. . . Afran dan Amierra tiba di sebuah area pemakaman di selatan kota, suasana sehabis hujan membuat udara sedikit lembab, dan aroma duka menyeruak begitu saja ketika Amierra menginjakkan kakinya di area peristirahatan terakhir itu. Pagi ini Amierra memang sudah diperbolehkan pulang. Namun sebelum pulang, dia mengajak Afran menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam Jihan. "Assalamualaikum, Jihan," salam Amierra seraya menaburkan bunga di atas gundukan tanah itu. Afran pun juga ikut berjongkok di samping Amierra lalu menaburkan bunga. "Terimakasih sudah hadir di hidupku, Jihan. Mengajarkan aku tentang apa itu sabar dan ikhlas yang sesungguhnya. Kamu itu guru buat aku. Entahlah. Padahal dirimu yang lebih muda, namun aku kadang iri dengan semua pemikiran dewasamu." Amierra tertawa su

