Benarkah yang ayah Mella katakan? Aku hanya bisa terdiam. Di saat aku kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan, Mas Kisam datang. Dia melemparkan seulas senyuman. Menawan dan menenangkan. “Kenapa nggak masuk?” Mas Kisam berdiri tepat di sebelahku. Aku tersenyum kikuk. Pria berwajah kecil yang aku kira ayah Mella menatap Mas Kisam. Sorot matanya tajam. “Kisam, saya ingin bicara sama kamu.” Aku mendengar tarikan napas yang berat dari Mas Kisam. “Kalau Pak Mahendra hanya ingin membicarakan perihal Mella, lebih baik tidak usah. Saya tidak bisa menikahinya.” Mas Kisam sama sekali nggak berbasa-basi. Angin berembus lirih menerbangkan ketegangan ke udara. Mella turun dari mobil dan langsung berdiri di samping ayahnya. Gadis cantik dengan pakaian modis itu menatap Mas Kisam. “Tapi

