10

1249 Words
Ruangan yang sebelumnya dipenuhi gelak tawa kini berubah hening, ini karena ada tamu tak diundang. Mr.Hando yang sebelumnya bersemangat cerita hal lucu langsung terdiam, begitu pula Dea. Awalnya mereka mengira itu adalah Toni ternyata bukan. Orang itu adalah Devano, orang yang mengaku sebagai cucu Mr.Hando. Tak lain sahabat Aiden yang ditemui Dea tadi siang di kediamannya. “Kakek,” sapa lelaki itu dan berjalan mendekat. Mr.Hando enggan memandang Devano, justru bibir lelaki itu nampak manyun kesal. “Ngapain kamu ke sini?” tanya pria paruh baya itu dengan ketus. “Jenguk kakek.” Devano nampak khawatir melihat Mr.Hando yang berada di atas ranjang rumah sakit. Namun seperkian detik, lelaki itu melirik Dea tajam. Dea langsung berdeham, merasa tak nyaman dengan tatapan Devano. “Pulanglah, kakek tidak butuh perhatianmu.” Pria paruh baya itu masih enggan melihat cucunya. Dia nampak jengah dengan kehadiran Devano. “Kenapa seperti itu, Devano kan cucu kakek.” Devano merasa sedih karena mendapat penolakan dari Mr.Hando. “Bukan, kamu hanya anak dari anakku yang malang. Cepat kembali sebelum ibumu menyeretmu paksa,” jelas Mr.Hando. Dea menatap lelaki itu dengan bingung, tapi dari sorot matanya terdapat kilatan rasa sedih. “Kakek masih marah sama aku?” Devano semakin mendekatkan tubuhnya. Ia berdiri di samping kakeknya dengan penuh kekhawatiran. “Memangnya kapan kakek marah?” “Sekarang.” “Tidak.” “Yakin tidak? Kenapa mengusir Devano? Apa aku bukan cucu kakek?” pertanyaan itu terdengar keluar dari relung hati Devano. Ini membuat Dea semakin tak nyaman. Mr.Hando terdiam cukup lama. ‘Sepertinya pembicaraan semakin serius, lebih baik aku pergi,’ batin Dea yang tak enak hati jika terus berada di sini. Ketika Dea hendak pergi memberikan ke dua orang itu ruang untuk berbicara. “Tetap di sini Nak. Katamu tidak akan meninggalkanku,” cegah Mr.Hando. Dea tersenyum kaku, “sepertinya kalian perlu ruang untuk berbicara. Dea akan menunggu di luar Dad, nanti akan kembali lagi.” “Tidak perlu, Daddy hanya butuh kamu di sini. Biar lelaki itu yang enyah.” Mr.Hando menyepakati Dea untuk memanggilnya Daddy. Ia sudah menganggap wanita itu putrinya sendiri, Dea adalah anak dari sahabatnya. Ditambah Dea memiliki karakter yang disukainya sehingga Membuat lelaki itu semakin sayang. Candaan yang berlangsung beberapa waktu lalu membuat bonding keduanya tumbuh dengan pesat, bahkan Dea seakan bertemu dengan ayah kandungnya sendiri. Tingkah laku Wijaya dan Hando sangat mirip, pantas saja kalau mereka bersahabat. “T-tapi.” Dea gelagapan karena Devano melihatnya dengan penuh kebencian. “Tetap di sini Nak. Temani Daddy,” mohon Mr.Hando dengan manik sendu. Dea tak bisa menolak, akhirnya dia menganggukkan kepalanya dan stay di tempat duduknya semula. Melihat hal itu, Mr.Hando langsung tersenyum. “Kakek lebih memilih wanita asing ketimbang cucu sendiri?” protes Devano merasa tak adil. “Pergilah. Jangan membuat masalah di sini.” pria paruh baya itu berusaha untuk tak menimbulkan keributan. “Wanita itu yang seharusnya pergi, bukan aku. Aku kan cucu kandung Kakek,” tegas Devano dengan lirikan dingin pada Dea. “Benahi dulu akhlakmu Nak, aku tak sudi memiliki cucu b******n macam kamu. Jangan membuat masalah dan cepat pergi. Kakek sudah tidak memiliki apapun untuk kamu rampas.” “Ya tuhan, buat apa aku merampas miliki Kakek?” “Mungkin bukan kamu, tapi ibumu Nak. Lebih baik jangan mengunjungiku lagi. Pergilah, tubuhku sangat lelah menghadapimu.” Wajah Mr.Hando nampak pucat. Monitor yang gada di samping ranjang terlihat bergerak, pada heart rate menunjuk angka 95 lalu bertambah ke 100. Dan perlahan semakin tinggi. Napas lelaki itu nampak terengah-engah. Melihat hal itu Dea panik dan segera menekan bel untuk memanggil petugas kesehatan. “Tolong keluarlah, keadaan Mr.Hando semakin parah kalau kamu tetap di sini,” pinta Dea. “Justru kamu yang harus keluar!” bentak Devano. Ia sudah dipenuhi emosi. Mr.Hando nampak kesal dengan sikap cucunya, ia berusaha untuk bangun tapi dadanya terasa sakit. “Jangan memaksakan diri Dad, tolong tenanglah.” Dea memohon pada Daddy untuk tetap tenang karena gelisah melihat angka HR yang semakin tinggi. “Please...” mohon Dea sembari memegang tangan pria paruh baya itu. Tak butuh waktu lama, petugas kesehatan langsung masuk ke kamar dan mengecek keadaan pasien. Dea mundur memberikan ruang pada dokter dan perawat agar leluasa menjalankan tugasnya. Entah kenapa melihat gerakan dokter membuat kepalanya pusing. Tangannya tremor hebat, ‘Ah... sepertinya kumat lagi. Aku harus keluar.’ Dea segera meninggalkan kamar Mr.Hando dan duduk di bangku. Degup jantungnya berdegup sangat kencang, bahkan tangannya sulit diajak kompromi. ‘Kenapa Toni belum tiba. Rasanya sakit sekali.’ ia memegang dadanya erat. Mulut wanita itu menghembuskan napas beberapa kali guna meringankan debaran jantung. Kenangan ketika mengunjungi mantan tunangannya yang sekarat selepas kecelakaan beberapa tahun lalu, kini terlintas di kepalanya. Dia masih teringat dengan jelas bagaimana dokter memasang kabel-kabel ke tubuh lelaki itu. Satu kalimat yang masih terngiang-ngiang di telingan Dea adalah, “Sayang aku mencintaimu, tunggu aku. Kita akan menikah.” Itu ucapan mantan tunangannya. Nahasnya, setelah ia menjenguk. Pujaan hatinya menutup mata selamanya. Rencana mereka untuk menikah hancur begitu saja dan digantikan dengan acara pemakaman Airon, kekasihnya. Itu adalah masa-masa paling buruk untuk Dea. Bahkan mempengaruhi kondisi psikisnya hingga sekarang. Meskipun tubuhnya tak kurang sedikitpun setelah mengalami kecelakaan, tapi trauma dalam dirinya tak bisa disembuhkan seumur hidupnya. ‘Hahh... Tidak... aku tidak boleh lemah seperti ini, tujuanku belum tercapai!’ Kenangan itu terngiang-ngiang di kepalanya. Rasanya semakin menyakitkan. Dea segera mengambil smartphone miliknya lalu menelpon Toni. Tuttt... Tuttt... Tuttt... telepon itu berdering cukup lama. Namun, tersambung... “Hallo Madam,” suara Toni di seberang. “A-apa masih lama?” “Tidak Madam, saya sedang di dalam perjalanan ke rumah sakit.” “T-tolong cepat, dan bawa o-obat.” Suara Dea yang terbata-bata membuat Toni kalap dan langsung menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Baik Nyonya, tiga menit lagi saya akan sampai.” Tut... sambungan telepon itu terputus. Bukan Toni, melainkan Dea yang langsung mengakhirinya. Tangannya terlanjur lemas untuk menenteng telepon pintar tersebut. “Hahhh.... please tenanglah,” mohon wanita itu pada dirinya sendiri. Butuh seperkian menit untuk menenangkan dirinya. Sayangnya, tiba-tiba ada Devano yang berdiri di depan dengan wajah galak saat dia belum sepenuhnya tenang. ‘Apalagi ini,’ kesal Dea dalam hati. Dadanya masih naik turun tanpa henti, dan sekarang ada pengganggu. Ini membuatnya emosi dan memperparah keadaan psikisnya. Devano melipat kedua tangannya di depan d**a dengan arogan. Posisi berdirinya yang tegap. Tatapan dingin yang mendominasi membuat siapapun terpaku saat berhadapan dengannya. Namun, itu tak berlaku pada Dea, Perempuan itu justru semakin jengah melihat Devano yang berlagak angkuh di depannya. ‘Pantas saja Daddy memintanya untuk memperbaiki diri, sikap seperti kekanak-kanakkan di usia dewasa sangat membuat orang muak,’ kesalnya dalam Hati. Rasanya Dea ingin menggerutu melihat gelagat Devano. Tak berselang lama, lelaki itu langsung membuka mulutnya dan berkata... “Apa hubunganmu dengan Kakek? Bukankah kamu istri dari Aiden, kenapa bisa di sini? Apa kamu tidak puas memiliki temanku sampai menggoda kakekku yang sudah rentan itu? Apa harta Aiden masih kurang sampai-sampai kamu memoroti harta kakekku? Atau festishmu sebenarnya adalah lelaki tua rentan?” pertanyaan lelaki itu bagai peluru yang ditembakkan tanpa henti. ‘Ha!?’ Dea terkejut mendengar pertanyaan Devano. Bahkan mulut wanita itu nampak melongo sangking bingungnya memahami rentetan kalimat yang keluar dari bibir Devano. Semua point yang disampaikannya benar-benar di luar nalar. Karena Dea tak kunjung menjawab, Devano langsung melakukan aksi. Ia mengambil ponselnya yang ada di saku lalu menyentuh beberapa titik. “Aku akan menelpon suamimu dan memberitahunya seberapa busuk istri yang dinikahinya!” congkaknya dan langsung menunjukkan telepon dengan nama kontak Aiden di sana. Hal ini sontak membuat kedua bola mata Dea melotot.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD