“Kenapa kakinya?” Cewek barbar yang sedang sibuk membebat pergelangan kaki kirinya dengan perban biocrepe tersebut mengangkat kepalanya dengan cepat. Mungkin ia agak terkejut karena tiba-tiba Ega sapa. Bahkan Ega sendiri sama terkejutnya dengan Manyari mengapa ia menyapa gadis itu duluan. Siang ini setelah istirahat makan siang, Ega hendak keluar sebentar untuk merokok di tempat favoritnya yang jarang dilalui mahasiswa. Bukan karena ia malu ketahuan merokok, tetapi karena kini ia bisa terhitung sebagai pengajar juga meski tidak terlibat secara langsung dalam proses belajar mengajar, ia tidak ingin memberikan contoh kurang baik pada mahasiswa Bapak. Meski Ega tahu jika beberapa orang diam-diam mengambil fotonya dari kejauhan dan menyebarkan di grup-grup obrolan yang tidak ada dosen di da

