Author POV
Di waktu para bodyguard dari si lintah darat itu mengambil barang-barang kami. Saat itulah bantuan Allah datang. Ia mengirimkan seseorang untuk membantu kami.
“Tunggu..ada apa di sana kenapa ribut-ribut ? tanya orang itu pada santri di belakangnya.
“Saya tidak tau kiyai, tapi kelihatannya mereka sedang mengambil barang-barang Pak Firman.” Kata santri itu.
“Kalau begitu mari kita kesana dan bantu dia.” Ucap sang kiyai.
“Tafadlo.....” katanya lalu mengikuti langkah Pak Kiyai dengan cepat.
Penyelamat itu datang. Allah telah menyurhnya untuk datang ke keluarga Pak Firman. Dia adalah Kiyai Zaenal. Kiyai yang terkenal akan kedermawanannya. Beliau pun termasuk guru besar di kampung ini. beliau yang menyebarkan akidah-akidah islam di kampung ini dengan ceramahnya. Beliau pun memiliki beberapa lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, madrasah-madrasah. Beliau juga memiliki peternakan ayam dan bebek di kampung ini. dan masih banyak lagi beberapa usaha beliau.
“Assalamu’alaikum......”katanya dengan lembut.
“Wa’alaikumussalam Pak. pak Kiyai Zaenal.” Kata Firman sambil tetap menangis bersama sang istri.
“Ada apa ini pak kenapa barang-barang mereka dikeluarkan?” tanyanya menanyakan.
“Ah sudahlah hei kiyai Zaenal kau tak perlu ikut campur urusan ku. Ini urusanku dengan mereka yang tak bisa membayar hutang.” Katanya dengan sombong.
“Hutang memang harus wajib di bayar, tapi bisakah kau menagihnya dengan cara yang baik-baik, bukan malah seperti ini.” katanya.
“Aku tidak peduli mereka sudah ku beri waktu untuk melunasinya. Tidak ada toleransinya. Mereka harus membayar hutang 25 juta dan bunganya 50 juta.” Katanya dengan nada yang membentak.
“Astaughfirullah, ingat setiap yang membawa keuntungan, maka hukumnya riba. Kau telah melakukan riba. Ingat rezekimu tidak akan berkah jika kau melakukan itu.” Katanya.
“sudah jangan banyak bicara kau.” Katanya sambil menunjuk Kiyai Zaenal.
“Tolong kami pak Kiyai, tolong kami!!” kata Firman sambil bersujud di kaki Kiyai Zaenal beserta istrinya.
“Sudah, sudah bapak dan ibu bangun jangan seperti ini. Yang patut di sembah hanya Allah SWT.” Kata Kiyai Zenal sambil membangunkan Firman.
“Kalau begitu, biarkan saya saja yang membayar hutang mereka, Rif tolong ambilkan cek yang ada di tas saya!!” Kata Kiyai Zaenal.
Setelah beliau memegang ceknya, beliau meuliskan nominal uang 75 juta dan kemudian menandatangani cek itu.
“Ini cukupkan...jangan kau ganggu mereka lagi.”
“Cuih dasar orang miskin, makanya kalau gak bisa bayar ya jangan hutang.” Hardiknya.
“Ayo pengawal......kita pergi dan tinggalkan saja barang-barang tidak berguna itu.” kata nya sambil pergi tanpa meninggalkan salam.
“Wa’alaikumusalam.” jawab kiyai Zaenal dan santri yang bernama Arif itu.
“Terima kasih, terima kasih banyak Kiyai Zaenal. Tanpa ada njenengan bagaimana nasib keluarga kami, terima kasih.” Kata Firman sambil menangkupkan kedua tangan hendak mencium tang Kiyai Zaenal.
“Tidak, berterima kasihlah pada Allah. Karena Semua ini adalah Kehendak Allah. Saya hanya perantara. Ya sudah kami harus pergi Assalamu’alaikum.” katanya.
Keluarga Pak Firman dan Bu Titin sangatlah berterima kasih pada Kiyai Zaenal. Mereka merasa harus membayar kebaikan beliau. Mereka akan membayarnya dengan apapun yang mereka punya. Lega memang lepas dari genggaman Pak Roni si lintah darat itu. Namun rasa terima kasih dan niat balas budi itu akan membawa dampak pada kehidupan Hanifa.
☻☻☻