“Sudah sampai nih, Mbak, Mas,” suara sopir taksi membuyarkan lamunan Maura. Taksi itu telah berhenti tepat di depan lobi utama Hotel Amarta yang megah. Vino bergerak cepat, menyodorkan beberapa lembar uang sebagai ongkos. “Makasih ya, Pak,” ucapnya sopan. Ketiganya melangkah keluar, disambut oleh semilir angin malam yang membawa aroma kemewahan hotel bintang lima. Begitu masuk ke area lobi yang didominasi marmer dan pilar-pilar tinggi, mereka sempat tertegun sejenak. Suasana di dalam sangat ramai oleh orang-orang berpenampilan necis, membuat ketiganya celingukan mencari arah yang tepat. “Biar aku tanya bellboy aja deh,” ujar Sisilia. Tak lama kemudian, ia kembali dengan senyum lebar. “Katanya di lantai tiga. Ayo, jangan sampai telat!” Mengikuti kerumunan tamu lainnya, mereka bergegas m

