Fitri melangkah kan kaki nya menuju gerbang sekolah, wajah nya tampak lesu seperti biasa, sejak hari dimana mereka melakukan jurit malam di gedung angker komplek rumah nya, Fitri tidak pernah bisa tidur dengan tenang, di tambah lagi Soraya dan Ucok yang tak kunjung masuk ke sekolah.
Sebenar nya Fitri ingin sekali menghubungi mereka, namun rasa bersalah yang di pendam nya terus menerus menghalangi Fitri untuk menghubungi kedua teman nya itu, kalau saja ia tidak meng iya kan ajakan Soraya waktu itu, pasti hubungan mereka bertiga tidak akan jadi se rumit ini.
Langkah kaki Fitri terhenti saat dia melihat tiga perempuan yang paling di takuti di sekolah ini berjalan melewati nya sambil membawa seorang murid perempuan dengan penampilan cupu dan kaca mata petak yang menggantung di hidung nya.
“Aduh, sakit,” ringis anak perempuan itu sambil memegang rambut nya yang di tarik paksa oleh salah satu dari mereka.
“Mampus lo!”
Fitri kenal sekali dengan geng pembully itu, Amanda, Carisa, dan Addara. Tiga anak kesayangan ketua yayasan yang latar belakang keluarga nya pun memiliki kekuasaan yang tidak main main di kota ini.
Bagaimana bisa anak dari wakil rakyat berlaku keji seperti itu? Fitri benar benar tidak habis pikir dengan tingkah laku mereka.
Sebuah ide cemerlang tiba tiba saja muncul di kepala Fitri, tangan nya merogoh tas ransel yang ia sandang lalu mengambil ponsel milik nya dan merekam kejadian di depan nya itu. Kalau tidak di buat seperti ini mereka pasti tidak akan berhenti mengganggu anak anak lain yang ada di sekolah.
Sebenarnya Fitri pun merasa takut karena sampai sekarang tidak ada seorang pun yang berani melawan ketiga bidadari berhati iblis itu. Fitri pun tidak begitu tau kenapa, tidak mungkin hanya karena latar belakang mereka yang sangat berkuasa semua orang jadi takut pada mereka.
Pasti ada hal lain.
Meskipun tau tindakan nya itu dapat membahaya kan diri nya sendiri, lengan Fitri tidak kunjung turun, malah ia membiarkan diri nya terus merekam kejadian tersebut hingga ke depan pintu toilet.
Ia dapat melihat sendiri Amanda menampar perempuan culun itu lalu meludahi wajah nya sambil tertawa. Perempuan itu terlihat benar benar seperti seorang psikopat, Fitri mengambil rekaman dengan sangat baik saat Carisa mengambil sebuah pel lalu mengelap wajah mangsa mereka dengan kain kotor itu.
“Muka lo kok b***k banget sih! Sini gue bersihin,” ucap Carisa lalu tertawa puas.
Perempuan itu semakin menguat kan suara tangisan nya. Sebenar nya ingin sekali Fitri masuk dan membantu perempuan itu, namun ia tau, ia tidak akan berhasil mengalah kan mereka bertiga jika masuk ke dalam.
Meski pun tidak bisa membela secara langsung setidak nya Fitri dapat membantu dengan cara ini.
“Eh, ngapain lo?!” sahut Addara yang mulai sadar dengan keberadaan Fitri.
Spontan Fitri langsung menghenti kan rekaman nya dan melarikan diri nya agar tidak terkena serangan dari geng gila itu.
“Siapa?” tanya Amanda.
“Gue juga gak kenal, tapi kaya nya tadi dia ngerekam kita,” ucap Addara menjawab pertanyaan Amanda.
Mendengar perkataan teman nya itu membuat wajah Amanda langsung merah padam di penuhi dengan rasa emosi. Tangan nya mengambil gayung yang berisi air dingin lalu menyiram nya dengan kasar tepat di wajah anak perempuan yang ada di depan nya.
“Semua ini gara gara lo!” jerit Amanda penuh amarah.
“Kalo lo gak berisik, gak bakalan kejadian kaya gini!” ujar nya lagi lalu melempar gayung di tangan nya itu ke arah kepala perempuan itu.
“M-maaf,” ujarnya ketakutan.
“Mulai hari ini sampai seterus nya, hidup lo disini gak bakalan tenang!” ancam Amanda tanpa keraguan sedikit pun.
Kalau rekaman itu sampai mencuat ke media, papa nya pasti gak segan segan untuk menghabisi nyawa Amanda saat itu juga.
“Kejar dia,” perintah Amanda pada Carisa dan Addara.
Ke dua teman nya itu pun mengangguk lalu berlari mengejar Fitri sesuai perintah dari Amanda, sebenar nya mereka sendiri pun tidak mau kalau sampai nama mereka ter cap sebagai pembully di sekolah, satu satu nya cara agar citra mereka tetap terjaga adalah dengan menangkap Fitri lalu menghancur kan rekaman yang ia rekam barusan.
“Sini lo!” jerit Amanda lalu kembali menjambak perempuan di depan nya dengan sangat kasar untuk bangkit berdiri.
Amanda masih merasa tidak puas untuk menyiksa anak perempuan ini. Entah kenapa dia sangat benci dengan anak anak culun yang lebih pintar dari nya, kalau mereka ada disini, posisi Amanda sebagai peringkat satu umum di sekolah akan terancam, dan kalau sampai tamat nanti dia tidak bisa mempertahan kan posisi nya itu, ibu nya pasti tidak akan mengizin kan Amanda untuk pergi melanjut kan studi nya di Korea Selatan.
Ia sangat ingin menjadi seorang artis, apalagi artis Korea yang terkenal sangat cantik dan memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia. Sudah bertahun tahun dia mempersiap kan diri nya untuk mimpi nya itu, tentu saja ia tidak akan membiar kan kaum kaum kutu buku di sekolah nya ini merenggut kesempatan nya untuk meraih mimpi.
Tangan nya dengan kuat mencebur kan wajah perempuan itu ke dalam bak kamar mandi. Menurut Amanda perlakuan nya yang seperti ini pasti akan membuat anak culun itu stress dan jadi malas belajar, kalau hal itu terjadi tentu akan menjadi ke untungan yang sangat besar buat Amanda.
Tak henti henti nya Amanda menenggelam kan kepala teman nya itu ke dalam air sambil tertawa puas tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Tubuh anak culun itu yang awal nya masih memberontak hebat kini terdiam dan terjatuh dengan lemas di lantai.
Cepat cepat Amanda mengangkat kepala anak perempuan itu dari dalam bak, mata nya melihat ke arah wajah anak perempuan itu yang sudah terlihat pucat dengan bibir membiru.
“Woi! Bangun gak lo!” ujar Amanda kesal.
“Jangan pura-pura mati anj*ng!” Amanda mulai menepuk nepuk wajah perempuan itu perlahan, berharap besar agar anak itu akan segera bangun dan kembali hidup.
“BANGUN BANGS*T!!!” sahut nya penuh amarah sambil menendangi perut perempuan itu dengan kaki nya.
Rasa takut mulai menyelimuti hati Amanda, ia tau betul kalau saat itu perempuan di depan nya sudah mati.
Dan untuk pertama kali nya Amanda harus menerima kenyataan bahwa dia telah menjadi seorang pembunuh.
Tanpa Amanda sadari se sosok perempuan sedang memandangi diri nya sambil tersenyum dari belakang, dengan kejadian ini, maka bencana yang biasa ia lakukan setiap enam belas tahun sekali akan segera di mulai.