Samudra Reynand Hadiningrat berdiri mematung di ambang pintu kamar mandi yang baru saja ia tinggalkan. Sepasang manik mata elangnya bergerak lambat, menyusuri koordinat ruang tengah apartemen yang kini diselimuti keheningan yang begitu kaku. Pandangannya lantas terkunci rapat pada sosok di sudut sofa beludru. Di sana, Maura hanya bisa duduk meringkuk, memposisikan tubuh ringkihnya sekecil mungkin seolah sedang bersusah payah menghilang dari pandangan Samudra. Kedua belah telapak tangannya yang mendingin tampak masih mencengkeram sangat kuat belahan kain kemeja flanelnya yang sudah compang-camping, terpisah dari deretan kancing plastik yang tadi terlempar berhamburan di atas lantai marmer. Cengkeraman jarinya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat, bertindak sebagai tameng tera

