Beberapa hari kemudian, Luna sudah tenggelam dalam desain. Ia memesan swatch material, mencari inspirasi, dan mulai membuat sketsa konsep "Taman Janji Baru" yang akan menjadi inti Proyek Sembilan Pilar. Proyek ini terasa seperti nafas baru, sebuah terapi di tengah pernikahan tanpa cinta.
Namun, semangatnya membuatnya melanggar aturan tak tertulis. Suatu malam, ia meninggalkan tumpukan katalog desain di meja ruang tamu.
Keesokan paginya, tumpukan itu menghilang. Di tempatnya, terdapat sebuah catatan rapi dari Arka:
“Tumpukan material desain di ruang tamu melanggar Protokol Keselarasan Estetika. Denda 5 juta. Harap pindahkan aktivitas non-esensial ke Studio Gudang Anda. Saya harap Anda mulai memahami bahwa gairah harus diatur. - A.D.”
Luna menahan tangisnya. Ia tidak menangis karena denda, melainkan karena Arka benar-benar menghitung setiap kesalahan kecilnya menjadi nilai uang.
Sambil menghapus air mata, Luna membalas Arka dengan menempelkan post-it berwarna pink cerah di pintu kamar Arka:
“Denda diterima. Tetapi gairah, Tuan Arka, tidak akan pernah bisa diatur. Anda akan melihat hasilnya. – L.A.”
Arka melihat post-it itu saat ia hendak pergi ke kantor. Ia melepaskannya dengan kesal dan menyimpannya di saku jasnya—sebuah tindakan yang sangat tidak efisien dan tidak sesuai dengan protokolnya sendiri.
Di kantornya, Arka menerima laporan dari David. Laporan itu mencatat denda 5 juta dan balasan post-it Luna yang berani.
Arka tersenyum kecil, lalu menghapusnya dengan cepat.
Ia mengirim pesan teks ke David, tanpa menyertakan denda 5 juta itu: David, kirimkan anggaran tak terbatas kepada Nyonya Luna untuk Proyek Sembilan Pilar. Catat sebagai 'Dana Cadangan Efisiensi Aset.' Pastikan dia tidak menyadarinya.
Arka, si CEO yang dingin, diam-diam telah melanggar prinsipnya sendiri. Ia mulai memproteksi gairah Luna, bukan mengendalikannya. Ini adalah tindakan protektif rahasia pertamanya, sebuah tanda bahwa bentengnya mulai retak. Luna telah memulai permainannya, dan Arka tanpa sadar sudah masuk ke dalamnya.
Luna menghabiskan sisa minggu itu dengan menyusun strategi. Ia tahu ia tidak bisa melawan Arka secara langsung CEO itu terlalu kuat, dan kontrak itu adalah senjata yang sah. Satu-satunya cara adalah menemukan celah.
Ia mencermati Protokol Residensial, mencari klausul yang tidak melarang dirinya bekerja di luar jam-jam yang ditentukan untuk acara publik. David, yang kini sering menjadi perantara komunikasi antara pasangan yang dingin ini, adalah sumber informasinya.
"David," kata Luna suatu pagi di dapur, saat Arka sedang meeting via video conference di ruang kerjanya. "Tunjukkan pada saya jadwal Anda untuk Arka dalam seminggu ke depan."
David, seorang asisten yang efisien namun tampak lelah, menunjukkan tabletnya. "Penuh, Nyonya Luna. Ini semua agendanya, rapat dewan, kunjungan pabrik. Ia pulang larut malam setiap hari."
"Dan Protokol Residensial hanya mewajibkan saya hadir di acara publik dan menjaga kenyamanan residensial. Ia tidak melarang saya bekerja pada jam-jam di mana ia sedang 'mengendalikan aset' di luar penthouse, bukan?" tanya Luna, matanya berbinar licik.
David terlihat cemas. "Secara teknis... tidak. Tetapi, Tuan Arka sangat menghargai stabilitas estetika. Ia akan menghitung 'nilai ketenangan' setiap propertinya." Ucapnya sedikit ragu.
"Itu berarti, selama saya bekerja diam diam di studio dan tidak meninggalkan kekacauan, saya aman," Luna menyimpulkan. "Saya menemukan celah." Gumamnya sambil tersenyum sinis
Celah itu adalah waktu luang: malam hari, saat Arka tenggelam dalam bisnisnya, dan pagi buta, sebelum ia bangun. Luna mulai menggunakan waktunya dengan bersemangat. Ia menghubungi klien desain lamanya secara rahasia dan mulai menyusun proposal untuk Proyek Sembilan Pilar proyek pembangunan kembali area kumuh yang dipercayakan kepada Dirgantara Group melalui Yayasan amal mereka.
Luna melihat proyek itu sebagai kesempatan: jika ia bisa membuktikan nilai profesionalnya di ranah amal yang 'non-komersial', Arka tidak bisa mendendanya.
Namun, semangat Luna segera terdeteksi oleh Arka. Arka tidak melihat Luna secara fisik, tetapi ia merasakan pergeseran energi di rumah. Ia melihat lampu studio Luna menyala hingga pukul 03.00 pagi, dan ia melihat tumpukan buku arsitektur yang Luna pesan berserakan di ruang baca, melanggar Klausul Keselarasan Estetika.
Di malam keempat, Arka menunggu Luna di ruang tamu saat Luna kembali dari studio.
"Jam 03.15 pagi. Anda terlihat kelelahan, Nyonya Luna," kata Arka, mengenakan piyama sutra hitam dan membaca laporan. Nada suaranya dingin, tetapi matanya menahan kemarahan.
"Saya bekerja, Tuan Arka. Tidak ada klausul yang melarang bekerja larut malam," balas Luna, mencoba melewati Arka ke kamarnya.
Arka menutup laporan itu dengan bunyi 'prak'. "Kelelahan Anda mengurangi nilai penampilan Nyonya Dirgantara. Itu melanggar Protokol Citra Publik: Klausul 2.c."
"Saya tidur delapan jam sehari," Luna berbohong.
"Laporan tidur Anda tidak sinkron dengan data jam kerja studio Anda," Arka membalas, seolah ia memiliki sensor tidur yang dipasang di penthouse. "Kurangi jam kerja Anda. Jika Anda terlihat pucat di acara Gala Jumat, saya akan mengaktifkan denda Pelanggaran Citra senilai 50 juta rupiah per hari."
Ancaman itu membuat Luna bergidik. Ia tahu Arka tidak main-main.
"Anda hanya ingin mengontrol saya, Arka," bisik Luna.
"Saya ingin memastikan aset saya efisien," balas Arka. "Jangan lupa, Proyek Sembilan Pilar harus sempurna. Kegagalan atau keterlambatan adalah denda yang lebih besar lagi."
Arka bangkit, membuang laporan itu ke meja. "Ada satu ruangan di penthouse ini yang dilarang dimasuki, Luna. Ruangan di lantai bawah, di dekat gudang utilitas. Itu adalah Ruangan Arsip Pribadi. Melanggarnya akan langsung memutus kontrak tanpa peringatan."
Peringatan itu terasa aneh. Mengapa Arka begitu keras tentang Ruangan Arsip Pribadi?
"Mengapa saya harus masuk ke Ruangan Arsip usang Anda?" tanya Luna.
Arka tidak menjawab. Matanya menjadi gelap, dan ia berjalan ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi. Arka hanya ingin memberikan peringatan tertinggi, memancing Luna untuk bertanya, dan membuat Luna takut.
Namun, peringatan itu hanya menumbuhkan rasa penasaran Luna. Apa yang disembunyikan Arka di balik pintu terkunci itu?
Keesokan harinya, David membawa Luna ke Proyek Sembilan Pilar, yang merupakan reruntuhan sebuah gudang Dirgantara yang terbakar bertahun-tahun lalu—tempat yang diisukan menjadi penyebab trauma Arka.
Saat melihat reruntuhan gudang itu, Luna bertekad: ia akan mengubah tempat ini menjadi sesuatu yang indah, sekaligus menjadi jembatan untuk memahami trauma Arka.
Luna kembali ke penthouse. Ia tersenyum pada Arka yang sedang menonton berita ekonomi di ruang tamu.
"Saya akan menyelesaikan Proyek Sembilan Pilar tepat waktu, Tuan Arka," janji Luna. "Dengan efisiensi yang sentimental."
Arka hanya menatapnya, bingung dengan istilah barunya. Di belakang punggung Luna, Arka mengirim pesan kepada David: Cari tahu setiap pergerakan Nyonya Luna di Proyek Sembilan Pilar. Jangan biarkan dia melakukan kesalahan. Laporan harus sampai di meja saya setiap jam.
Arka, si CEO yang menjunjung tinggi Protokol, kini harus melanggar aturannya sendiri demi melindungi aset yang semakin ia dambakan gairah Luna.