NILAI SEBUAH GAIRAH

1076 Words
Luna merasa seolah-olah ia tenggelam dalam keheningan yang mahal.Setelah insiden sarapan yang tegang, Arka berangkat ke kantor dengan pengawalan yang mulus, meninggalkan Luna sendirian di penthouse yang luasnya terasa seperti museum. Perabotan minimalis, dinding putih gading, dan seni kontemporer yang berharga di setiap sudut. Semuanya sempurna, steril, dan mematikan gairah. ​Ia mencoba bekerja dari home office yang telah disediakan—sebuah ruangan berkaca dengan meja kayu solid. Namun, jari-jarinya kaku di atas sketsa. Di apartemen lamanya, ia dikelilingi oleh palet warna, kain, dan sisa kopi, kekacauan yang menghasilkan kreativitas. Di sini, kekacauan adalah musuh. ​Ponselnya berdering. Itu adalah Farah, mantan manajer studio dan teman baiknya, yang kini bertindak sebagai agennya. ​“Luna Anindya, kau di mana? Aku melihat liputan pernikahanmu seperti film kerajaan! Kenapa kau tidak memberiku detail apapun?” seru Farah tanpa basa-basi. ​Luna tersenyum paksa. “Itu hanyalah formalitas, Farah. Semuanya baik-baik saja.” ​“Baik-baik saja? Kau baru saja menikah dengan CEO paling sulit di Asia! Terserahlah. Aku menelepon untuk urusan pekerjaan, dan ini besar. Sangat besar,” nada suara Farah berubah serius. “Ingat klien yang selalu kita impikan, PT. Sembilan Pilar? Mereka sedang mencari desainer utama untuk proyek revitalisasi kawasan bersejarah di Jakarta lama. Ini bukan hanya mendesain kafe, Lun. Ini membangun kembali identitas.” ​Jantung Luna berdebar. Proyek Sembilan Pilar adalah mimpinya. Itu adalah kesempatan untuk menggunakan keahliannya dalam skala besar, memberikan sentuhan modern pada warisan. ​“Farah, itu gila. Bukankah mereka mencari nama-nama besar dari luar negeri?” ​“Tadinya begitu. Tapi salah satu dewan mereka melihat desainmu yang kubawa di pameran bulan lalu dan terpukau. Ini kompetisi, tapi kau sudah masuk ke shortlist teratas. Kau harus segera menyusun presentasi konsep. Proyek ini butuh komitmen penuh, termasuk perjalanan lapangan ke luar kota untuk riset material dan wawancara penduduk lokal.” ​Luna merasakan euforia yang sudah lama hilang. Ini adalah identitasnya. Ini adalah Luna Anindya. ​Namun, di tengah euforia itu, terlintas bayangan mata dingin Arka dan kalimat fatal di Babak I Kontrak Pernikahan: “Aktivitas profesional wajib disetujui oleh Pihak Pertama (Arka) dan tidak boleh mengganggu komitmen sosial dan citra Dirgantara Group.” ​“Aku harus... bicara dengan Arka dulu, Farah. Ini akan rumit,” bisik Luna, suaranya dipenuhi kekecewaan yang akan datang. ​ ​Luna menghabiskan waktu berjam-jam menyusun argumennya, menyiapkan presentasi digital tentang mengapa Proyek Sembilan Pilar akan meningkatkan, bukan merusak, citra Dirgantara Group. Ia bahkan menyertakan analisis tentang bagaimana desain berbasis budaya dapat membuka segmen pasar baru bagi Arka. ​Saat Arka kembali, ia tidak menyambutnya di pintu itu bukan bagian dari kontrak. Ia menunggu di ruang belajar Arka, tempat segala keputusan bisnis dan takdir dibuat. ​Arka masuk, melemparkan tas kerjanya ke sofa kulit dengan gerakan yang presisi. Aroma kayu cendana yang mahal dari jasnya memenuhi ruangan. Ia melihat Luna duduk di kursi tamu, tablet di tangannya. ​“Anda melanggar Protokol,” ujar Arka tanpa basa-basi, tanpa melepaskan dasinya. “Pukul 17:30 seharusnya adalah waktu istirahat yang tenang sebelum makan malam resmi. Bukan waktu untuk menghadap saya di ruang kerja.” ​“Ini penting, Tuan Dirgantara,” kata Luna, bangkit dan melangkah ke meja kaca besar. “Saya mendapat tawaran. Proyek Sembilan Pilar. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk mendesain kawasan bersejarah. Ini akan mengangkat profil saya, dan secara tidak langsung, memberikan sentuhan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan citra perusahaan Anda.” ​Arka akhirnya menatapnya, ekspresinya datar. Ia mengambil tablet dari tangan Luna, lalu mulai membaca draf proposalnya. Luna mengamati bagaimana matanya yang tajam memindai setiap baris, tidak mencari kreativitas, melainkan mencari celah risiko. ​Setelah keheningan yang terasa seperti berabad-abad, Arka meletakkan tablet itu dengan suara klik yang mematikan di atas meja. ​“Ditolak,” kata Arka, sesingkat mungkin. ​Luna terhuyung mundur selangkah. “Ditolak? Kenapa? Saya sudah menunjukkan bahwa ini akan memberikan publisitas yang positif, bukan negatif.” ​“Analisis Anda cacat, Luna. Proyek ini membutuhkan komitmen waktu dua belas bulan, dengan enam bulan di antaranya adalah on-site dan membutuhkan perjalanan. Klausul 3a dengan jelas menyatakan bahwa Nyonya Dirgantara harus tersedia untuk semua acara sosial yang direncanakan. Anda tidak bisa berada di lapangan sementara saya menghadapi dewan direksi.” ​“Saya bisa mengatur waktu saya!” ​“Tidak,” tegas Arka, melipat tangannya di d**a. “Anda tidak bisa. Ini adalah proyek infrastruktur publik yang akan selalu menjadi sorotan. Jika terjadi penundaan, protes warga, atau kegagalan desain—yang mana risiko Anda tinggi karena ini adalah proyek pertama Anda di skala ini, perihal itu akan mencoreng nama baik Dirgantara Group. Saya tidak mengizinkan itu.” ​Luna merasakan air mata frustrasi yang panas di matanya. “Jadi saya harus berhenti menjadi diri saya sendiri? Saya harus duduk di sini dan menjadi istri boneka yang hanya bisa tersenyum di acara amal dan memilih taplak meja? Apakah itu nilai saya?” ​Arka menghela napas, seolah berhadapan dengan anak kecil yang merengek. “Nilai Anda, Luna, adalah menjamin stabilitas saya selama tiga tahun. Gairah Anda adalah hobi yang harus dilakukan di waktu luang, bukan profesi yang mengancam kontrak yang menyelamatkan keluarga Anda. Ingat, kontrak ini ditandatangani untuk melunasi utang keluarga Anda, bukan untuk memenuhi ambisi pribadi Anda.” ​Kata-kata itu, diucapkan dengan nada tenang tanpa sedikit pun amarah, menghantam Luna lebih keras daripada tamparan. Arka baru saja merampas harga dirinya. ​“Anda benar,” ujar Luna, suaranya bergetar. “Saya lupa bahwa saya hanya aset. Saya lupa bahwa Anda memandang seni dan kreativitas sebagai ‘hobi’.” ​Ia berbalik, berjalan menuju pintu, tetapi berhenti. “Tapi Tuan Dirgantara, Anda salah besar. Saya tidak akan membatalkan mimpi ini. Saya akan mencari celah lain. Dan jika saya berhasil, saya akan memastikan bahwa Anda melihat sendiri betapa bernilainya gairah ini.” ​Arka menatap punggung Luna yang menghilang. Ia tahu bahwa ia telah menyakiti Luna, dan ia telah berhasil mengendalikan risiko. Namun, ruangan itu terasa lebih dingin dan kosong dari sebelumnya. Ia mengambil tablet itu lagi, melihat sekilas skema warna dan detail arsitektur Luna yang berani. ​"Proyek Sembilan Pilar," gumam Arka. Ia meraih teleponnya, mendial nomor keamanannya. "Cari tahu siapa saingan Luna dalam proyek Sembilan Pilar. Dan pantau setiap pergerakan mereka. Bukan untuk sabotase, hanya... untuk informasi." ​Arka tidak bisa membiarkan Luna mengambil proyek itu, tetapi ia juga tidak bisa menahan diri untuk memastikan bahwa tidak ada yang berani menyakiti 'aset' yang kini mulai terasa seperti ancaman bagi kendali dirinya sendiri. Perang baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD