“Pertanyaannya sederhana, seberapa sering kamu menghadap saya untuk asistensi saat proses pengambilan data primer berlangsung?” Samudra menarik punggung tegapnya, menyandarkannya pada bantalan kursi kulit yang berderit tipis. Kedua lengan kekarnya terlipat di depan da-da kemeja kelamnya, menciptakan siluet intimidasi yang seketika mereduksi pasokan oksigen di sekitarnya. Sepasang obsidian pekat di balik kelopak matanya yang menyipit menghunus lurus, dingin dan setajam mata pisau yang siap menguliti sendi-sendi keberanian kedua mahasiswi di hadapannya. Buku-buku jari Maura saling meremas di balik lipatan roknya. Gelombang kecemasan yang sejak tadi mengintai kini memukul dadanya telak. Ia merutuki keputusannya sendiri karena niat baik yang didasari rasa tidak enak hati kepada teman sekelas

