“Saya hanya berharap kalau Anda bisa mempermudah proses merger perusahaan bank milik keluarga kami saja, Pak Thomas.” Satu permintaan bernada politis itu akhirnya Clarissa lontarkan secara lugas di paruh akhir makan malam mereka. Dia tidak ingin menyia-nyiakan momentum emas ini, mengingat ada jalinan transaksi bisnis berskala besar yang sedang berjalan di antara korporasi finansial keluarganya dan gurita bisnis keluarga Hadiningrat. Di balik kedok perhatiannya yang luar biasa manis terhadap masa depan Samudra, Clarissa tetaplah seorang putri konglomerat yang tahu betul bagaimana cara memanfaatkan situasi demi meraup keuntungan materi yang nyata bagi dinasti bisnisnya sendiri. Thomas Jaya Hadiningrat semakin tertawa lebar mendengar kalimat blak-blakan dari calon menantunya. Suara tawanya

