15. Jeroan

1116 Words
Rhea benar-benar mau menangis. “Di depan kalian sudah ada bahan makanan yang harus kalian olah untuk tantangan kali ini. Seperti yang kalian lihat, semuanya adalah jeroan sapi. Ada paru, hati, otak, dan yang mungkin agak asing bagi kalian..torpedo sapi.” Bukan Bunda Ami lagi, kali ini Jendra yang memberikan penjelasan mengenai bahan makanan yang akan dimasak oleh kontestan pada tantangan mystery box kali ini. “Dari empat bahan makanan tersebut, setiap orang harus memilih dua bahan yang akan dimasak. Boleh dijadikan dua hidangan atau satu hidangan, sesuai kreasi kalian masing-masing.” Rhea menatap satu per satu jeroan di hadapannya. Dia sama sekali tidak tau harus memilih yang mana. Tidak punya bayangan harus dimasak apa jeroan sapi itu, bahkan tidak tau bagaimana rasanya karena seumur hidup, dia sama sekali tidak pernah memakan yang namanya jeroan sapi. Oh jangan kan makan, melihatnya sekarang saja Rhea sudah geli setengah mati. Dia melirik kontestan lain yang ada di dekatnya. Beberapa di antara mereka memiliki ekspresi yang sama dengan Rhea, tapi tidak sedikit juga yang nampak yakin. Gala adalah salah satu yang terlihat tenang. Bahkan lelaki itu sedang meneliti jeroan sapi di setiap mangkuk yang ada, kemudian memisahkan dua dari empat mangkuk itu. Sudah tau mana yang akan dia pilih untuk dimasak. “Pilih dengan bijak mana yang mau kalian masak, karena semua jeroan ini punya karakteristik yang beda-beda dan cara pengolahannya juga nggak sama. It's tricky, jadi jangan sampai pilihan kalian justru membawa bencana ke masakan kalian sendiri untuk challenge kali ini. Kalau sampai ada masakan kalian yang jadi bencana, saya akan langsung kirim kalian ke pressure test." "Betul kata Chef Jendra," sambung Chef Manuel. "Kalian harus memilih dua dari empat pilihan itu dengan bijak. Tidak ada ketentuan, kalian bebas mau mengkreasikannya jadi masakan Indonesia, Western, Chinese, atau. apapun itu. Dam seperti biasa, kalian juga bebas menggunakan bahan yang lain di pantry. Waktu memasak kalian adalah satu jam, dimulai dari...sekarang!" Rhea nge-blank. Betul-betul nge-blank. Satu menit pertama, beberapa kontestan yang lain juga sama seperti Rhea. Masih diam di tempat mereka dan berpikir harus dimasak apa jeroan sapi yang ada di hadapan mereka ini. Di lima menit setelahnya, mereka sudah mulai bergerak setelah menentukan pilihan masing-masing. Sementara Rhea masih nge-blank total memandangi jeroan-jeroan itu. Boro-boro memikirkan harus masak apa, Rhea saja masih belum tau harus memilih dua jeroan yang mana. Rasanya Rhea tidak sanggup. Sampai akhirnya, para juri menyadari Rhea yang masih belum bergerak dari tempatnya. "Mau sampai kapan jadi patung di sana, Rhea? Atau kamu mau nyerah dan langsung saya kirim ke pressure test? Atau langsung dikirim pulang ke rumah sekalian?" Teguran pedas Jendra membuat Rhea tersadar. "No, Chef," jawabnya sembari menggelengkan kepala dan merutuki diri sendiri dalam hati. Setelahnya, Rhea menentukan pilihan, kemudian berlari menuju pantry menyusul yang lain. Dia masih tidak tau mau memasak apa dan hanya bisa berharap, apapun yang dia masak nanti, semoga tidak akan mengirimnya ke pressure test. *** Satu jam yang baru saja berlalu adalah satu jam yang benar-benar membuat Rhea sakit kepala. Siapa sangka, ternyata harus mengolah jeroan sapi bisa membuatnya merasa seperti orang bodoh sedunia. Rhea rasa lah di antara semua kontestan, dia jadi yang paling buta tentang perjeroan ini. Di pantry, Rhea benar-benar panik, dan akhirnya mengambil semua bahan makanan yang terlintas di otaknya meski ia tidak tau akan seperti apa hasil masakannya nanti. Untungnya, Rhea masih bisa melewati tantangan itu dan menyelesaikan masakannya tepat waktu. Dari empat jeroan tadi, yang dipilih Rhea adalah paru dan hati sapi. Ia merasa dua bahan makanan itu adalah yang paling aman dibanding yang lain. Setidaknya, jauh lebih baik daripada otak dan torpedo. Rhea sama sekali tidak habis pikir pada mereka yang memilih dua bahan itu. Salah satunya adalah Gala yang dengan berani memilih otak dan hati sapi. Saat melewati meja Gala ketika dirinya hendak mengambil piring untuk plating, Rhea melihat masakan lelaki itu yang hampir jadi. Entah apa yang dimasak oleh Gala, yang pasti tidak ada lagi wujud otak dan hati sapi yang menjijikkan. Sudah terganti dengan hidangan yang terlihat seperti salah satu menu di fine dining restoran bintang lima. Sangat berbanding terbalik dengan masakan Rhea. Dia hanya terpikir untuk memasak oseng paru cabe hijau dan gulai hati sapi. Dua menu itu dihidangkannya bersama nasi dan sebisa mungkin di-plating se-fancy mungkin. Yah, setidaknya sekelas plating restoran Remboelan lah. Hanya saja, Rhea agak tidak yakin dengan masakannya sendiri. Meski tampilannya sudah dibuat secantik mungkin, tapi rasanya? Rhea agak sangsi. Dia belum pernah mengolah dua bahan makanan itu dan tidak tau apakah cara pengolahannya tadi sudah benar atau tidak. Untuk bumbu dari dua hidangan itu, Rhea bisa pastikan enak. Hanya saja untuk paru dan hati? Rhea tidak tau karena dia tidak sampai hati untuk mencicipnya. Jantung Rhea berdegup kencang ketika akhirnya tiba waktu penilaian juri. Kali ini, Rhea tidak berharap masakannya jadi yang terbaik di antara para kontestan. Dia hanya berharap masakannya aman dan tidak akan mengantarkannya ke pressure test. Dan Rhea juga berharap, semoga dia tidak dipanggil pertama. Setidaknya, dia harus melihat satu kontestan yang dinilai buruk dulu supaya tidak merasa buruk sendirian. Sayangnya... "Rhea, silahkan maju ke depan." ...keberuntungan tidak berpihak padanya. Ia yang dipanggil pertama kali, siapa lagi kalau bukan oleh Jendra. Sialan. Dengan perasaan gugup setengah mati, Rhea berjalan ke depan membawa piring masakannya. Setibanya di hadapan juri, hati-hati ia meletakkan piring itu ke atas meja di sana. Rhea bisa merasakan tatapan Jendra mengikutinya ketika melakukan itu semua. Dalam hati Rhea mengerang saat Jendra jadi yang pertama maju, mengambil sendok dan garpu untuk mencicipi masakannya kali ini. "Gimana tantangan kali ini, Rhea? Sulit?" tanya Jendra dengan nada datar. Rhea mengangguk kecil. "Lumayan, Chef." "Kamu nggak suka jeroan ya?" Rhea menggelengkan kepala. "Tapi sebelumnya pernah makan jeroan yang kamu pilih ini? Hati dan paru?" "Belum juga, Chef." Jendra mengangguk-angguk. Dengan sendok dan garpu di tangannya, dia meneliti menu masakan Rhea. "Apa yang kamu masak ini?" "Nasi dengan oseng paru cabe hijau dan gulai hati sapi." Seraya menyendok paru cabe hijau yang ada di piring, Jendra kembali bertanya, "Ini udah kamu cicip, kan?" Rhea tidak langsung menjawab. Dia memang sudah menyicip bumbunya, tapi dia tidak mencicip jeroan-jeroan itu karena merasa tidak sanggup. "Sa–" "Belum, kan?" Jendra memotong Rhea yang baru hendak menjawab. Lelaki itu tersenyum meremehkan dan menggeleng kecil, yang mana menurut Rhea super menyebalkan. Lalu, Jendra mencicipi menu pertama Rhea itu. Sendok masuk ke mulutnya, indera perasanya mencecap si paru cabe hijau itu. Kunyahan pertama aman, sedangkan di kunyahan kedua? Jendra menarik tisu yang ada di samping meja dan melepehkan masakan Rhea di sana. Jantung Rhea rasanya merosot ke bawah ketika Jendra meliriknya tajam. "Yang kamu masak ini paru sapi atau karet ban mobil?!" Satu kata untuk menggambarkan nasib Rhea saat ini; mampus.

Great novels start here

Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD