"Ah!"
Maura tersentak, mengeluarkan desa.han panjang yang menyedihkan saat pagutan kasar pria itu terlepas. Ia meraup oksigen dengan rakus, paru-parunya terasa terbakar. Jemarinya masih mencengkeram bahu kekar Samudra, berpegangan pada satu-satunya pilar yang mencegah tubuh lemasnya jatuh ke lantai klub yang kotor.
Wajah Maura memanas, jantungnya berdentum melampaui ritme musik yang merobek telinga. Ia merasa telan.jang di bawah tatapan pria ini.
"Sepertinya kau pera.wan sampai tidak tahu caranya membalas ciumannku, Nona?"
Suara Samudra rendah, nyaris seperti geraman predator di telinga Maura. Napas pria itu tidak terengah, tetap tenang dan teratur, sangat kontras dengan Maura yang berantakan.
Maura membeku. Ia menundukkan kepala sedalam mungkin, mencoba menyembunyikan rasa malu yang membakar.
"Benar rupanya," Samudra mendengus sinis. Tanpa peringatan, ia mendorong tubuh Maura hingga gadis itu jatuh terjerembap di sofa kulit yang dingin. "Menyingkir. Aku bukan pria yang punya cukup kesabaran untuk mengajarimu dari nol."
Samudra hendak berbalik, mengabaikannya seolah Maura hanyalah sampah yang tidak menarik. Namun, ketakutan akan kehilangan satu-satunya akses "perlindungan" atau mungkin rasa harga diri yang terluka membuat Maura bertindak nekat. Ia mencengkeram tangan besar Samudra.
"Tidak! Ak—aku udah pernah melakukannya... Sam."
Samudra berhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Maura dengan mata yang memicing tajam, penuh ketidaktertarikan yang menghina. Maura menelan ludah, lalu dengan keberanian yang dipaksakan, ia berdiri dan menarik kerah kemeja Samudra. Ia mencium bibir pria itu—rakus, berantakan, dan putus asa.
"Eugh!" Maura memekik pelan saat Samudra tiba-tiba membalas ciumannya dengan satu gigitan kasar di bibir bawahnya. Bukan gigitan lembut, melainkan sebuah klaim yang menyakitkan namun memicu aliran panas ke sekujur tubuh Maura.
Tangan besar Samudra meluncur turun, mencengkeram pinggang ramping Maura yang hanya terbalut busana sutra tipis. Cengkeramannya begitu kuat, hingga Maura yakin jejak jari pria itu akan tertinggal di sana besok pagi.
"Panggil aku Sam. Dan jangan pernah berbohong padaku lagi tentang pengalamanmu, Kelinci Kecil," bisik Samudra tepat di depan bibir Maura yang bengkak.
Bruk!
Dalam satu gerakan efisien, Samudra mengunci tubuh Maura di bawah kungkungannya. Sofa itu terasa menyempit saat tubuh besar Samudra menindihnya, mengurungnya di antara dua lengan yang sekeras baja.
“Sam, serius lo mau coba barang baru di sini?!” seru salah satu teman Samudra dari balik kepulan asap cerutu.
“Ya ampun, Sam udah enggak tahan setelah Hannah pergi,” timpal yang lain sambil tertawa c***l, sembari tangannya bergerak liar di balik gaun wanita yang bergelayut padanya.
Samudra tidak peduli. Ia mengabaikan sorakan teman-temannya. Matanya hanya tertuju pada leher jenjang Maura yang berdenyut hebat. Ia membenamkan wajahnya di sana, menghisap kulit sensitif itu dengan intensitas yang membuat Maura mematung.
“Sam… sebentar…” Maura mulai panik saat merasa tangan Samudra merayap naik ke pahanya. “Ki—kita bisa pesan hotel, kan? Jangan di sini.”
Samudra berhenti sejenak. Deru napasnya yang hangat menyapu permukaan kulit leher Maura. Pria itu tidak menjawab. Ia justru memberikan satu kecupan basah di urat nadi Maura, seolah sedang menghitung detak jantung gadis itu yang tidak beraturan.
“Sam… kumohon. Aku enggak mau jadi tontonan.”
Samudra akhirnya menarik tubuhnya. Ia duduk tegak di samping Maura yang gemetar, wajahnya kembali menjadi topeng es yang tak terbaca. Ia merogoh ponselnya, menekan satu nomor dengan gerakan otoriter.
"Siapkan Presidential Suite di Selanggar Jaya. Sekarang," perintahnya dingin, lalu mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban.
Maura segera bangkit, jemarinya yang gemetar berusaha membetulkan tatanan gaunnya yang tersingkap tinggi. Ia menunduk dalam-dalam, merasakan tatapan Samudra yang masih menguliti setiap inci tubuhnya.
"Rapikan dirimu," ucap Samudra sambil berdiri dan mengancingkan kembali kemejanya yang berantakan. "Karena setelah kita sampai di sana, aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk bernapas."
Samudra tidak membiarkan Maura bernapas lega. Dengan satu sentakan otoriter, ia menyeret Maura keluar dari ruang VVIP yang pengap itu. Di ambang pintu, Madam Anni sudah menunggu dengan senyum jumawa yang memuakkan, wajahnya yang kaku akibat prosedur operasi plastik tampak berkilat di bawah lampu kristal.
“Astaga… akhirnya Anda memilih permata kecil ini, Tuan Samudra?” goda Madam Anni, matanya menilai Maura seperti seonggok daging mahal.
Samudra tidak berhenti. Ia hanya melemparkan tatapan sedingin es yang sanggup membekukan aliran darah wanita itu. Ia tidak berminat pada basa-basi. Genggaman tangannya di jemari Maura justru semakin mengerat, membuat Maura merasa kecil, rapuh, dan sepenuhnya dimiliki.
“Hey, Nak, ingat janjimu. Dua puluh persen adalah jatahku,” bisik Madam Anni saat Samudra melewatinya. “Silakan nikmati malam Anda, Tuan. Dia masih sangat... segar.”
Maura ingin bumi runtuh dan menelannya saat itu juga. Harga dirinya hancur ber keping-keping, diperjelas oleh ucapan Madam Anni yang menjadikannya objek transaksi.
"Masuk."
Perintah itu pendek, namun tajam. Samudra membukakan pintu Rubicon hitamnya yang gagah. Maura memanjat naik dengan tubuh gemetar. Begitu pintu tertutup, keheningan yang mencekam langsung menyergap. Suhu AC yang dingin menusuk kulit bahunya yang telanjang, membuatnya menggigil. Maura merapatkan kedua lengannya, mencoba menutupi diri dari tatapan tak kasat mata yang seolah menguliti setiap inci tubuhnya.
Bodoh. Kau terlalu nekat, Maura. Ia merutuki kebohongannya sendiri. Mengaku sebagai wanita ahli ranjang pada pria seperti Samudra adalah tiket menuju neraka.
"Berapa usiamu?"
Suara berat Samudra memecah keheningan, menggetarkan ruang sempit di dalam mobil. Maura menoleh, hanya bisa melihat siluet rahang tegas Samudra yang diterangi lampu jalanan yang melintas cepat.
"Apa kau bisu, Nona?" desis Samudra, suaranya mengandung ancaman yang tertahan.
"Eung... dua puluh satu tahun,Om--Sam." Maura segera meralat ucapannya saat melihat kilatan tajam di mata pria itu.
Samudra tetap fokus menyetir, namun aura dominasinya memenuhi kabin mobil hingga Maura merasa sulit bernapas.
"Berapa bayaranmu?"
Maura terdiam. Lidahnya kelu. Ia tidak tahu bagaimana cara menentukan harga untuk sesuatu yang bahkan belum pernah ia lakukan.
"Aku tidak suka mengulang pertanyaan, Maura," tekan Samudra, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang menakutkan.
"A-aku enggak tahu, Sam. Berikan aja yang cukup... adikku harus dioperasi," bisik Maura, menunduk dalam sambil meremas jemarinya sendiri hingga memutih.
Samudra berdecih sinis, tawa pendek yang merendahkan keluar dari bibirnya. "Banyak orang menggunakan drama kesedihan untuk memeras uang. Rupanya kau salah satu pemain yang pandai, hm?"
Maura menggigit pipi dalamnya, menahan sesak yang menghantam dadanya. Ia tidak punya pilihan selain membiarkan Samudra berpikir seburuk itu tentangnya.
BRAK!
Pintu mobil terbanting keras saat mereka sampai di pelataran Selanggar Jaya.
"Turun."
Samudra keluar tanpa menunggu, langkah lebarnya membuat Maura harus setengah berlari untuk mengekor di belakangnya. Di lobi hotel bintang lima itu, kehadiran Samudra disambut seperti kedatangan seorang raja.
"Selamat datang kembali, Tuan Samudra. Reservasi Presidential Suite Anda sudah siap," ucap resepsionis dengan nada memuja. Samudra hanya menyodorkan kartu identitasnya dengan gerakan malas namun penuh otoritas.
Staf hotel sempat melirik Maura yang berdiri gelisah di belakang Samudra—menilai gaunnya yang terlalu terbuka dan wajahnya yang pucat. Maura hanya bisa menunduk, mencoba menghilang di balik punggung lebar Samudra.
"Cepat proses. Aku tidak punya waktu untuk obrolan sampah," potong Samudra dingin.
Begitu kartu akses di tangan, Samudra melangkah menuju lift. Maura mengekor bagai bayangan yang ketakutan. Di dalam lift yang berlapis cermin, Maura terpaksa melihat pantulan dirinya yang berantakan di samping Samudra yang tampak begitu sempurna dan mematikan.
"Kamu kerja atau kuliah?" tanya Samudra tiba-tiba, matanya mengunci Maura melalui pantulan cermin.
Maura terpesona sejenak. Dalam jarak sedekat ini, ketampanan Samudra terasa tidak nyata—rahang yang tegas, hidung mancung yang aristokrat, dan bibir yang...
"Ku-kuliah. Sedang pengajuan proposal skripsi," lirih Maura, cepat-cepat memutuskan kontak mata.
"Angkat wajahmu."
Perintah itu mutlak. Sebelum Maura bisa bereaksi, tangan besar Samudra sudah mencengkeram rahangnya, memaksa kepalanya terdongak. Dalam satu gerakan brutal namun presisi, Samudra mendesak tubuh Maura hingga punggung gadis itu membentur dinding lift yang dingin.
Samudra tidak iymembuang waktu. Ia menyambar bibir Maura, melumatnya dengan gairah yang tergesa-gesa dan penuh tuntutan. Maura terkesiap, tangannya secara insting mencengkeram kemeja Samudra saat lidah pria itu menginvasi mulutnya dengan kasar, menghisap sisa napas dan harga dirinya dalam satu ciu-man yang menghancurkan.
Di dalam lift yang bergerak naik, Maura tidak bisa mengendalikan sikap Samudra yang menggebu-gebu sampai pria itu tiba-tiba saja mengangkatnya dan memaksa kakinya melingkar di pinggang pria itu.
"Sam… tu—turunkan, nanti ada orang melihat," bisik Maura dengan suara yang gemetar hebat. Kedua tangannya merangkul leher Samudra dengan sisa kekuatan yang ia miliki, merasa ngeri saat menyadari betapa tingginya mereka sekarang.
Samudra tidak berhenti melangkah keluar dari lift pribadi yang langsung menghubungkan ke unit Presidential Suite miliknya. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan tanpa emosi.
“Lift ini khusus, Maura. Hanya aku yang memiliki aksesnya,” ucap Samudra, suaranya rendah dan bergetar di da-da bidangnya yang keras. “Kalau aku ingin kita berciuman atau melakukan lebih dari itu di dalam sini pun, tidak akan ada yang berani mengganggu.”