Bab 9

1729 Words
Kedua tangan Ardi terkepal begitu erat melihat kepergian Fani, tak ada yang menyadari jika raut cowok itu perlahan menyendu. Rara yang melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu langsung bertindak, dirinya merangsek maju menghampiri Ardi yang masih menatap kepergian Fani. "b******k! Lo bener-bener b******k, Ar!" amuk Rara dengan wajah merah menatap Ardi. Cowok yang menjadi sumber masalah di kehidupan Fani. Ardi seketika mengalihkan tatapannya, hingga kini mata tajamnya itu memandang Rara. "Eh dijaga yah kalau ngomong!" sentak Shela marah yang kini berdiri di samping Ardi dengan tangan yang bergelayut manja di lengan si cowok. "Diem lo, plastik! Gue nggak ngomong sama lo." sentak Rara balik dengan mata yang melotot tajam, membuat Shela menganga kaget tidak percaya. "Sumpah demi Tuhan. Gue bener-bener benci sama lo, Ar. Cowok b******k, b******n yang bisanya cuman nyakitin sahabat gue doang!" sembur Rara marah yang benar-benar terlihat murka. Jelas saja dirinya marah, bisa-bisanya cowok di depannya memerlakukan Fani yang notabene sahabatnya seperti itu. Memainkan perasaan Fani dengan seenaknya, lebih baik sahabatnya itu tidak usah kembali pada Ardi kalau pada akhirnya selalu makan hati. Setelah mengatakan kata-kata tersebut, Rara segera pergi meninggalkan kantin dengan kedua tangan yang setia memegang kedua mangkuk bakso. Dia tidak mungkin menaruh bakso yang telah dibelinya begitu saja, dia lebih memilih membawanya meskipun dengan susah payah harus naik-turun tangga. Tapi tidak masalah buatnya, karena dia tahu yang dibutuhkan Fani untuk saat ini adalah makanan. Dan benar saja, Rara menemukan Fani di dalam kelas dengan wajah keruh. "Si Fani kenapa, Ra? Gue sampe di bentak sama dia." tanya Bian begitu melihat Rara yang baru saja masuk ke dalam kelas. Dirinya pun langsung menghampiri teman sekelasnya. "Ck elo sih, gak liat apa muka Fani gelap gitu. Pake di tanya lagi," Bian menggaruk belakang kepalanya. "Yah kan gue nggak tahu, lagian gue cuman tanya dia abis dari mana, eh gue malah di semprot." "Ckckck rasain lo, udah ah gue mau taruh ini dulu." sahut Rara kembali melangkah menuju bangkunya. Rara menaruh dua mangkuk bakso di depan Fani. Ia lalu duduk di samping Fani sambil memandang wajah sahabatnya itu yang memang begitu gelap, gelap karena suasana hatinya yang begitu kacau. Dia maklum dengan kondisi Fani karena jika dirinya menjadi Fani pun, dia akan melakukan hal yang sama. Nasihat untuk membuka hati pada cowok lain baginya percuma saja. Moveon itu susah kalau dirinya benar-benar cinta, di sodorin cowok segimana sempurnanya jika bukan cowok yang kita cintai tetap saja tidak akan berhasil. Maka dari itu baik Maria maupun dirinya tidak pernah menyuruh Fani untuk moveon. "Jadi... Langkah apa yang sekarang akan lo ambil?" tanya Rara begitu melihat Fani yang mulai melahap bakso pesanannya. Fani diam saja sambil mengunyah makananya, malas membalas perkataan Rara. "Gue nggak akan nyuruh lo buat moveon, semua keputusan ada di tangan lo. Yang pasti gue sama Maria akan selalu dukung lo." sahut Rara lagi dengan senyum tulusnya. Fani yang sedari tadi hanya diam memakan bakso nya seketika terdiam mencerna ucapan Rara. Cewek itu menoleh ke kiri di dapatinya wajah sahabatnya yang sedang tersenyum tulus kepadanya, membuat perasaan Fani tersentuh dan ikut tersenyum juga. "Thanks, Ra." _ _ _ _ _ "Di... Tunggu dong!" seru Shela yang kini tengah berjalan setengah berlari mengejar Ardi. Ardi seolat tuli, dia tidak menanggapi panggilan Shela. Cowok itu malah terus berjalan menuju parkiran, tempat di mana ia menyimpan motor besarnya. Begitu dirinya sampai, lengannya pun berhasil di tarik oleh Shela. Ardi yang benar-benar sudah muak dengan tingkah cewek di belakangnya, seketika menyentak tangannya membuat tangan Shela terlepas seketika. "Lo harus nganterin gue pulang!" Ardi diam saja membelakangi Shela, cowok itu sibuk menyalakan mesin motornya. "Elo udah keterlaluan, Shel!" kata Ardi tiba-tiba membuat Shela mengerutkan keningnya bingung. "Apa yang lo lakuin ke Fani?" tanya Ardi tajam sambil membalikkan tubuhnya sehingga mereka kini berhadapan. Ardi menatap Shela dengan tatapan menusuk, sedangkan Shela menatapnya dengan raut polos. "Maksud elo apa sih, Di?" Pertanyaan Shela tak di jawabnya, dia masih memandang Shela dengan pandangan menusuknya. Membuat Shela merasa takut akan tatapan Ardi, ia perlahan membuka suara. "Aku nggak ngomong macem-macem sama dia. Aku cuman bilang berdasarkan fakta, dia memang mantan kamu kan yang gagal moveon dan dia juga nggak bisa masak. Cuma itu, dan dia terlalu baper jadi cewek!" serunya kesal. Bagaimana dirinya tidak kesal jika sampai saat ini, Ardi masih perhatian pada cewek itu. "Inget yah, Di. Aku nggak mau kamu deket-deket sama Fani apalagi sampai balikan. Kalau nggak, kamu tahu kan akibatnya?" ujarnya lagi dengan seringai licik yang membuat Ardi semakin muak kepada cewek di depannya. "Dan sekarang, kamu anterin aku pulang." "Lo pulang aja sendiri!" balasnya sambil menaiki motor sportnya. Shela jelas tidak terima, bagaimana pun caranya dirinya harus pulang dengan Ardi. Seolah keberuntungan berada dipihaknya, ia tak sengaja menoleh ke belakang melihat Fani yang tengah berjalan bersisian dengan Rara. Senyum culas terbit di wajah cantik yang tebal dengan makeup-nya. "Beneran lo nggak mau anterin gue? Di belakang ada Fani tuh yang mau ke sini. Lo yakin gak mau pulang bareng gue?" Ardi seketika melayangkan tatapan tajamnya pada Shela namun cewek itu seolah tidak takut akan tatapannya. Yakin jika Ardi telah mengizinkannya untuk pulang bersamanya, membuat Shela menyunggingkan senyum puas. Ia segera menaiki motor Ardi kemudian memeluk pinggang cowok yang disukainya dengan erat. Shela lalu berbisik di telinga Ardi agar segera menjalankan motornya, bisikan centil Shela tak luput dari pandangan Fani, Rara dan beberapa teman di sekolah yang sedang berada di parkiran. Dan itu tentu saja salah satu rencana Shela untuk mewujudkan gosip yang beredar di sekolah, bahwa dirinya dan Ardi memang pasangan kekasih. Fani seketika membatu di tempatnya ketika matanya tak sengaja melihat Ardi memboncengi Shela. Terlebih mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih. Dilihat dari prilaku Shela yang sedang membisikan sesuatu di telinga Ardi dan tak lama kemudian motor yang dikendarai mantannya itu pergi meninggalkan pelataran sekolah. Melihat Ardi dengan Shela yang selalu kedapatan bersama membuat dadanya nyeri. Dia selalu menyangkal hubungan mereka yang telah kandas, dia selalu berpikir jika hubungannya dengan Ardi baik-baik saja, bisa dikatakan jika mereka sedang 'break' dan akan kembali seperti sediakala. Namun, hari ini melihat bagaimana sikap Ardi tadi pagi saat di kantin dan sekarang ini membuatnya enggan percaya, jika Ardi sudah melupakannya. Rasanya begitu menyakitkan bila harus melihat orang yang masih kita cintai, tapi sudah melupakan kita bahkan sudah mendapatkan cinta yang baru. Dan Fani bertanya-tanya sanggup kah dirinya menerima kenyataan menyakitkan ini? Karena jujur saja dirinya tidak bisa, Ardi baginya terlalu sempurna. Dia tidak bisa mencintai cowok selain Ardi---cowok yang membuatnya mengenal arti cinta dan juga rasa sakit. "Kenapa rasanya sakit yah, Ra." ujar Fani begitu lirih dengan pandangan mata yang masih fokus ke depan. Rara yang melihat Fani begitu rapuh karena Ardi membuatnya sedih. "Apa yang di omongin anak-anak selama ini tuh bener? Kalau mereka udah jadian?" ujarnya lagi dengan nada yang sama. Pertanyaan dari Fani membuat Rara bingung, karena dirinya pun tidak mau memercayai gosip yang beredar mengenai hubungan Ardi dan Shela tapi sekarang... Melihat dengan kepala matanya sendiri, jika Ardi memboncengi Shela. Karena mereka semua tahu, jika Ardi tidak pernah memerbolehkan cewek mana pun untuk duduk di motornya, yang mereka tahu hanya satu cewek yang diperbolehkan untuk di motornya---yaitu Fani. Tapi sekarang sepertinya bukan hanya Fani tapi juga Shela. Fakta tersebut tentu saja meyakini jika Fani dan Ardi memang mempunyai hubungan khusus. "Err... Gue nggak yakin." Fani seketika menatap Rara dengan alis terangkat tinggi. "Yah maksudnya, gue nggak yakin kalau bukan dari mulut Ardi sendiri. Yah kayak elo dulu misalnya, gue percaya elo dicintai Ardi. Tuh cowok nembak elo pas MOS terakhir di saksiin sama anak-anak. Lah ini? Jadi sebaiknya lo mikirin yang penting-penting aja, Fan. Urusan Ardi-Shela elo pikirin nanti setelah acara lomba Paskibra kelar." balas Rara. Karena mau bagaimana pun juga, lomba Paskibra tingkat sekolah kali ini juga penting. Fani yang tahun ini terakhir menjabat sebagai ketua Paskibra harus memberikan yang terbaik untuk sekolahnya. Karena setelah lomba ini selesai, jabatannya akan berpindah pada juniornya. Dan juga, Fani tipe cewek yang selalu memikirkan hal-hal yang nggak penting, takutnya jika dirinya sibuk dengan masalah percintaannya, fokusnya untuk lomba Paskibra pasti terpecah dan itu tentu saja tidak baik untuknya. Jawaban Rara ada benarnya juga, mau tak mau dirinya harus memikirkan lomba team-nya ketimbang kisah asmaranya. Dia bersyukur mempunya sahabat seperti Rara, selalu berkata tepat sasaran maka dari itu lah Rara partner terbaiknya. _ _ _ _ Ardi masuk ke dalam rumahnya dengan wajah yang tidak bersahabat, cowok itu terus berjalan tanpa memerdulikan kehadiran kedua orang tuanya dan juga Kakaknya. Biasanya jika mood nya normal, Ardi pastikan untuk mengobrol sebentar sebelum ke kamar. Tapi kali ini, dia tidak bisa mood-nya benar-benar hancur gara-gara Shela. Cewek itu benar-benar mencekiknya dengan sifat dan tingkah laku menyebalkannya. Ardi membuka pintu kamarnya dengan kasar, melemparkan tas yang berada di punggungnya itu kesembarang arah. Ia mengacak surai hitam legamnya dengan frustrasi membuat Alan yang diam-diam mengahmpirinya mengangkat kedua alisnya tinggi. Adiknya itu tidak seperti biasa, Ardi yang sekarang terlihat lebih tertutup dan dingin tidak seperti dulu. “Lo ada masalah sama Fani?” tanya Alan tiba-tiba yang kini berdiri menyender di samping pintu kamar Ardi. Membuat si empunya kamar berjengkit kaget. Ardi secepat kilat membalikan tubuhnya ke belakang, ia seketika melemparkan tatapan dinginnya pada sang kakak. “Kenapa? Ada yang salah sama pertanyaan gue?” tanya Alan lagi dengan raut yang masih bingung. Bukan pertanyaannya yang salah, tapi orang yang nanyanya yang salah. Pake acara kagetin orang segala, bagian mana yang benarnya? “Jadi bener, lo ada masalah sama Fani?” Alan mengulang kembali pertanyaannya. “Hn.” “Ck gue nggak ngerti jawaban ambigu, lo.” Ardi tidak menjawab pertanyaan Alan dia memilih diam, karena sudah dipastikan jika Alan akan kembali bertanya. “Gue perhatiin lo makin deket aja sama Shela. Apa jangan-jangan lo punya hubungan sama dia dibelakang Fani?” tuduh Alan enteng yang membuat Ardi seketika menatapnya dengan tatapan tajam. “Bukan urusan lo!” sewot Ardi yang kembali membelakangi Alan. Cowok itu membuka lemari pakainnya lalu mengambil kaus hitam pendek. “Ck Ardi, Ardi. Elo tahu kan, sesuatu yang menyangkut Fani itu jadi urusan gue.” Balas Alan dengan senyum miringnya yang sayangnya tidak terlihat oleh adiknya itu. Dan perkataan Alan ditanggapi dengan decakan oleh Ardi. “Gue pringatin sama lo, sekali lo nyakitin dia. Gue akan ambil dia dari lo, ingat gue nggak pernah main-main.” Ancamnya dengan nada sungguh-sungguh, setelah mengatakan hal tersebut Alan kemudian pergi meninggalkan Ardi yang tengah menahan amarahnya yang bisa meledak kapan saja. - - - - Tbc 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD