Sisa-sisa air masih menetes di ujung-ujung rambut Fahri. Baru sampai rumah dia langsung lari ke kamar mandi, menghilangkan bau rokok bercampur debu yang menempel di seluruh tubuhnya. Tidak boleh ada yang tau kalau dia barusan keluyuran dan ikut balapan.
Tiba di ruang tamu, seluruh keluarga sudah berkumpul. Orang tuanya, nenek Ane yang sudah jauh-jauh datang dari kota asal orang tuanya, termasuk Om Gilang dan Tante Inge. Tak ketinggalan anak kesayangan keluarga ini, Eleanora Aulia.
Lihatlah saking disayangnya, mulut Aul tak berhenti mengunyah. Nenek membawakan Kue Lam buatan sendiri yang sudah pasti enak. Pantas saja gadis itu memiliki pipi chubby dan badan berisi. Mulutnya selalu dijejali makanan enak dari segala penjuru.
"Si Dika rabun kali, apaan bening?! Anak gajah, iye!" gerutu Fahri pelan. Pelan sekali takut kedengaran. Sambil tangannya santai mencomot potongan Kue Lam dari tangan Aul.
"Mamaa!" sudah pasti teriaklah si bocah.
"Fahri!" tegur Ayahnya sambil melotot.
"Ya elah, pelit amat bocah. Bagi dikit doang," Fahri bela diri.
Nenek tersenyum geli melihat tingkah dua cucunya. "Buat Fahri nenek sudah pisahin, ada di dapur."
"Nenek emang yang terbaik," senyum Fahri mengembang sempurna. "Nggak kaya yang itu..." sempat-sempatnya menyindir padahal jalan ke dapur. Perutnya benar lapar, tadi siang dia mana sempat makan karena keburu touring dadakan sama anak-anak motor.
"Sekolahnya gimana, Ri?" tanya nenek saat cucu gantengnya itu duduk di sebelah kanan, sedangkan Aul di sebelah kiri.
"Pacaran terus dia, Nek."
Bukan Fahri yang menyahut, Aul tentu saja.
"Diem bocil!" Fahri menarik ujung rambut Aul dari belakang nenek, lalu dibalas cubit oleh bocah manja itu.
"Tahun depan sudah mulai masuk kuliah, Nek. Doa'in ya," pinta Fahri tak lagi menghiraukan Aul.
"Pasti. Nenek selalu berdoa semoga cucu-cucu nenek selalu diberkati dengan kebahagiaan dan kesuksesan. Akur dan saling menjaga."
"Denger tuh, yang akur!" tiba-tiba saja Fahri menoyor kepala Aul dari belakang padahal itu bocah lagi ngobrol sama mamanya.
"Ya Tuhan, apa salah Aul?" ratap Aul dibuat-buat. Kontan saja semua mata melotot pada Fahri. Nenek yang dekat dengan Fahri sudah gatal mau menjewer telinga pemuda itu, kalau dia tidak buru-buru kabur ke dapur. Sempat-sempatnya menjahili adiknya.
"Bang Fahmi lama bener ke toiletnya," Mama Rita sudah gelisah di tempat duduknya. Pasalnya anak sulungnya itu sudah hampir setengah jam pamit ke kamar kecil.
"Ketiduran kali, Ma," sahut Fahri dari dapur.
"Coba kamu tengokin abangmu, Dek. Siapa tau beneran ketiduran," Aul langsung mengangguk mendengar perintah ibunya yang termakan omongan Fahri.
Bocah yang masih kelas 3 SMP itu melangkah ke arah kamar Abang tertuanya tanpa mengetuk pintu. Tak lama kemudian, teriakan bocah itu membuat seisi rumah geger.
"TANTE, BANG AMI SAKIT!!"
***
Tawa mengejek masih tersemat di bibir Fahri. Abangnya yang biasa menjaga wibawa, terlihat pendiam namun karismatik itu, tiba-tiba saja sakit diacara pentingnya sendiri. Berhubung rencana sudah terlaksana, pihak keluarga Sarah juga sudah mengundang beberapa kerabat, mau tak mau Fahmi harus memaksakan diri. Sehabis menenggak sebutir obat, juga diolesi minyak yang hangat ala-ala bayi, mereka bergegas berangkat ke rumah calon istri Fahmi.
"Alah, segitu aja kamu tipes Fahmi Fahmi. Baru juga lamaran," itu Gilang, Papanya Aul. Tambah lebarlah tawa Fahri. "Abang Abang, lemah Lo!" katanya terkikik geli.
"Nervous kok sampai tipes, Bang," tambah Gibran, ayahnya sendiri.
"Udah-udah kasian Bang Ami, orang sakit kok diledekin," itu Aul si adik kesayangan yang memijit tengkuk Fahmi pakai minyak kayu putih.
"Biarin Dek, semoga segera dapat balasan karena menzolimi orang sakit," sahut Fahmi, biar badan lemes tapi mulut masih sempat membalas.
Semua orang yang ada di mobil diam, tapi tak mampu menahan geli. Hanya Aul yang bersimpati dengan Fahmi disini. Sementara tiga nyonya besar hanya geleng-geleng kepala.
Minibus yang sengaja di sewa keluarga Fahmi berhenti di halaman sebuah rumah minimalis yang banyak ditumbuhi bunga-bunga hias. Rumah bercat putih gading itu nampak elegan dengan pilar-pilar yang juga dihiasi bunga rambat.
Keluarga besar Sarah sudah menunggu dengan senyum bahagia. Meski masih sedikit keliyengan, Fahmi kembali bersemangat melihat pujaan hatinya yang ikut menyambut keluarga besarnya. Dadanya rasanya penuh karena hari yang mereka perjuangkan akan segera ditetapkan.
"Mau kemana Lo bocah!" Fahri menarik ujung gaun batik Aul yang kembar dengan miliknya juga Fahmi. "Jangan bikin rusuh Lo," bisik Fahri sengaja cari gara-gara.
'Paakk'
Karena dongkol, Aul sengaja menginjak kaki Fahri, lalu menjulurkan lidahnya mengejek. "Anjing, sakit bangett blok!" umpat Fahri tertahan.
"Te, Bhang Fahrih nghomongh kashar!" suara Aul teredam, karena Fahri sempat menutup mulut Aul dengan telapak tangannya.
Dua orang itu saling sikut di belakang para tetua yang sedang berbincang serius. Untungnya Fahmi bisa duduk tegak di tengah-tengah mereka, seperti bukan orang yang tadi mengeluh tipesnya kambuh.
"Anjir, tangan Lo bau rokok bang!" Aul melotot begitu bekapannya terlepas.
"Sebatang doang tadi," bela Fahri seolah tak salah.
Aul menunjuk wajah Fahri sambil menyipitkan mata, "Gua aduin tante Rita Lo ya."
"Cihh, aduan!"
"Ekhmm!" Itu Inge, mamanya Aul yang sengaja berdehem memberi peringatan pada dua bocah rusuh yang tak pernah akur.
"Silakan diminum Mas," entitas cantik dan anggun mencuri atensi Fahri sepenuhnya. Gadis itu sepertinya kerabat tuan rumah yang tengah sibuk menjamu tamu.
"Biar Gue bantuin," Fahri langsung inisiatif mengambil nampan di tangan si gadis dengan senyum termanisnya.
Aul memutar bola mata malas melihat wajah antusias sepupunya. Belum lagi gayanya yang kecentilan macam orang yang belum pernah lihat cewek cantik.
Sepanjang acara Fahri sibuk caper dengan gadis dari keluarga Sarah itu. Apapun keputusan para tetua mengenai hari pernikahan, urgensi Fahri sekarang adalah nomor kontak gadis cantik itu.
"Jadi bener Lo Astrid dari SMA Cita Bunda yang jadi duta lingkungan tahun lalu?" Fahri mengerjap-ngerjap lucu.
"Iya Fahri, sudah lima kali kamu nanya itu," Astrid menyahut dengan tawa renyah.
Aih, mendengar namanya disebut dari mulut gadis cantik sukses bikin Fahri merinding. Yang ini lebih yahud dari Desi. Pelajar di sekolah unggulan, cantik, berprestasi, juga anak orang kaya, tidak seperti Desi yang modal cantik doang aslinya bocah kosong. Dan kabar baiknya lagi, gadis itu juga menunjukkan ketertarikan yang sama dengan Fahri. Ah, atau hanya Fahri yang kegeeran.
"Wah, beruntung banget Gue bisa ketemu cewek cantik dan pintar kayak Lo. Mimpi apa coba semalem. Nama Lo udah sering Gue denger dari temen-temen yang ngefans sama Lo tau," oceh Fahri semangat.
Astrid tertawa renyah dengan tingkah menggemaskan cowok ganteng di samping, "Mimpi apa? coba kamu ingat-ingat."
Mereka tertawa lagi. Aih, dasar cowok normal. Semudah itu berpindah, setelah berbulan-bulan mengejar perhatian Desi. Dua remaja itu dengan mudah akrab. Bertukar nomor kontak, janji bertemu di lain waktu, dan nampak saling berat berpisah saat keluarga Fahri akan pulang.
Di sudut lain Aul melihat interaksi dua orang itu yang sengaja melipir ke tempat yang lebih sepi di halaman belakang. Meski sering di jahili tapi Aul belum pernah dicueki Fahri seperti ini sebelumnya. Kalau Aul suruh pulang, Fahri langsung putar balik meski sambil bersungut-sungut. Aul suruh beli jajan, Fahri tetap gercep biar mata masih sepet habis begadang. Aul minta antar jemput les, Fahri selalu sedia jadi ojek walaupun sampai membatalkan waktu nongkrong dengan gengnya. Aul selalu nomor satu untuk Fahri. Sekarang Aul merasa posisinya terancam, dia kesal, sedih, marah juga... cemburu.
Aul pernah mendengar dari Dika, sahabat Fahri, kalau sepupunya itu playboy, tapi baru kali ini dia lihat dengan mata kepala sendiri. Rasanya... nyesek.
Selama dalam perjalanan pulang, Aul lebih banyak diam. Para tetua mengira Aul kelelahan karena waktu memang sudah menunjukkan hampir pukul sebelas. Jadi, saat Aul yang biasanya berisik, mendadak anteng, mereka tenang-tenang saja.
Lagipula semua orang juga mulai mengantuk. Kecuali Fahri yang senyum-senyum sendiri, macam orang kelainan. Apalagi saat satu notif pesan masuk ke ponselnya, senyum itu semakin lebar saja, mirip-mirip Joker.
"Selamat malam Fahri. Nice to see you, emoticon kiss bye!" Fahri kaget bukan main.
Buru-buru Fahri menyembunyikan ponselnya. Gila, mata Aul sudah seperti mata burung hantu saja. Fahri kira bocah kematian itu tidur, taunya ikut membaca chatnya dengan Astrid sejak tadi.
"Rese Lo!" kesal Fahri.
"Bang Ai suka sama dia?" tanya Aul memelankan suara, takut di dengar yang lain. Mereka duduk di kursi paling belakang sekarang.
Fahri mendengus, "Bukan urusan Lo, cil!"
Aul menunduk sambil memilin jari-jarinya, "Bang Ai nggak boleh pacaran sama dia," lirihnya.
Kening Fahri berkerut, bingung. "Kenapa emangnya? Suka-suka Gue lah," songong sekali gaya adiknya Fahmi ini.
Aul mengangkat wajah dan menatap mata Fahri lamat-lamat, tanpa senyum, tanpa kedip. Membuat yang ditatap langsung diam, antara heran dan merinding. Dalam hatinya, "Nih bocah ketempelan penunggu rumah Sarah kah?"
Lalu tiba-tiba saja bocah itu mendekat sampai Fahri mentok ke sudut. Wajah Aul semakin dekat, hingga sampai di depan telinga Fahri dia berbisik, "Karena Gue suka Bang Ai."