Jam sudah menunjuk kan pukul 12.30 siang, Putih langsung melangkah kan kaki nya menuju kanitn sekolah seharus nya jam segini Soraya sedang menyantap makan siang nya di kantin. Saleh tidak boleh tau akan keberadaan nya disini, Saleh pasti akan sangat marah jika tau Putih kembali datang ke sekolah ini.
Dari kejauhan Putih melihat ke arah gudang yang terkunci rapat dengan kisah kelam yang ada di dalamnya.
“Kak tolongin Putih,” ujar Putih kepada Jasmine dari seberang telepon nya.
“Kenapa lo?” tanya Soraya acuh tak acuh.
“Ada yang kunci in Putih di gudang kak, tolong bukain,” ujar Putih sambil menangis.
“Hm, ya udah gue kesana,” ujar Jasmine yang tidak bisa di percaya oleh Putih, ia kira rencana nya ini tidak akan berhasil, tapi ternyata ia salah.
Jasmine mulai melangkah kan kaki nya dari ruang rapat osis menuju gudang yang Putih maksud. Ia tau selama ini ia memang selalu jahat terhadap Putih, tapi biar gimana pun juga, Putih tetap lah adik nya. Semakin ia beranjak dewasa semakin ia sadar kalau membenci Putih hanya karena mereka berbeda ayah tidak ada guna nya.
“Putih,” panggil Jasmine dari luar, namun tidak ada jawaban.
Tangan nya menyingkir kan tangkai sapu yang bertengger di gagang pintu gudang tersebut lalu membuka pintu untuk membebas kan Putih dari dalam sana.
“Put, lo dimana?” Jasmine beranjak masuk ke dalam gudang tersebut untuk mencari Putih.
Gudang ini benar benar gelap dan berdebu, banyak sekali buku buku bacaan yang ter geletak tak ter rawat disana. Jasmine juga dapat melihat tas tas sekolah yang sudah usang masih tersusun rapi di dalam sebuah kotak yang ada di ujung ruangan itu.
Tubuh Jasmine melompat terkejut akibat pintu gudang yang tiba tiba menutup dan mengunci dengan sendiri nya. Sambil berteriak histeris, Jasmine menggedor gedor pintu tersebut sambil meminta tolong.
Ia benar benar benci dengan kegelapan, kalau tau Putih hanya akan mengerjai nya, seharus nya Jasmine tidak perlu datang bermaksud baik untuk menolong adik nya itu.
“Jasmine,” panggil seseorang dengan suara serak tepat di telinga Jasmine.
Sebisa mungkin Jasmine berusaha untuk melihat ke sekitar nya namun tidak bisa karena gelap. Spontan tangan nya mengambil ponsel yang ada di saku baju seragam nya.
Jasmine mulai menyala kan senter di ponsel nya dan mengarah kan cahaya itu perlahan ke lingkungan yang ada di sekitar nya, ia dapat melihat banyak sekali barang barang yang masih bagus namun sudah usang bergeletakan disana.
“Jasmine,” panggil orang itu lagi, spontan Jasmine langsung mengarah kan senter nya ke arah samping kanan tubuh nya tempat dari mana suara itu berasal.
Perempuan itu menghela nafas nya lega saat mengetahui tidak ada orang disana.
Ia harus cepat cepat keluar dari tempat ini, Jasmine sendiri pun tau kalau sekolah ini terkenal angker, jika dia berada di dalam ruangan gelap ini dalam waktu yang lama ia pasti akan menemu kan hal hal yang lebih menyeram kan lagi.
Mata nya melihat ke arah linggis yang tergeletak di lantai lalu mengambil nya. Perempuan itu meletak kan ponsel nya di meja samping kanan agar bisa tetap menyinari dia di dalam gelap.
Sebisa mungkin Jasmine mengguna kan linggis tersebut untuk membuka paksa Pintu gudang tersebut.
Seketika hawa dingin menyelimuti tubuh Jasmine, ia dapat merasa kan ada yang sedang memperhatikan diri nya di sebelah kanan.
Jasmine menghadap kan kepala nya secara perlahan ke arah kanan, mulut nya menghembus kan nafas lega saat tidak menemukan siapa pun ada disana. Tangan nya bergerak mengambil telepon genggam milik nya lalu tiba tiba saja senter yang semula hidup menjadi mati.
“Anjr*it!”
Jasmine berusaha menghidup kan senter itu kembali, namun entah kenapa ponsel nya sulit sekali untuk di kendali kan. Gerakan Jasmine terhenti saat telinga nya tiba tiba mendengar suara cekiki kan dari ujung rak buku yang ada di depan nya.
Sebenar nya Jasmine sendiri pun enggan untuk pergi mengecek siapa yang berada disana, namun rasa penasaran yang sangat kuat menyelimuti diri nya dan membuat kaki nya melangkah maju dan mengecek tempat sumber suara itu berasal.
Betapa terkejut nya Jasmine saat melihat se sosok mayat tergantung di atas langit langit gudang tersebut.
Spontan kaki Jasmine langsung berlari ke arah pintu dan menjerit ketakutan, ia membuka paksa pintu tersebut lalu menangis histeris saat sudah berada di luar. Putih yang melihat kejadian tersebut tertawa terbahak bahak melihat ekspresi wajah Jasmine yang begitu ketakutan.
“Mampus lo!” ujar Putih tanpa mengeluar kan suara.
Lamunan Putih terhenti saat melihat Soraya, murid perempuan yang ia cari untuk di berikan pada Kajiman, masuk ke dalam gudang sendirian. Putih dapat melihat dengan mata kepala nya sendiri kalau pintu yang terkunci dengan rapat itu tiba tiba terbuka sendiri nya.
Lantas Putih pun langsung berlari mengejar Putih agar tidak masuk ke dalam gudang terkutuk itu. Ia tidak bisa memberi kan anak yang istimewa itu pada Jasmine. Putih tau pasti, jika Jasmine berhasil mendapat kan Soraya, maka dendam yang ia pendam terhadap Putih selama ini pasti akan terbalas kan.
“Sedang apa kamu disini?” ujar Saleh tidak suka sambil menarik tangan Putih mendekati nya.
“Mas?!” sahut Putih terkejut.
Perempuan itu benar benar merasa kesal. Kenapa di saat yang seperti ini, Putih malah harus bertemu dengan Saleh.
“Kan sudah mas bilang untuk tidak datang ke sekolah ini lagi, kamu mau terluka lagi ya?”
“Maaf mas, Putih cuma—“
“Cuma apa? mas gak nerima alasan kamu Put, sekarang kamu pulang. Bukan nya kamu bilang hari ini mau bawa kembar ke kampung?”
“Udah mas, Putih udah bawa mereka pulang ke kampung,” ujar Putih berbohong, sebenarnya Roni masih ada di rumah dengan keadaan tak sadar kan diri, sedang kan Rena ada di rumah ayah nya bersama dengan Adi.
“Terus kamu kapan mau ketemu ayah kamu?”
“Ini Putih mau ketemu mas dulu, mau pamit,”
Putih kembali melihat ke arah gudang yang sudah kembali terkunci dengan rapat, diri nya bertanya tanya dimana keberadaan Soraya saat ini, apakah perempuan itu berada di dalam atau kembali tersadar dan meninggal kan gudang tersebut.
“Ya sudah mas antar pulang aja ya, kamu naik apa ke sini tadi?”
“Gak usah mas, Putih bisa sendiri kok, lagi pula Putih mau ke tempat ayah langsung,”
Saleh mengangguk sekilas lalu mengecup puncak kepala Putih dengan lembut.
“Ya sudah, hati hati di jalan ya sayang,” ujar Saleh yang di balas anggukan patuh dari Putih.
“Ada sesuatu yang beda dari istrimu,” ujar seseorang yang selalu mengikuti Saleh di belakang nya kemana pun dia pergi.
“Iya pak, aku tau,” balas Saleh menjawab perkataan lelaki itu.