BAB 49

1085 Words

Haram Memiliki Anak (49) Pagi. Sebelum subuh, aku sudah bangun. Seperti janjinya, Mas Kisam tidur di teras mushola rumah sakit. Sementara aku tidur di dalam. Entah bagaimana juga Mas Kisam membujuk satpam hingga mengizinkan kami menginap di mushola. “Udah shalat?” tanya Mas Kisam. Aku mengangguk. “Mas?” “Udah. Kita cari sarapan dulu, ya.” “Barang-barangnya?” Aku melihat selimut, bantal, dan tas. “Gimana kalau ada yang ambil?” Kan nggak mungkin membawa barang-barang itu sambil cari makanan. “Tinggal ajah,” ucap Mas Kisam, entang. “Kalau ada yang ambil gimana?” “Nggak akan.” “Tapi—” “Kalau ada yang ambil, nanti kita ambil lagi.” Mas Kisam terkekeh kecil di akhir kalimatnya. “Ish!” “Ayo, kita harus sarapan. Ijabnya pukul enam tiga puluh. Seenggaknya kamu temenai Mas sarapan. Mas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD