2. Butterfly in the Dark (2)

1293 Words
Chapter 2 : Butterfly in the Dark (2) ****** “RIN.” Jaekyung menghela napas samar. “I told you that I didn’t want you to be mad at me. I’m really sorry.” “Pulanglah, Jaekyung. Sungguh, pulanglah,” pinta Harin dengan jemu. Dia menyisir rambutnya ke belakang dengan frustrasi, lalu dia menundukkan pandangannya. Tak ingin melihat wajah Jaekyung. “Tinggalkan aku sendiri. Kumohon.” Kembali terdengar helaan napas berat Jaekyung di depannya. Mereka berdua sama-sama diam, keadaan itu bertahan hingga sekitar empat detik lamanya. Udaranya terasa begitu berat, tekanannya sangat tinggi. Situasi itu nyaris membuat Harin jadi sesak napas. “Baiklah,” jawab Jaekyung pada akhirnya. Suara pemuda itu terdengar begitu dalam. “tetapi syaratnya, besok kita harus pergi ke kampus bersama-sama.” Harin mengernyitkan dahi. Mengapa jadi ada syarat seperti ini? Namun, terserahlah. Harin sedang bad mood. Dia tak ingin berpikir lama-lama. Dia hanya ingin Jaekyung pergi dari hadapannya agar ia bisa menyendiri dan beristirahat di dalam apartemennya. “Terserah. Sekarang pulanglah. Pergi dari sini. Aku mau istirahat,” ucap Harin dengan cepat, ia pun langsung berjalan meninggalkan area jalan kecil itu dengan langkah yang lebar, menyeberanginya hingga sampai tepat di depan pagar apartemennya. Setelah itu, dia membuka pagar tersebut, masuk dengan cepat, lalu mengunci pagar itu kembali dari dalam. Harin sungguh tidak menginginkan ini. Rasanya dia jadi sangat emosional dan logikanya melawan ini semua. Tidak seharusnya dia membiarkan dirinya dibohongi terus menerus seperti ini, padahal dia tahu jelas bahwa dia sedang dibohongi dan dipermainkan. Dia membiarkan dirinya untuk bersikap bodoh hingga seluruh sel-sel di dalam tubuhnya seolah meronta padanya untuk berhenti menoleransi ini semua. Namun, benar kata orang: hati memang selalu ingin diutamakan. Hati Harin selalu berhasil membujuk seluruh logikanya untuk menurut. Rasa cinta yang sudah dipupuk selama bertahun-tahun itu membuat hatinya jadi berperang melawan seluruh anggota tubuhnya dan anehnya hatinya berhasil menang. Harin tahu jelas bahwa ia sedang dipermainkan, tetapi dia malah membiarkan dirinya untuk tetap tenggelam. Seolah berpura-pura buta dan tuli. Berpura-pura bodoh. Kadang Harin bertanya-tanya: apakah semua perempuan seperti ini? Soalnya Harin selalu mengutamakan perasaannya dibandingkan logikanya; dia selalu mengutamakan apa yang hatinya rasakan walau otaknya sudah berkali-kali mengumpat padanya karena tidak kunjung melepaskan diri dari siklus yang tak pernah berakhir ini. Harin pun naik ke lantai dua apartemen tersebut (apartemen itu hanya memiliki dua lantai dan tidak terlalu besar), lalu dia berhenti di depan sebuah pintu yang berada di tengah-tengah. Itu adalah apartemen kecil miliknya. Harin pun merogoh tasnya dan mencari kunci pintu apartemennya dengan terburu-buru. Dia ingin cepat-cepat masuk ke dalam apartemennya. Dia benar-benar muak dan kesal dengan semua yang telah terjadi, terlebih saat ini ia sedang merasa lelah. Ketika sudah berhasil masuk ke dalam apartemennya, Harin lantas menutup pintu depan apartemen itu dengan lumayan kencang. Dia langsung pergi ke kamarnya, meletakkan tasnya di atas meja belajar, lalu mengambil handuknya yang tergantung di sebuah gantungan handuk yang terletak di depan kamar mandi. Ia harus mendinginkan kepalanya. Setelah ini dia harus memakai sepasang baju tidur yang hangat, lalu tidur. Dia sungguh lelah hari ini. Urusan besok biarlah terjadi besok. Dia benar-benar butuh istirahat sekarang. ****** “Hah...” Harin mengerang tatkala baru saja keluar dari kamar mandi. Rasanya lega sekali; hampir separuh beban di tubuhnya seakan terangkat. Tubuhnya jadi segar. Dia pun mengeringkan rambutnya dengan handuk, mengusap-usapnya dengan gerakan cepat, sebelum tiba-tiba ponselnya berdering. Mata Harin melebar. Gadis itu kemudian mendekat ke arah meja belajarnya dan langsung merogoh tas kuliahnya tadi untuk mencari ponselnya. Tatkala ia berhasil membuka kunci pola ponselnya, dahinya tiba-tiba mengernyit. Ia melihat ada sebuah pesan dari tetangganya yang jarang sekali mengirimkan pesan kepadanya. Ini dari ibu-ibu yang ada di sebelah rumahnya. Harin pun membuka pesan tersebut. Bu Nam 08.02 P.M Harin, apakah laki-laki yang menunggu di luar itu pacarmu? —Read, 08.03 P.M Mata Harin membelalak. Hah? Di luar? Sebentar. Tidak mungkin, ‘kan? Harin sontak langsung berlari ke ruang tamu dan membuka tirai jendela yang mengarah ke bagian depan gedung apartemennya. Jendela itu berada tepat di samping pintu. Jika kau melihat melalui jendela itu, niscaya kau akan bisa melihat ke bawah sana. Mulai dari halaman gedung apartemen hingga ke luar pagar apartemen. Setelah itu, betapa terkejutnya Harin saat mendapati bahwa, …Jaekyung masih ada di sana. Dia tidak pulang! Spontan Harin langsung masuk ke kamar lagi dan mulai mencari baju tidurnya dengan cepat. Dia menggerutu kesal seraya bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa Jaekyung tidak pulang? Kan tadi aku menyuruhnya untuk pulang! Apa yang dia lakukan, berlama-lama di depan sana? Harin lalu memakai pakaiannya, menggantung handuknya kembali, dan menyisir rambutnya yang masih basah. Setelah selesai, dia pun mengambil kunci pagar, lalu keluar dari kamarnya dan berjalan menyusuri ruang tamu hingga akhirnya dia membuka pintu depan dan pergi ke luar. Saat keluar dari apartemennya—seraya menutup pintu yang ada di belakangnya itu—Harin menatap ke luar pagar seraya menghela napas. Kali ini dia benar-benar melihat Jaekyung ada di sana, masih berdiri di depan pagar apartemennya. Bedanya kali ini mobil sport berwarna hitam milik Jaekyung itu sudah terparkir di sana. Jaekyung duduk di kap mobilnya; kepalanya sedikit tertunduk dan kedua tangannya bersilang di depan d**a. Harin pun turun dari lantai dua. Dia berjalan menyusuri halaman depan apartemennya dan saat sampai di dekat pagar, ia pun mulai membuka kunci pagar tersebut. Tanpa ia sadari, suara yang ia timbulkan saat membuka kunci pagar itu sukses membuat Jaekyung menoleh. Pemuda itu lalu bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendekat ke pagar. Pagar itu sebenarnya sangat tertutup—tidak ada celah di antara besi-besi penyusunnya—jadi ia belum tahu itu Harin atau bukan. Tatkala pagar itu berhasil dibuka, Harin bisa melihat Jaekyung yang sudah berdiri tidak jauh di depannya; mata pemuda itu tampak sedikit melebar. Tatapan mata itu kemudian berubah menjadi tatapan yang sangat lembut tatkala ia mengetahui bahwa ternyata Harinlah yang membuka pagar. Harin pun meneguk ludahnya, lalu akhirnya tubuh gadis itu keluar sepenuhnya. Ia menutup pagar itu kembali sebelum akhirnya ia berjalan mendekati Jaekyung. Pemuda itu juga mulai berjalan ke arahnya. “Sayang,” sapa Jaekyung. Harin langsung mengernyitkan dahi. Dia mulai kesal lagi. “Kan aku sudah menyuruhmu untuk pulang. Apa yang kau lakukan di sini?” “…tapi kau datang menemuiku,” jawab Jaekyung, pemuda itu memiringkan kepalanya seraya tersenyum. “Ibu Nam yang tinggal di sebelah memberitahuku bahwa ada seorang lelaki yang sedang menunggu di depan pagar,” jelas Harin. “Kau membuat mereka jadi bertanya-tanya, Jaekyung! Pergilah sebelum orang lain merasa terganggu.” “Orang-orang yang tinggal di sini seharusnya sudah mengenaliku, Sayang,” jawab Jaekyung. “Aku sering datang ke sini; aku sering main ke apartemenmu, ‘kan? Itu sebabnya tetanggamu langsung menanyaimu, padahal ada perempuan lain di sini yang juga belum menikah.” Harin menggaruk kepalanya, padahal kepalanya tidak terasa gatal sama sekali. Dia jadi pusing sendiri. “Jadi, mengapa kau menunggu di sini, Jaekyung? Ada apa? Kan tadi aku sudah menyuruhmu untuk pulang…dan kau setuju.” Alih-alih menjelaskan, Jaekyung justru tersenyum miring. Entah mengapa, Harin mendadak bergidik. Melihat senyuman miring Jaekyung malam itu, di antara cahaya dari balik pagar dan sedikit bintang yang ada di atas langit, Harin terpaku di pijakannya. Lidahnya mendadak kelu. Dia benar-benar ingin tahu apa arti dari senyuman Jaekyung itu sampai-sampai ia tak sadar bahwa Kwon Jaekyung, kekasihnya itu, telah berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah yang perlahan tapi pasti. Saat posisinya sudah benar-benar dekat dengan Harin, Jaekyung mulai mengulurkan jemarinya untuk mengusap kepala bagian belakang Harin dengan penuh kasih sayang. Senyum miringnya itu berubah menjadi senyuman yang lembut, tetapi agaknya penuh dengan berbagai rahasia. Matanya menatap Harin dengan begitu dalam; usapannya di kepala Harin juga terasa sangat…nyaman. Beberapa saat kemudian, suara Jaekyung pun kembali terdengar. “If I’m a liar, then you shouldn’t believe a liar, Baby.” Itulah kalimat terakhir yang Harin dengar…sebelum akhirnya Jaekyung mencium bibirnya dengan sensual. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD