Bab 88

3348 Words

“Kakak minum obatnya dulu!” Suara cicitan nyaring dari Raka seketika menghentikan gerakan jemari Maura yang tengah bersusah payah mengancingkan kemeja flanelnya. Gadis itu menoleh patah-patah, mendapati tubuh kecil adiknya yang kini berdiri tegak lurus menghadang jalan di depan ambang pintu ruang tengah. Dengan sepasang tangan kurusnya yang terlihat lemah samar-samar, anak laki-laki itu menyodorkan dua butir pil yang diambilnya dari atas nakas kamar tidur, bersanding dengan segelas air putih hangat yang terisi penuh hingga ke batas gelas. Sial! Satu-satunya jalan pintas yang dipikirkannya sejak pagi tadi ternyata sama sekali tidak membuang hasil. Maura semakin mendesah gusar didera keputusasaan yang kian memadat di dalam dadanya. Dia hanya bisa berdiam diri di sudut perpustakaan pusat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD