Haram Memiliki Anak
Part 08
.
Syukurlah Mas Fauzi tidak menanyaiku lebih lanjut.
Hanya saja, Mas Fauzi menyatakan kurang suka kalau aku terlalu dekat sama Nia. Menurut pendapatnya, Nia membawa pengaruh buruk buatku. Aku mengiyakan saja.
Bakda shalat Maghrib, Mas Fauzi pamit lagi. Katanya mau bertemu klien. Sebenernya, Mas Fauzi jarang sekali bertemu klien malam-malam atau lewat Maghrib. Namun, aku tidak berusaha untuk menahan atau mencaritahu. Tim Mas Kisam yang akan mencari tahu semuanya.
Setelah Mas Fauzi pergi, aku segera mengabari Mas Kisam melalui chat WA. Mas Kisam membalas dan memintaku tetap tenang menunggu. Namun, entah kenapa aku tidak bisa tenang sama sekali. Jantungku berdentam-dentam tidak keruan. Antara tidak sabar dan takut kalau harus segera mengetahui kebenaran tentang Mas Fauzi.
???
Sekitar pukul setengah delapan, Mas Kisam mengirimkan sebuah foto. Di dalam foto, tampak Mas Fauzi berdiri di depan sebuah rumah. Seorang pria berdandan seperti orang pintar, lengkap dengan jari dipenuhi batu akik, menyambutnya.
Apa yang dilakukan Mas Fauzi?
Segera aku mengetik pesan, menanyakan apa yang sedang Mas Fauzi lakukan pada Mas Kisam.
[Belum tau, tapi mungkin ajah Pak Fauzi sedang konsultasi. Bisa juga hal ini berhubungan dengan ketidakinginannya memiliki anak. Mungkin sebagai syarat majunya usaha. Tapi itu baru spekulasi. Untuk lebih jelasnya kita tunggu Pak Fauzi pergi dulu dari rumah orang pintar itu. Nanti orang saya akan mendapatkan informasi dengan caranya sendiri]
Aku termenung beberapa saat.
Mas Fauzi pergi ke orang pintar?
Setahuku Mas Fauzi tidak pernah berurusan sama orang pintar selama ini. Lagipula, bukannya selama ini Mas Fauzi selalu mengatakan: pergi ke orang pintar itu tanda kemusyrikan dan keterbelakangan pengetahuan.
Apa selama ini sikap Mas Fauzi hanya topeng?
Ya Allah, hatiku gelisah.
Sembari menunggu kabar berikutnya, aku memutuskan untuk shalat Isya. Setelahnya aku berzikir, beristighfar, dan meminta ampunan kepada Allah Subhanahuwata'alla.
Tanpa terasa air mata mengucur membasahi pipi.
Kejadian akhir-akhir ini begitu aneh dan sukar untuk dipercayai.
Terlebih saat mengingat kekejam Mas Fauzi yang tega menggugurkan darah dagingnya sendiri, hatiku hancur. Tak habis mengerti kenapa Mas Fauzi bisa setega dan senekat itu.
???
Sekitar pukul sembilan, Mas Fauzi akhirnya pulang.
Aku segera membuatkannya teh manis hangat. Sembari duduk santai di sebelahnya, aku mencoba memancing kejujuran Mas Fauzi.
"Mas, kamu dari mana?" pancingku.
"Biasa, ketemu klien."
"Kok tumben, klien-nya nggak diajak ketemuan di rumah? Biasanya suka diajak main ke rumah?"
"Kan sekarang ada dedek. Takut ganggu." Mas Fauzi menjawab dengan tenang. Dia menyalakan televisi lalu menyeruput teh manis.
"Klien-nya laki-laki kan, Mas?" Sebisa mungkin nada pertanyaanku menggoda Mas Fauzi, bukannya menginterogasi dalam rangka mengorek informasi.
Aku tidak ingin Mas Fauzi curiga.
Mas Fauzi menatapku, lalu terkekeh. Dia mengelus dan menepuk-nepuk kepalaku. "Kamu cemburu, huh?"
"Jawab ajah, laki-laki apa perempuan?"
"Laki-laki, Sayang."
Aku mangut-mangut.
Apa mungkin ya orang pintar itu memang klien Mas Fauzi. Salah satu kerajinan tanah liat Mas Fauzi kan bergerak di bidang seni rupa atau patung. Bisa saja orang pintar itu menginginkan patung tertentu dari Mas Fauzi. Ya, bisa saja.
"O, iya, Mas. Aku udah ada nama buat dedek."
"O, ya," Mas Fauzi menegakkan posisi duduknya, "siapa?"
"Sofia ... Sofia Nurnajah."
"Wanita cantik cahaya surga," gumam Mas Fauzi.
"Gimana?"
"Bagus banget, Mas suka." Mas Fauzi mangut-mangut. "Ya, udah. Gimana kalau lusa kita buat sukuran. Buat bubur untuk nama dedek yang indah banget, seperti mamanya."
"Terserah, Mas. Aku ngikut ajah."
???
Menjelang larut, aku mengikuti saran Mas Kisam untuk tidak dulu memenuhi keinginan batin Mas Fauzi. Aku beralasan sedang haid. Semoga Allah tidak murka karena aku sudah melakukan dua dosa besar sekaligus. Berbohong dan menolak keinginan suami untuk berhubungan suami-istri.
Walau sudah telentang di atas kasur, aku tak dapat terlelap. Benakku terus mengawang pada apa yang dilakukan Mas Fauzi dengan orang pintar.
Apa mungkin Mas Fauzi melakukan pesugihan?
Apa mungkin alasan Mas Fauzi nggak mau memiliki anak karena takut dijadikan tumbal?
Mas Kisam.
Tanpa sadar ternyata aku terus mengharapkan Mas Kisam mengirimkan chat. Chat berisi penjelasan apa yang dilakukan Mas Fauzi dengan si orang pintar. Chat yang dapat mencerahkan pikiranku yang kelam.
Aku meraba ponsel yang ada di sisi bantal. Nihil. Mas Kisam belum mengirimkan pesan apa-apa.
Ya Allah, apa Mas Fauzi melakukan kesyrikan selama ini?
Layar ponselku berpendar.
Satu pesan WA masuk.
Dari Mas Kisam yang aku beri nama Ceu Kiki.
[Pak Pauzi datang menemui orang pintar untuk meminta pelet. Pelet supaya Mbak Citra tunduk dan patuh. Sekarang coba Mbak Citra periksa dompet Pak Fauzi. Hati-hati. Jangan sampai ketahuan. Kalau misal Mbak Citra takut, sebaiknya jangan memaksakan diri. Biar saya dan tim yang akan menyelidiki lebih lanjut.]
[Mas Fauzi udah tidur, saya akan periksa] Balasku.
Pelan-pelan, aku menyingkap selimut. Bergeser perlahan lalu melangkah berjinjit menuju meja rias. Di dekat meja rias tergantung pakaian Mas Fauzi yang tadi digunakannya untuk pergi menemui orang pintar.
Aku menatap Mas Fauzi untuk memastikan bawah dia benar-benar sudah tidur. Setelah yakin, dengan jantung berdebar, aku meraih celana katun formal Mas Fauzi, merogoh sakunya. Dapat.
Dompet kulit milik Mas Fauzi berhasil aku dapatkan. Jantungku semakin berdebar-debar. Dengan rasa penasaran yang membuncah, aku membukanya.
Astagfirullah.
Aku menutup mulut.
Mas Fauzi menyimpan fotoku yang sudah dicoert-coret.
Bukan hanya itu, dia juga menyimpan potongan menyan berukuran kecil. Juga ada botol kecil sekali berisi cairan merah.
Ya Allah.
Apa yang Mas Fauzi lakukan?
Apa sikap yang Mas Fauzi tunjukkan selama ini hanya topeng?
Tubuhku gemetaran.
Pikiranku rasanya semerawut.
Ya Allah, pria seperti apa sebenarnga Mas Fauzi.
"Citra!"
Jantungku berhenti berdetak.
Dengan cepat aku berbalik, Mas Fauzi duduk di tepi ranjang. Menatapku. Mimik wajahnya kelihatan aneh dan sukar diartikan.
"M-mas Fauzi." Aku menelan ludah.
Rasa takut menjalari seluruh tubuh.
Sesaat Mas Fauzi tetap bergeming. Dia menatapku juga dompet beserta menyan dan botol kecilnya.
Keheningan yang ganjil membuatku tertekan. Rasanya bulu kudukku meremang.
Mas Fauzi bangkit berdiri. Tatapannya mengunci mataku. Dia melangkah perlahan tanpa kata. Tubuhku rasanya lemas dan ingin ambruk saja. Namun, aku berusaha bertahan dengan bertumpu pada meja rias.
Ya Allah lindungi aku.
Ponselku kembali berpendar.
Perhatian Mas Fauzi teralihkan.
Mas Fauzi berbalik arah dan langsung meraih ponselku.
Bagaimana kalau itu pesan dari Mas Kisam!