Cklek. Bunyi klik dari gagang pintu kamar tidur utama memutus kesunyian ruang tengah. Pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Maura yang melangkah keluar dengan penampilan yang seutuhnya berbeda. Hari ini, dia telah mengenakan kemeja putih katun yang disetrika rapi, dibalut oleh rok bahan hitam selutut, serta jas almamater kebanggaan universitas berwarna biru gelap yang terpasang kokoh di pundak ringkihnya. Rambut cokelat panjangnya terikat rapi ke belakang, memperlihatkan gurat lehernya yang kini bersih, tidak ada jejak tekanan pisau buah kemarin pagi. Wajah piasnya tampak jauh lebih berseri dan bertenaga daripada beberapa hari kemarin yang kuyu dipenuhi keputusasaan. “Kak Anin! Semangat!” Raka yang sedang duduk di sofa ruang tengah seketika berseru nyaring saat mendapati sang ka

