampilan sexy di wajahnya. “Hah... sayang sekali, kita masih terpisah. Tunggu sebentar lagi ya Bae.” Aiden beringsut duduk di atas ranjang. “Okay. Kalau demi kamu, seberapa lama pun, aku akan menunggu.” Aiden mengangguk wajahnya, ia sangat terharu mendapat perempuan sabar seperti Wendy. Tidak seperti Dea yang sering marah dan membentaknya. “Makasih Bae. Lanjutkan tidurmu, night.” “Night, love you.” “Love you too.” Sambungan telepon pun terputus. Aiden terpaku, ‘Entah kenapa rasanya ada yang janggal. Aku tau jika perempuan tidur tidak memakai bra. Tapi apa yang sedang dia lakukan sampai layar bergoyang seperti tadi?’ batin Aiden. “Apa dia...” kalimat itu menggantung. “Ah! Tidak mungkin, mana bisa Wendy berpaling ke lelaki lain. Mungkin saja dia melakukannya sendiri.” Aiden mencoba menghilangkan prasangka buruk kepada kekasihnya. Bisa saja setelah bermain dengannya semalam, membuat tubuh wanita itu tak terkontrol malam ini. Keesokan paginya Aiden sarapan bersama Dea. Tak ada pembicaraan di antara ke duanya. Dea fokus dengan makanan di depannya, begitu pula Aiden. “Tuan,” panggil Mrs. Asih dengan sopan. Aiden menoleh ke arah wanita itu. “Ada telepon dari Mr.Kusuma.” Asih memberikan telepon genggamnya. “Oh ya? Kenapa tidak langsung menelponku?” “Tidak tau Tuan.” Aiden menghela napasnya sebentar. Padahal ayahnya punya nomornya, kenapa harus melewati Asih. “Hallo.” “Hallo Aiden.” “Ya Pa? Ada apa?” “Bagaimana keadaan Dea?” “Baik-baik saja. Dia sedang sarapan bersamaku.” “Jangan membuat Dea sedih. Bersikap baiklah padanya, kamu ingat syarat yang diajukan pada kita kan?” Aiden menelan salivanya. “Iya Pa.” “Jangan membuat masalah. Ingat perusahaan sedang dalam masa krisis. Hanya keluarga Dea yang bisa membantu kita.” “Iya Pa.” “Oke. Aku tutup teleponnya.” Tuttt... sebelum Aiden menjawab, telepon itu sudah terputus. “Huft...” ia hanya bisa menghela napas, entah kenapa jantungnya berdetak semakin kencang. ‘Kenapa aku harus menikah dengan wanita ini? Membuat hidupku jadi sengsara saja,’ batinnya kesal. Ditambah Dea nampak acuh, seakan tak menganggap kehadirannya. Telepon genggam itu langsung ia kembalikan kepada Asih dan berkara, “Katakan pada Lastro untuk menyiapkan mobil.” “Baik Tuan.” Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung meluncur menjalankan perintah Aiden. Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Tapi perasaannya langsung hancur karena pembicaraan barusan. Ia ingin segera pergi dari rumah ini untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kepergian Aiden tidak mengusik Dea sama sekali. Bahkan mulutnya hanya terbuka untuk memasukkan makanan. Perasaan wanita itu masih down karena kejadian kemarin sore. “Tolong panggilkan Toni,” ucapnya pada Asih yang sedang memberikan obat padanya. “Baik Madam.” Wanita itu hanya melirik ke salah satu anak buahnya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun Santi kebetulan adalah partner kepercayaan Asih langsung mengerti maksud wanita itu, dan segera pergi. Dengan berat hati, lagi-lagi Dea harus mengonsumsi obat penenang. Melihat banyaknya dokter dan perawat yang masuk ke ruang inap Mr.Hando membuatnya teringat saat-saat terakhir Airon kekasihnya. Mantan tungannya itu sempat koma beberapa minggu, lalu tersadar selama beberapa jam. Mendengar Airon sadar, Dea langsung mendatangi lelaki itu. Hanya ada kata, “I Love You.” Dengan senyuman manis menjadi detik-detik terahkir ia bertemu Airon. Segala kabel yang tertempel maupun tertancap di tubuh lelaki itu masih teringat jelas di benaknya. “Kenapa nasibku setragis ini? Padahal aku baru merasakan bahagia dan jatuh cinta. Rasanya sangat menyakitkan untuk melepas orang yang kucintai karena dijemput ajal,” gumamnya tanpa sadar. Asih yang ada di belakang wanita itu hanya bisa menunduk. Ia tak tau apa yang dirasakan majikannya itu. Tapi melihat kesedihan Dea, cukup membuat Asih terbawa perasaan. Ia sudah mendengar cerita masa lalu Dea. Siapa sangka keadaan wanita itu bisa separah ini. Seseorang yang memiliki trauma seakan cacat seumur hidup meskipun keadaan tubuh masih utuh. “Pagi Madam,” sapa Toni dengan tubuh yang sehat bugar. “Tolong jenguk Mr.Hando, jangan lupa berikan bubur. Katakan jika hari ini aku tidak bisa berkunjung. Pastikan juga lelaki kemarin tidak berbuat buruk padanya.” Dea hanya menyandarkan punggungnya dengan mata yang memejam, kepalanya terasa pusing. Bahkan ia tak melihat supirnya sedikitpun. “Baik Madam.” Sebelum pergi, Toni menerima bubur dari Sinta. “Thanks,” ucapnya. Sinta hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Di sisi lain, ketika sampai di kantor. Ia dikejutkan dengan kehadiran Wendy yang mematung di depan ruangannya. “Baby!” panggil wanita itu penuh semangat. Ia merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Aiden. Tanpa banyak bicara Aiden segera berjalan cepat merengkuh tubuh Wendy yang harum. “Kenapa tidak masuk ke dalam?” tanya Aiden setelah puas memeluk tubuh wanita itu. Dengan muka cemberut Wendy menjawab, “sekretarismu tidak mengizinkanku masuk.” Aiden melirik sekilas sekretarisnya, Bella. Wanita itu menundukkan kepala. “Em kemarin aku memang bilang kalau tidak boleh ada yang masuk ke ruanganku karena dokumen-dokumen penting masih berceceran di dalam. Apa kamu sudah membereskannya Bella?” “Sudah Pak,” jawab Bella. “Good.” Kini pandangan Aiden beralih ke Wendy. “Kita masuk sekarang?” Wanita itu mengangguk kepalanya beberapa kali. Sebenarnya ia kesal, karena Aiden tidak memarahi Bella yang membuat kakinya pegal berdiri di depan pintu. ‘Huh! Awas saja kamu Bel. Secepat mungkin aku akan membuatmu dimarahi Aiden, kalau perlu dipecat. Wanita tidak tau sopan santun, berani-beraninya membuat kakiku pegal seperti ini!?’ gerutu Wendy dalam hati. Ia bahkan melirik wanita itu dengan tajam. Namun, Bella hanya menatapnya datar tak ada ekspresi apa pun. ‘Kurang ajar!’ Wendy tak terima dengan sikap Bella yang seperti itu. “Mau kopi?” “No... Aku butuh pelukan,” rengek Wendy. “Kan tadi sudah.” “Belum puas. Di depan kan ada Bella.” Aiden tersenyum lebar, ia merasa senang karena memiliki wanita manja seperti Wendy. Rasa gemas menggerogoti hati lelaki itu. Dibanding Dea yang kebanyakan murung, Wendy seperti matahari yang memberikan keceriaan di hidupnya. “Okey sini.” Aiden langsung memeluk tubuh wanita itu cukup lama. “Ahh... kepala aku lelah harus mendongak ke atas,” keluh Wendy. “Hahaha... katanya mau peluk.” “Ini kelamaan Baby.” lagi-lagi wanita itu mengeluh dengan bibir mengerucut seperti bebek. Karena rasa gemas tak tertahankan, Aiden pun memencet hidung wanita itu. “Dasar. Kenapa kamu gemas seperti ini!? Pengen aku makan!” gemas Aiden dengan gigi menggertak keras. “Aaaa...! Sakit!” Aiden langsung melepas tangannya dari hidung wanita itu. Tak lupa ia memberi kecupan manis di kening. “Maaf Baby, Aku harus kerja sekarang. Kamu mau di sini atau pulang?” tanya Aiden dengan berat hati. “Huummm~!!!” Lagi-lagi Wendy membuat ekspresi cemberut dengan puppy eyes. “Aku ingin menemani kamu bekerja.” “Oke!” semangat Aiden dengan tangan yang bersiap membawa kursi untuk di taruh meja kerjanya. “Tapi aku ingin di pangkuanmu By.” “Di pangku?” Kedua alis Aiden terangkat tinggi. “Iya. Kita sudah lama tidak bermesraan seperti itu. Boleh ya?” Wendy mengedipkan matanya beberapa kali seperti boneka chucky. “Boleh, ayo sini.” Aiden mempersilakan wanita itu duduk di pahanya. Wendy langsung menyambar tempat duduk kesukaannya itu. “Yeyyy!!!” Dia terlihat sangat girang. Aiden hanya tersenyum dan mulai membuka satu persatu dokumen mengenai investor yang akan diajaknya bekerja sama. Tak beberapa lama tiba-tiba ada telepon. “Tuan Aiden. Ada Direktur Keungan ingin menghadap.” “Suruh dia masuk,” jawab Aiden basa-basi. Ia bahkan tidak menyuruh Wendy turun dari pangkuannya, karena Elvaro sudah tau jika Wendy adalah kekasihnya jadi tidak perlu menutup-nutupi apapun pada lelaki itu. Elvaro membuka pintu dan langsung melangkahkan kaki mendekat ke arah atasannya. Matanya tak bisa mengedip melihat Wendy sedang duduk di pangkuan Aiden. Bahkan wanita itu pun terlihat acuh kepadanya. Namun, tanpa sadar ia meremas map yang ada di tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD