Bab 6

1185 Words
“Jadi mau sampai kapan kita di sini, Rian? sebulanan ini aku sudah berusaha untuk menghindari kontak dengan keluargaku. Keluargaku pasti marah besar padaku terutama adikku karena dia terpaksa harus menggantikanku untuk menikah,” omel seorang wanita berwajah kecil dengan rambut pendek berponi. “Loh, kok kamu malah jadi nyalahin aku? rencana kabur itu ‘kan rencana kita berdua, kamu juga terlibat dalam rencana ini Risa,” ucap seorang pria berwajah bulat dengan rambut pendek belah tengah. Usia Rian lebih muda dari Risa namun Rian agak risih bila harus memanggil Risa dengan sebutan kakak karena mereka berpacaran, bukan kakak adik, walaupun kekasihnya itu lebih tua 2 tahun darinya. Kekasihnya juga tidak masalah dengan itu. Risa dan Rian, sepasang kekasih yang saling mencintai itu nekat kabur dari rumah setelah mengetahui salah satu dari mereka akan dijodohkan. Mereka kini tengah terlibat pertengkaran kecil di sebuah kafe yang terletak di kota Surabaya. “Iya. Itu karena awalnya aku pikir kamu akan nikahin aku secepatnya kalau aku menolak perjodohan itu.” “Ya, aku bakal nikahin kamu kok. Tapi, sabar dulu. Kita biarkan masalah ini reda dulu. Sementara itu kita tinggal di sini dulu sambil mencari uang untuk kehidupan sehari-hari. Kita akan balik ke rumah setelah keadaan sudah membaik.” Risa menyunggingkan senyum miring. “Kamu pikir orangtuaku bakal nerima aku kalau aku balik ke rumah? kamu mah enak karena bukan kamu yang punya masalah di sini,” ucap Risa lalu membuang wajahnya, melipat tangan di depan d**a. Rian meraih tangan kekasihnya lembut hingga sang kekasih kembali menatapnya. “Kamu tenang dulu ya sayang. Kalau soal itu, serahkan saja padaku. Aku akan bantu kamu,” ucapnya lembut dengan tatapan teduh menatap sang kekasih. Mereka bertatapan cukup lama sampai Risa menarik tangannya ketika pelayan datang membawa pesanan mereka. Risa juga membenarkan letak topinya karena ia tiba-tiba menjadi sedikit canggung karena orang lain tiba-tiba datang. “Terus sekarang kita harus bagaimana? Apa kita harus mencari pekerjaan baru di sini? karena jujur tabunganku sudah semakin menipis,” tanya Risa setelah pelayan itu pergi. “Iya, kita perlu cari kerja, tabunganku juga semakin menipis sementara kita sepertinya akan tinggal di sini untuk beberapa bulan ke depan.” “Tapi bagaimana kalau aku tidak diterima orangtuaku saat aku kembali?” “Aku bakal membawamu pergi dan tetap menikahimu,” ucap Rian mantap. “Kamu janji?” “Aku janji. Kamu mau berjuang bersamaku 'kan?" Risa menghela napas lega sambil mengangguk pelan. Dia begitu percaya pada kekasihnya. “Oke. ya sudah kalau gitu, ayo makan.” Rian mengangguk lalu mulai menyantap makan siang mereka. “Oh iya, jadi bagaimana kabar adikmu sekarang? apa dia baik-baik saja setelah menikah dengan pria itu?” tanya Rian membuka pembicaraan setelah beberapa saat. Mereka memang sudah mengetahui berita itu sejak lama, mereka juga sudah kabur hampir sebulan lamanya namun mereka tidak mengetahui pasti bagaimana keadaan di sana. Sambil mengunyah makanan, bola mata Risa bergerak-gerak seperti sedang berpikir. “Hm, aku nggak tahu. Aku malu untuk menghubunginya karena bagaimanapun juga, akulah penyebab dia melepas masa lajangnya. Ya, semoga saja dia baik-baik saja di sana. Hidupnya pasti terjamin karena tinggal bersama orang kaya.” Rian mengangguk paham. *** Sementara itu di tempat lain, Reva sedang berada di rumah saja. Ia tidak ada kegiatan Minggu ini. Setelah mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi, ia tinggal menunggu hasilnya yang diperkirakan akan keluar Minggu depan. Tahun ajaran baru di perguruan tinggi juga akan dimulai kurang lebih sebulanan lagi jadi ia masih memiliki banyak waktu libur. Siang ini Reva sedang memasak untuk makan malam. Ia mengenakan apron pink agar pakaiannya tidak kotor. Hari ini ia sedang bersemangat untuk memasak. Sebenarnya memasak termasuk salah satu hobinya. Ia juga tidak suka bila setiap hari harus membeli makanan di luar walaupun Zidan tidak mempermasalahkannya. Zidan tidak pernah memaksanya untuk memasak. Rencananya ia akan membuat gulai ayam dengan tempe orek untuk makan malam nanti. Sambil menggoreng tempe di tungku kompor sebelah kanan, tungku satunya lagi ia gunakan untuk memasak gulai. Dengan lihai tangannya mengolah bumbu dan bahan masakan menjadi sebuah makanan lezat dalam waktu 1 jam. Ia mengusap keringatnya dengan lengan bajunya setelah mematikan kompor. “Ah, akhirnya selesai juga,” gumamnya seraya tersenyum sambil memandang hasil masakannya yang tampak lezat. “Oke, waktunya bersih-bersih.” gumamnya lalu bergerak membersihkan pantry dan sekitar kompor gas, menyapu sekitar dapur dan juga ruang makan lalu mencuci peralatan dapur yang kotor. Melakukan pekerjaan rumah tangga seorang diri benar-benar melelahkan namun untungnya ia sudah terbiasa membantu mamanya di rumah sebelum menikah jadi ia melakukannya semuanya dengan senang hati tanpa merasa terbebani sama sekali. Jam 5, semua pekerjaan selesai. Reva akhirnya bisa bersantai. Ia mengambil duduk di ruang keluarga, berniat menonton tv. Setelah menghidupkan tv, ia meraih ponselnya yang tadi ditinggalkannya di atas meja. Ternyata ada sebuah pesan masuk dari suaminya sejak 1 jam yang lalu. Zidan: Hari ini aku mungkin pulang agak larut karena ada yang harus aku urus di perusahaan. Aku akan makan malam di luar jadi kalau kamu mau makan malam nanti, pesan saja makanan untukmu sendiri. Reva pun segera membalasnya. Reva: Oke Om, terima kasih sudah ngabarin tapi aku masak hari ini. Reva kembali meletakkan ponselnya ke atas meja setelah membalas pesan, mengerucutkan bibirnya. Entah kenapa ada sedikit rasa kecewa ketika Zidan mengabarkannya bahwa ia akan makan di luar padahal hari ini ia sudah capek-capek masak. Ting! Ponselnya berbunyi sekali menandakan sebuah pesan masuk. Zidan: Baguslah kalau begitu. Ia sontak mendengus ketika membaca pesan dari Zidan yang singkat itu dan mengabaikannya. Tak mau ambil pusing, ia pun kembali meletakkan ponselnya lalu memilih untuk fokus menonton. *** Keesokan paginya Reva terbangun jam 7 pagi. Setelah meregangkan tubuhnya sejenak, ia keluar dari kamarnya. Rumah terasa sepi, biasanya juga begitu pasalnya di rumah hanya tinggal mereka berdua namun Reva penasaran apa suaminya sudah berangkat kerja sepagi ini mengingat semalam Zidan pulang jam 1 malam, apa pagi ini ia harus berangkat kerja pagi-pagi sekali juga? Reva melangkahkan kakinya ke depan, mengintip keluar dari balik gordeng, tampak mobil Zidan sudah bergerak keluar dari perkarangan rumah. “Cepat banget perginya. Kenapa enggak bangunin aku buat kunci pintu coba, gimana kalau tiba-tiba ada orang jahat masuk,” gumam Reva seraya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengunci pintu. Ia pun kembali ke kamar untuk memeriksa ponselnya, ternyata tadi ada panggilan masuk dari Zidan dan juga sebuah pesan darinya. Zidan: Cepat bangun dan tutup pintu, aku mau berangkat kerja. “Bagaimana orang mau bangun coba kalau cuma dikirim chat gini, kenapa nggak gedor pintu kamarku aja buat bangunin. Dasar orang sibuk.” Ting! Reva tersentak ketika bel rumah berbunyi. “Eh, siapa ya? Apa dia balik lagi? apa ada yang ketinggalan?" Reva bergegas kembali ke depan. Ceklek! “Halo, selamat pagi!” sapa seorang wanita dewasa yang berpakaian sederhana sambil menenteng tas besar. Wanita itu datang bersama seorang pria dewasa yang kelihatannya lebih tua darinya. Reva memperhatikan dua orang di depannya dengan dahi berkerut, sepertinya ia tidak pernah melihat dua orang ini sebelumnya, mencoba untuk tersenyum ramah. “Oh iya, selamat pagi. Maaf kalian siapa ya? dan ada perlu apa?” tanya Reva hati-hati. Ia takut bila dua orang di hadapannya ini hendak berniat jahat terlebih dia lagi sendirian di rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD