Bab 94

2292 Words

Dalam pemikiran Samudra Reynand Hadiningrat, skenario kepulangannya sore ini sudah terstruktur dengan sempurna di luar kepala. Dia membayangkan bagaimana Maura Anindya akan memandangnya dengan sepasang manik mata cokelat yang dipenuhi binar kekaguman yang masif. Gadis jelata itu pasti akan bertekuk lutut pasrah, melayangkan runtunan kalimat terima kasih yang sarat akan rasa utang budi yang mendalam atas penyelesaian masalah beasiswanya yang bisa dibereskan hanya dalam hitungan menit di bawah tumit otoritasnya, tepat setelah dirinya angkat bicara di ruang rektorat tadi. Samudra sangat menyukai bayangan kekuasaan mutlak seperti itu. Gegas, langkah panjang kakinya yang dibungkus sepatu pantofel mahalnya segera membawa tubuh tegapnya masuk ke dalam kabin jok belakang taksi konvensional yang t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD