Setelah bercengkrama dengan Dea. Aiden menatap kepergian Dea sampai punggung wanita itu hilang dari pandangannya. Tak berselang lama ia merenung dalam waktu yang lama. Lampu temaram menghiasi ruang tamu dengan hangat. Kepalanya terasa penuh oleh berbagai masalah yang sedang dihadapi. Hembusan napas panas keluar dari hidung lelaki itu. Ia memejamkan mata sejenak menikmati sensasi perih di skleranya. “Kenapa lusa terasa lama?” tanyanya pada diri sendiri. “Aku ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin.” Lelaki itu sudah mendapatkan jadwal untuk melakukan pertemuan dengan Jamono dan Triyo. Ini adalah kabar yang baik untuknya, mengingat ia harus memohon pada mertuanya agar gerakan kelompok itu dipercepat. Dan omongan Wijaya terpenuhi, kini tinggal dia yang mengisi tahapan rencana mereka

