“Kamu juga orang Indonesia ya?” Pertanyaan Laksita meluncur begitu saja tepat setelah aku duduk pada kursi di sampingnya. Perempuan ini memiliki suara yang terdengar hangat dan renyah, mirip kenangan yang aku tinggalkan di tanah kelahiran nun jauh.
“Ya. Kamu juga?”
“Iya. Lucu juga ya, di antara banyaknya orang asing di sini, saya justru bertemu kamu yang berasal dari negara yang sama. Orang menyebutnya serendipity … yah, semacam takdir yang tidak disengaja itu lho.”
Aku tersenyum guna menanggapi kalimat Laksita. Ia tampaknya akan menjadi teman mengobrol yang menyenangkan. Usianya mungkin tidak terpaut jauh dariku, jadi seharusnya percakapan kami dapat dilakukan secara dua arah.
“Semacam takdir baik?” Aku bertanya retoris.
Laksita dengan tas di pangkuannya tersenyum tipis. Lihat, dia bahkan sepertinya tidak memiliki kewaspadaan kepadaku. Mendadak aku ingin bertanya, apakah kamu tidak takut padaku? Maksudku, bisa saja aku ini orang jahat yang berniat menipu Laksita dan membawa kabur uangnya. Apalagi kami baru kenal dan lagi ada kemungkinan bagi kami berdua untuk saling memalsukan identitas masing-masing.
“Harusnya takdir baik ya. Ibu saya bilang, biasanya seseorang yang memiliki sejarah dan latar belakang yang sama memiliki rasa simpati yang baik.”
“Oh ya? Kenapa begitu?”
Dapat kurasakan kereta yang membawa kami melaju secara halus di atas rel. Di antara riuh rendahnya suara, uniknya aku justru terpikat pada vokal milik Laksita.
Dengan berbekal pengetahuan yang diberikan oleh ibunya, Laksita mulai mendongeng. “Katanya, mereka memiliki semacam sense of belonging … ya seperti perasaan saling memiliki karena mereka memiliki satu kesamaan yang dibawa sebagai identitas entah itu ras, suku, atau agama. Tapi, tentu kalimat dari ibu saya enggak bisa ditelan mentah-mentah begitu aja. Saya percaya kok di antara banyaknya orang baik masih ada orang jahat.”
Aku spontan tertawa ketika mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Laksita. Dengan wajah yang terlihat agak bingung, ia menatapku seolah-olah sedang bertanya melalui tatapannya terkait alasan mengapa aku tertawa.
“Bukannya terbalik ya? Di antara banyaknya orang jahat masih ada orang baik.”
Perlahan wajah bingung Laksita hilang bergantikan anggukan kepala yang singkat. Apabila kuperhatikan sepertinya Laksita adalah tipikal orang yang mengekspresikan perasaannya lebih cepat dengan bahasa tubuh. Bagaimana ia terlihat bingung, bagaimana ia terlihat menyambut kehadiranku sebagai orang asing, dan bagaimana dengan percaya dirinya ia membawa kisah soal perkataan ibunya sampai sejauh ini.
“Betul kok. Saya percaya kalau populasi orang baik itu jauh lebih banyak daripada orang jahat.”
“Kenapa? Kok bisa berpikir seperti itu?”
“Power of mind?” jawab Laksita mirip seperti pertanyaan. Suaranya kali ini terdengar mengawang di telingaku. Entah karena ia yang ragu terhadap ucapannya atau karena suara kereta yang melaju.
“Sugesti gitu maksud kamu?” Aku kembali melempar pertanyaan kesekian.
Iya menjentikkan jarinya. “Semacam itu. Gimana ya, waspada itu perlu, tapi kadang hal itu juga bisa jadi false alarm yang menghalangi aku untuk bertindak. Intinya kamu harus pintar baca situasi, isi pikiran lawan bicara, dan di mana kamu membuat keputusan.”
“Kamu orang yang optimis ya tampaknya?”
Anehnya, untuk pertanyaan yang satu itu Laksita tidak menjawab. Pada awalnya aku sempat berpikir, apakah ada dari kalimatku yang terdengar salah atau justru tidak boleh diucapkan? Melihat reaksi Laksita yang mendadak diam membuatku merasa bingung sekaligus tidak enak hati. Belum sempat memastikan, Laksita sudah lebih dulu membuka suaranya. Kali ini topik kami berpindah seakan-akan Laksita tidak ingin membahas topik yang sebelumnya kami bicarakan.
“Jadi, kamu sudah baca buku saya sampai mana?”
Seketika gambaran soal Hercules yang kehilangan cinta dari ibunya juga sosok anak tanpa benang layangan melintas di dalam kepalaku. Dua tokoh tersebut tanpa alasan ikut membawa ingatanku pada masa di mana aku masih mencintai sastra sebagaimana Laksita yang mungkin masih hidup dengannya.
“Sampai lembar terakhir, pada halaman di mana kamu menulis soal anak yang enggak punya benang layangan dan mempertanyakan soal hari esok.”
Aku melihat Laksita yang terlihat tersenyum tipis, mengaburkan ekspresinya yang beberapa saat waktu lalu terlihat kaku dan sukar ditebak. “Namanya Jerau.”
“Hm?” Sepasang alisku menukik tipis manakala mendengar nama yang keluar dari mulut Laksita.
Siapa yang ia maksud?
“Anak yang kamu sebut nggak punya benang layangan itu … namanya Jerau.”
Satu fakta baru yang aku ketahui hari ini. Informasi tersebut secara alamiah menciptakan pertanyaan baru yang mengisi waktu perjalanan kami berdua hari itu.
“Tapi, kalau saya enggak salah baca, kamu enggak mencantumkan namanya?” Aku menimpali, merasa yakin bahwa ingatanku soal anak tanpa benang layangan tidak salah.
“Benar. Ingatan kamu enggak salah. Saya memang sengaja nggak menulis nama Jerau di sana.”
“Kenapa begitu?”
“Jawaban saya tergantung dari bagaimana kamu menjawab pertanyaan.”
“Maksudnya? Pertanyaan seperti apa?”
Sesaat aku terasa seperti kembali tersesat pada pikiran Laksita yang abu-abu. Perempuan ini bagaimana pun pastinya memiliki cara pandangan yang berbeda denganku. Dan, untuk kali ini aku tidak mau salah menjawab.
“Bagaimana pendapat kamu soal anak yang tidak punya benang layangan itu?”
Seandainya Profesor Peter ada di sini, sudah pasti pria dengan rambut berwarna keperakan itu akan meledekku. Kepalaku secara tanpa mampu dicegah membayangkan suara Peter saat ini, kira-kira ia mungkin akan berkata kurang lebih begini; Is it really that hard to answer, Dave?
Beruntungnya Peter tidak ada di sini dan beruntungnya aku mengetahui bahwa Laksita di samping sana tampak sabar menunggu jawaban dariku. Jujur saja, aku merasa agak segan untuk mengungkapkan interpretasiku akan cerita dan tokoh yang Laksita buat. Bagaimana jika kalimatku terdengar konyol dan menyinggung Laksita? Tentunya aku tidak ingin meninggalkan kesan yang buruk pada pertemuan pertama kami—seandainya pertemuan kesekian akan ada.
Lucu sekali hari itu aku banyak memikirkan soal perasaan Laksita.
Setelah menelan ragu, aku memberanikan diri untuk menjelaskan, “Saya pikir anak tanpa layangan itu tinggal di dalam janji yang dibuat oleh ayahnya. Kamu menulis kalau sosok Ayah adalah pribadi yang jarang membuat janji dan anak tersebut juga tidak terlalu percaya dengan janji, tapi pada satu kesempatan dia justru berharap pada janji yang ayahnya buat soal benang layangan.”
Laksita tersenyum puas. Aku hampir saja dapat bernapas lega jika saja kalimat pamungkas dari bibir Laksita tidak keluar. “Hampir betul.”
Secara spontan aku menggaruk bagian belakang leherku yang terasa sama sekali tidak gatal. Satu yang aku ketahui sekarang adalah fakta bahwa aku merasa malu lantaran salah mengartikan pesan yang Laksita susupkan di dalam tulisannya.
“Sayang sekali. Memang jawaban seperti apa yang ingin kamu dengar?” Aku harap kali ini suaraku terdengar cukup tulus agar Laksita tahu bahwa aku tidak berpura-pura merasa penasaran akan jawabannya.
“Anak itu adalah anak yang pemberani.”
“Kenapa bisa dikatakan berani?”
Aku menatap Laksita, mencoba menyelami isi kepalanya yang abu-abu sekaligus asing. Sedikit berharap dapat menemukan sesuatu dari sepasang matanya yang balik menatapku. Waktu itu Laksita yang mengekspresikan perasaan lebih cepat dengan bahasa tubuh seperti sedang menjelaskan sesuatu melalui matanya. Mengatakan hal yang sayangnya belum dapat aku pahami.
“Kamu bilang kalau ayahnya jarang membuat janji dan anak itu justru percaya pada janji ayahnya kalau besok dia akan punya benang layangan. Menaruh harapan adalah bentuk keberanian sederhana yang mampu saya buat di dalam karakter Jerau. Kemudian, latar waktu yang bertepatan dengan musim kemarau melambangkan kehidupan yang apa adanya dan di tengah situasi yang serba terbatas Jerau—anak itu masih memilih untuk percaya kalau hari esok masih akan ada harapan meskipun memang pada bagian penutup dia bertanya, sekiranya kapan besok itu tiba?”
Sejujurnya aku tidak tahu harus berkata apa. Sekilas aku melirik pada jendela kereta yang menampilkan pemandangan hamparan padang rumput yang luas. Jika tebakanku tidak salah maka, saat ini kereta kami sedang melintas di sekitar wilayah Earsdon. Dan di dalam kereta yang meluncur ini, aku menemukan satu dunia baru soal Laksita yang asing.
“Lantas kenapa namanya harus Jerau? Dan kenapa kamu tidak menulis namanya saja di dalam buku?”
“Jerau itu artinya merah, tepatnya merah tua. Saya memberinya nama tersebut karena saya ingin melahirkan Jerau sebagaimana Jerau yang berani, kuat, dan berambisi. Tepat seperti arti namanya sendiri. Dan soal pertanyaan kamu, kenapa saya enggak menulis namanya secara gamblang di atas kertas alih-alih bercerita panjang lebar begini pada orang asing? Maka, jawabannya adalah enggak semua hal bisa diketahui hanya karena hal tersebut harus diketahui. Seperti sosok anak tanpa benang layangan yang kelihatannya juga enggak punya nama. Hanya karena pembaca bisa membaca, bukan berarti dia bisa tahu.”
Aku ingin mendiskusikan jawaban Laksita dengan Profesor Petter, berharap pria itu dapat membantuku memahami kalimat Laksita. Hanya saja, ide tersebut untuk sekarang terdengar buruk. Tidak di saat aku sendiri bahkan kebingungan bagaimana menjelaskan kembali apa yang aku dengar dari sosok Laksita pada Petter.
Sebetulnya Laksita, apakah saya yang terlalu bodoh dalam memahami kamu atau justru kamu yang memang memilih untuk tidak dapat dipahami? Hari itu isi di dalam kepalaku terasa penuh oleh pertanyaan yang isinya menyangkut Laksita dan dunianya yang berwarna abu-abu atau mungkin juga merah.
Iya. Laksita bisa menjadi merah apabila perempuan itu ingin.
Atau justru memang ia adalah merah yang ia ceritakan sendiri. Katankanlah aku konyol, akan tetapi bagaiman jika sosok anak tanpa benang layangan yang Laksita lukiskan justru merepresentasikan dirinya sendiri?
Seseorang sepertinya harus memukul bagian belakang kepalaku agar aku segera sadar dari halusinasi semacam ini.
“Kamu penulis yang luar biasa,” ucapku berharap dengan begitu kalimatku akan terdengar netral bagi Laksita.
Sesungguhnya aku tidak tahu harus menanggapi dengan frasa yang bagaimana. Rasanya aku kesulitan mencari kata yang akan terdengar pas.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Terima kasih. Dan bagaimana dengan kamu, Dave? Seperti apa sosok kamu yang boleh saya kenal?”
Oh. Aku mengerti sekarang. Laksita di sampingku sedang memperkenalkan dirinya. Percakapan kami beberapa saat waktu lalu merupakan sesi perkenalan yang sengaja dibuat oleh Laksita.
Dan dengan pertanyaan sesingkat itu, aku mulai menceritakan diriku pada Laksita yang sebetulnya masih terasa asing, namun juga perlahan familier bagiku. Di tengah percakapan itu, aku mulai menebak; kapan kami akan bertemu lagi?
“Orang bilang kalau saya adalah anak yang berbakti.”
Dengan jawaban itu, aku berhasil menarik rasa penasaran yang terlihat jelas di balik iris kecokelatan milik Laksita.
“Wow. Good for you. Coba ceritakan bagaimana awal mulanya kamu bisa mendapat gelar kehormatan itu?”
Aku tertawa mendengar perumpaan yang digunakan oleh Laksita.
Ia terlihat protes dengan sepasang alisnya yang kembali menukik tipis. “Lho kok malah ketawa?”
Aku mengangguk, mengikuti reaksinya setiap kali mendapat pertanyaan dariku sebelum kemudian menimpali, “Harus banget disebut dengan gelar kehormatan?”
“Ya kalau diingat-ingat arti gelar di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merujuk pada sebutan atau julukan yang biasanya berhubungan dengan suatu keadaan atau watak dari seseorang. Anggap saja label anak yang berbakti adalah gelar kehormatan karena nggak semua anak punya kesempatan untuk menyandeng gelar tersebut.
Laksita di mataku pada satu momen bisa berkamuflase menjadi abu-abu yang menyesatkan sebagaimana ketika ia yang menceritakan kembali cerita pendeknya dalam kalimat yang lebih rumit. Lalu, pada momen yang lain Laksita juga mampu berkamuflase menjadi merah yang telihat bahagia sebagaimana detik ini.
Apabila terdapat orang di luar sana yang memintaku untuk mendeskripsikan Laksita Purnama, maka dengan tegas aku akan menjawab; Laksita bisa menjadi orang yang sangat terbuka sekaligus tertutup tergantung dari siapa lawan bicaranya dan apa yang mereka bicarakan.
Betul. Ia seperti itu. Laksita yang begitu.
“Sepertinya saya harus berterima kasih.”
“Go ahead.”
Aku tersenyum. “Terima kasih. Kamu masih penasaran soal asal-usul you called it gelar kehormatan?”
Ia mengangguk dengan antusias, tampak lucu dengan anak rambut yang telihat sedikit bergeser menyentuh wajahnya. “Masih dong. Ayo ceritakan, waktu kita nggak banyak lho."
Kita ya. Kita akan jumpa lagi tidak ya, Laksita? Aku bertanya dalam diam dan bising laju kereta.
Jarak antara Yorkshire dan Edinburgh mungkin tidak akan pernah terasa sesingkat ini apabila yang duduk di sampingku bukanlah Laksita. Pun, pertanyaanku soal peluang munculnya pertemuan selanjutnya juga mungkin tidak akan timbul seandainya yang berbicara denganku bukanlah sosok Laksita.
Pertanyaanya adalah, kenapa harus Laksita?
“Sejak kecil saya selalu mengikuti keinginan orangtua saya. Di dalam kepala saya keinginan mereka adalah sebuah bentuk kewajiban yang sudah sepatutnya saya laksanakan sebagai seorang anak. Pola pikir seperti ini kemudian membentuk saya menjadi pribadi yang kelihatannya penurut dan berbakti.”
Laksita telihat seolah-olah sedang berpikir. Entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini tepat setelah aku menuntaskan ceritaku. Ekspresi bingung tidak lama kemudian muncul.
“Kalau sekarang bagaimana? Apakah kamu masih mau mengikuti keinginan orangtua kamu?”
Seharusnya aku menjawab dengan pasti, mengatakan ya sebagai kata yang pantas untuk keluar dari mulutku. Sayangnya, hari itu aku agak meragu. Suara Laksita yang menceritakan kembali dongengnya serta bagaimana perempuan itu menyusun kalimat di atas kertas membuatku berpikir dua kali; apakah aku akan tetap menjadi anak berbakti sebagaimana yang sering aku dengar?
Dan Laksita yang duduk di sampingku memiliki kebiasaan menunggu yang baik. Perempuan ini tidak mendesak diriku agar segera membalas pertanyaannya, tidak pula mencemoohku atas ketidaksiapan diriku pada kalimat tanya yang ia lontarkan.
+++
Aku ingat betul pagi itu, aku belum sempat membalas pertanyaan dari Laksita. Percakapan kami harus terhenti saat announcer mengumumkan bahwa kereta kami akan tiba kurang dari lima menit lagi di Edinburgh Waverley. Kalimat yang diucapkan dalam bahasa Inggris itu mungkin panjangnya hanya sepuluh kata atau bahkan kurang, hanya saja dengan kalimat sependek itu sudah berhasil memutus percakapan kami.
Mungkin Laksita tahu aku tidak akan pernah memberikannya jawaban. Atau mungkin ia tahu kalau aku sendiri tidak memilikinya. Oleh karena itu, ia memilih untuk melupakannya begitu saja.
Laksita secara cepat memutus atensinya terhadapku dan menempatkan tali tasnya pada bahu, membuat benda itu menggantung pada bahunya. Ia juga merapikan rambutnya menggunakan jari-jemari, seperti sedang bersiap untuk pergi pada suatu tempat yang tidak boleh aku ketahui.
“Kamu turun di sini juga?” Ia bertanya setelahnya.
Aku menjawab singkat. “Iya.”
Pagi itu Laksita tersenyum tipis dan mengucapkan kalimat yang intinya adalah salam perpisahan. Kami tidak sempat untuk membuat janji. Aku juga tidak sempat membalas kalimat perpisahan darinya, namun sosok Laksita sudah lebih dulu hilang ditelan jarak.
Pagi itu juga, aku kembali melangkah melintasi Cokcburn St menuju W College St sebelum kemudian tiba ruangan dosen. Di dalam sana aku menemukan Petter yang sudah duduk di depan mejanya dengan beberapa lembar kertas yang tampak berserakan di atas desk. Pria itu sibuk. Ia bahkan belum sempat membuat kopi sebagaimana pagi sebelumnya.
“Good morning, Professor.”
Sapaanku berhasil mengalihkan fokusnya selama beberapa detik sebelum ia kembali fokus pada lembaran kertas di atas mejanya. “Good morning, Dav.”
“Would you like some coffee?”
Berhasil. Pertanyaanku berhasil membuat perhatian Professor Petter berfokus padaku. “I would definitely love some coffee.”
Aku mengangguk dan segera meletakkan tasku pada kursi. Dengan cekatan aku juga bergerak ke dapur dan membuka kabin. Terdapat beberapa bungkus kopi dengan merk yang sama dengan kopi yang biasa kami minum. Selama bekerja di sini, aku belum pernah melihat Petter mengubah selera kopinya. Ia suka kaffein yang terasa cukup kuat di lidah dengan kekentalan yang tidak terlalu padat. Atas dasar pengetahuan tersebut aku cepat-cepat menarik dua bungkus kopi kemasan dan menuangkannya pada dua cangkir terpisah untuk kemudian disiram dengan air panas. Aroma kopi yang diseduh tidak lama tercium memenuhi dapur.
“Here’s your coffee,” kataku setelah keluar dari dapur dan menyodorkan satu cangkir.
“Thanks, Dave. You know someone said, if your life ever becomes busy and you don’t have any time to spend with the things you love it’s means something has gone teribbely wrong.”
Aku menjatuhkan tubuhku secara perlahan pada kursi dan menatap Petter sopan. “Yeah, maybe somewhere. So, what’s your point?”
“That’s it, Dave. My life becomes busy and I don’t ever have time to make a cup of coffe—a things that a love.”
“But are you happy with your busy life, I mean have you ever felt like you are walk in wrong path?"
Mendadak aku mengingat Laksita.
Petter menyesap pelan kopinya satu kali sebelum menjawab, “No. This is my life, my dream, and my passion. How about you?”
“Me?”
“Yeah. Are you happy with your life?”
Percakapam kami pagi itu terasa ambigu sekaligus mengganjal bagiku. Dan, sama seperti yang terjadi di gerbong kereta, aku juga tidak dapat menjawab pertanyaan Petter bahkan sampai ponsel milik pria itu menampilkan panggilan suara.
Sebetulnya, jawaban seperti apa yang harus aku berikan kepada mereka?
Tidak. Sebetulnya apa yang ingin mereka dengar dariku?
[]