Jangan lupa tekan love!
&
Komen
.
.
.
~M E M O R I E S~
Dara benar-benar nggak tau kalau mencintai seseorang akan membuat dirinya menjadi lebih berani dalam melakukan segala hal. Termasuk mengambil tindakan bodoh yang membuatnya harus memotong urat malunya sendiri. Meskipun ia sadar urat malu itu sangat-sangat tipis tak seperti kebanyakan orang lain, tapi Dara rela melakukan itu hanya untuk mengeluarkan Ben dari kelas dosen tua yang sangat menyebalkan itu. Sayangnya, Ben nggak melihat pengorbanan Dara sampai di situ. Cowok itu selalu marah-marah kepadanya, menahan umpatan dan mengeram tiap kali menatapnya. Ben bahkan nggak pernah menyebut nama Dara dengan benar.
Tt-tap-tapi kali ini ... Dara sudah menangis bombay di depan Ben, tepatnya setelah cewek itu mendengar Ben memanggil namanya dengan benar dan gamblang. Setelah sekian lama rasa sesak yang hampir membuat Dara menyerah sampai mampus itu akhirnya ditebus dengan panggilan itu. Antara senang dan miris, Dara nggak tau lagi harus bersikap bagaimana di depan Ben. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah satu, yaitu ingin berada di dekat cowok itu, bahkan jika saja bisa, Dara ingin mengembalikan segalanya seperti dulu.
Tapi, ia sadar. Usahanya yang selama ini juga nggak bisa dikatakan kurang. Dan mungkin saja, hanya ini satu-satunya cara yang akan membuat hubungan mereka berubah lebih baik. Dara benar-benar berharap besar pada usahanya kali ini.
Semoga saja.
Sebuah tisu terulur tepat di depan wajahnya. Dara menghentikan raungan tangisnya, menatap sebuah tangan yang mengulurkan tisu tersebut kemudian menoleh ke arah cowok yang nggak lain adalah Ben. Cukup lama Ben mengabaikan pandangan Dara dengan melempar tatapan ke arah lain. Sampai kemudian ia nggak tahan lagi merasakan ditatap dengan sedemikian intens oleh cewek itu dengan jarak yang sangat dekat. Ditambah lagi, suara ingus Dara yang naik turun mendominasi suasana sore itu menjadi sangat absurd.
"Haiish," desis Ben hampir saja mengumpat.
Secara alamiah saat ia menoleh mata Ben langsung tertuju pada ingus yang meleleh dari hidung Dara. Sehingga cowok itu menarik tisu sebanyak mungkin dan menempelkannya tepat di wajah Dara dengan gemas. Sontak hal itu membuat Dara segera menahan tisu di wajahnya dengan kedua tangan dengan sisa tangisnya.
"Umur berapa sih lo?" Ben menggelengkan kepalanya heran melihat kelakuan cewek yang benar-benar asing di sebelahnya itu.
Ah, dan ... nggak punya malu. Satu lagi, Ben juga nggak tau motif cewek itu masih saja membuntutinya sampai sejauh ini.
Dara masih sibuk dengan tisu dan ingus. Ia bahkan menguras habis cairan dari hidungnya sehingga membuat Ben kembali meringis mendengar suara yang, eum ... mengganggu itu. Lagi-lagi membuat Ben menoleh ke arah Dara. Ditatapnya cewek boncel yang belakangan ini sukses membuat moodnya anjlok. Tangis Dara sudah mereda, menyisakan sepasang mata merah yang sembah, hidung merah dan beringus. Wanita itu meremas tisu dengan ukuran besar menjadikannya satu dan meletakkannya kembali ke tangan Ben.
Kontan cowok itu speechlesh menatap Dara yang benar-benar sangat ajaib.
"Makasih," bisik Dara.
Mengabaikan Ben yang sibuk berkomat-kamit sambil menyingkirkan tisu miliknya ke dalam tong sampah di dekat mereka.
Keduanya saat ini sudah berada di luar kelas. Tepatnya di dekat area parkir yang dekat dengan pintu gerbang utama universitas. Di setiap sudut halaman kampus yang luas itu terletak beberapa gazebo mini, tempat mahasiswa berkumpul untuk bersantai atau bahkan mengerjakan tugas. Di sekelilingnya ditanami pohon akasia yang sudah tumbuh menjulang tinggi. Daunnya cukup rimbun membuat halaman kampus itu nggak terlihat gersang. Pot-pot besar berjejer rapi berselingan dengan tumbuhan semak hias, di dekat gazebo itu pula selalu ada westafle dan tempat sampah organik dan non-organik yang ditata dengan sangat apik.
Dan saat ini, Dara orang duduk di salah satu gazebo paling dekat dengan pintu keluar bersama Ben. Cowok itu menoleh setelah mendengar ucapan terima kasih dari Dara, padahal bukan itu yang Ben harapkan. Jangan kalian pikir Ben mengharapkan ucapan maaf dari Dara. Cowok itu hanya mau Dara pergi dan berhenti mengganggu kehidupan mulai hari itu.
"Lo siapa sih? Emang kita pernah kenal ya?" tanya Ben kemudian.
Dara tak langsung merespon, ia menoleh mendapati Ben yang kini menatapnya penuh tanda tanya. Pada sepasang manik hitam yang sangat ia rindukan itu, Dara menelan ludahnya kasar. Disuguhi wajah rupawan, hidung bangir dan bibir yang, eum ... sangat kissable itu membuat Dara nggak sanggup lagi untuk berpura-pura.
"Lo itu suami gue." Akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibir Dara.
Ben tertawa renyah, tepat seperti perkiraan Dara bahwa cowok itu tak mungkin percaya padanya begitu saja. Apalagi mengingat siapa Dara yang sebenarnya. Ben sibuk memukuli paha-nya sendiri, sambil menatap Dara nggak percaya.
"Bercanda lo itu, beneran nggak lucu," balas Ben menghentikan tawanya seketika.
"Lo pikir gue bercanda? Setelah semua yang gue lakuin kemarin dan hari ini?" tanya Dara tenang. Dan sialnya hal itu membuat Ben malah merasa terintimidasi.
"Gue serius. Kita udah nikah Selat Benggala."
"Kapan? Di mana? Lo—"
"Satu setengah tahun yang lalu di rumah lo, tepat sebelum orang tua lo meninggal." Dara mengucapkan kalimat itu dengan lantang dan penuh penekanan.
Sudah cukup, sudah cukup selama ini ia menanti Ben agar ingatan cowok itu kembali. Tapi, selama penantian panjang itu nyatanya Ben juga nggak mengingat dirinya dan masa lalu mereka berdua, sedikitpun. Lantas sampai kapan lagi Dara harus menunggu?
"Woy!"
"Ha?" Dara seketika tersadar saat sebuah petikan jari terdengar keras di depan wajahnya.
Cewek itu mengedipkan mata beberapa kali terlihat linglung. Menatap Ben yang kini masih memandangnya dengan kerutan di dahi.
"Sakit lo? Gue nanya, malah bengong," imbuh Ben lagi.
Pasalnya cewek itu hanya melongo menatapnya dengan pandangan aneh saat Ben melontarkan pertanyaan barusan. Sekali lagi, Ben menatap Dara yang kini menunduk dari samping.
"Gue nanya, emang kita pernah kenal?"
'Lo itu suami gue, Selat Benggala bego!'
Sayang ucapan itu hanya sanggup diucapkan Dara dalam batin. Bahkan semua yang ia lontarkan pada Ben barusan hanya angan-angan kosong yang nggak berani ia katakan di depan Ben. Bukan apa-apa, hanya saja Dara juga punya alasan. Salah satunya ....
"Gue laper, cariin gue makan." Dara berdiri dari posisi duduknya.
Setengah melompat karena kakinya nggak sampai menyentuh tanah saat duduk di gazebo yang ketinggian itu. Atau emang Dara yang yang terlalu pendek.
Namun, belum sempat Ben menjawab. Ponsel cowok itu yang berada di saku hoodie Dara berdering kencang menunjukkan sebuah alarm yang berbunyi nyaring. Dara segera merogoh benda pipih persegi itu dan mengeluarkannya dari saku. Dengan cekatan pula, Ben menarik ponsel miliknya dari Dara. Cowok itu bahkan nggak menatap Dara sedikitpun. Dan kini, perhatian Ben sepenuhnya berada pada sebutir obat berwarna kuning yang ia telan dengan air mineral dalam botol. Menyaksikan hal itu, Dara menatap Ben dalam-dalam.
"Lo ... sakit?" tanya Dara berhati-hati.
Cowok itu melirik Dara sekilas, sebelum kemudian menyampirkan tasnya pada kedua bahu dan menarik tudung hoodie Dara sambil berkata, "gue laper!"
Menyikapi perilaku Ben, Dara mengedipkan mata beberapa kali heran.
'Iya, nggak usah diseret juga,' batin Dara pasrah mengikuti langkah kaki panjang Benggala.
~M e m o r i e s~
-B E R S A M B U N G-
Gimana gais? Dapet gak sih feelnya, belagu banget nulis romance komedi hu-hu
Jangan lupa tekan Love man teman :*