9

1256 Words

Arga mendengus dengan apa yang di lakukan papahnya. Tapi di dalam hati kecilnya, dia merasa senang sebab orang tuanya tidak pernah terlihat cekcok walau sedikit saja. Dan itu membuat Arga bahagia sebagai anak. Sepeninggal orang tua, Arga menjatuhkan tubuh di atas kasur. Entah mengapa pikirannya tidak lepas dari sosok Zanna yang membuat dia menjadi orang gila. Dia mengacak rambut dan menyambar handphone di atas nakas, mencari kontak Boy sang asisten. ”Apa kamu sudah melakukan apa yang aku perintahkan, Boy?” ucap Arga di detik telepon tersambung tanpa mau bertele-tele. “Seperti yang Bos inginkan, dan besok siang barang akan langsung dikirimkan ke alamat Zanna.” Arga memutus panggilan telepon tanpa bicara. Bibirnya langsung di hiasi senyuman ketika mendengar apa yang dia inginkan sudah d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD