Narend menghentikan langkahnya, menyadari gadis itu tidak bersuara ,” Ngapain dibelakang gitu, kayak pengawal aja. Buruan.” tangannya terulur membukakan pintu depan ,” Masuklah.”
“ Di depan Pak ?”
“ Mau dibelakang ? Emang kamu pikir aku driver taksi online.” gerutunya sambil menekan ujung kepala Naya, mendorongnya masuk sebelum menutup pintu dan berputar membuka pintunya sendiri ,” Ada kuliah siang ini ?” tanyanya sambil mejalankan mobil perlahan.
“ Gak, Pak.”
Ujung bibirnya tanpa sadar tertarik keatas melihat gadis itu duduk dengan tidak nyaman ,” Safetybelt mu.”
“ Oh ….”
“ Mau makan apa ?”
“ Terserah, Pak “
“ Pak .. Pak …..Emang aku bapakmu ?”
“ Lha kan ini di kampus.”
“ Emang aku ngajar di fakultasmu ?”
Naya memajukan bibirnya ,” Terus ?”
“ Panggil yang lain lah … abang, kakak, mas, uda, …"
“ Om ?”
Narend menarik pelan rambut Naya ,” Oppa …..”
Naya tergelak ,” Ngikut drakor juga ?”
“ Jangan dikira aku gak tahu banyak yang memanggil begitu dibelakangku.”
Naya menatap lelaki disampingnya. Gen eropa menurunkan tinggi badan dan hidung diatas rata rata, sementara darah menado dan Jepang membuat tampilannya sedikit bening.
“ Apa lihat lihat? Tertarik? “
Naya melengos, “ Ahjusi… . “ Sahutnya sembarangan lalu memekik saat Narend menjitaknya.
“ Bisa mengenaliku? Apa oma juga ngasih fotoku? “
Naya menggeleng, “ Oma Cuma kasih no telepon, trus tante Hendry bilang dikampus aja, jangan dianter ke rumah. “ Naya mendengus, “ Bikin banyak mata melihat dengan tatapan curiga aja. “
Narend tidak dapat menahan senyumnya, “ Keberatan? “
“ Iyalaaaah….Yang disamping mejamu itu galak, kelihatannya dia yang disebut temen temen sebagai satpam Pak Narrend.”
“ Satpam?”
Naya mengangguk, “ Tadi Riska sudah memperingatkan bahwa akan ada satpam kalau ada mahasiswi mencarimu. “
Narend mendengus sebaliknya, “ Menyebalkan.”
“ Posesif kali pacarmu kak… “
“ Amit amit. “
“ Eits… . Hati hati kemakan omongan sendiri. “
Narend menatap sorot mata dan senyum jahil itu, mendekatkan wajahnya saat berhenti di lampu merah, “ Daripada yang amit amit, aku pilih yang imut imut … kamu. “
Naya terbelalak dan terdiam sejenak, sebelum mendorong bahu Narend, “ Iiiih… . Gini kok mereka bilang Pak Narend itu cowok kulkas. “
Narend tergelak dan melanjutkan perjalanan dalam diam sampai menghentikan kendaraan nya di pelataran sebuah resto yang cukup nyaman dan rindang, “ Ayo… “ berdecak kesal saat gadis itu kembali mengambil satu langkah dibelakangnya, “ Apaan sih. “ diraihnya tangan Naya untuk berjalan bersamanya dan mengambil tempat di dekat jendela lebar yang terbuka ke arah kolam ikan, “ Makan apa? “
“ Soto daging sama es jeruk nipis. “
Narend menyebutkan pesanannya, menatap gadis yang menikmati gemericik air dikolam “ Mama memberiku fotomu, kalau tidak aku harus bekerja keras mengingat seperti apa wajahmu. Aku hanya ingat gadis kecil dengan pipi bulat dan ujung hidung memerah karena menangis digangguin Jendra atau Andra… lumayan banyak berubah selain caramu cemberut. “ lanjutnya melihat Naya cemberut dengan wajah memerah, “ Kamu mengenaliku? “
Naya mempermainkan ponsel , “ Sahabatku ternyata anggota fans club mu, kak… . Mereka tunjukkan foto dan jadwalmu. Dan sebenarnya tanpa itu gak sulit untuk mengenalimu, tidak sulit menemukan kesamaanmu dengan opa, om hendry atau kak Jendra. “
Narend tersenyum, “ Cuma denganku kamu gak pernah berinteraksi ya… “
“ Kita kan beda generasi, gak pernah main bareng.” Naya menjauhkan kepala sambil meleletkan lidah saat Narend akan kembali menjitaknya.
“ Opa dan oma memutuskan tinggal di perkebunan. “ Narend mengalihkan pembicaraan.
“ Iya… sekarang tembok antar pekarangan dijebol. Opa dan Oma memilih tinggal di rumah Kakek.”
“ Rumah besar buat apa? “
“ Pavilyun kiri buat pusat kesehatan. Kanan buat kantor dan tempat tinggal staff. Rumah utama dijadikan tempat tinggal teman teman mereka… “ Naya terkikik geli, “ Mereka sempat tidak menegurku beberapa hari karena aku keceplosan ngomong jadi kayak panti jompo. “
Narend tertawa, “ Kamu cari mati? “ memelihara senyumnya sambil mengamati gadis yang membuka pesan di ponselnya.
Riska : Sudah ketemu? Cakep kan?
Winda : abaikan sikap dinginnya, itu daya tariknya
Naya : dingin? ???
Winda : kamu dimana sekarang? Aku sudah otw ke toko. Mau dijemput?
Riska : wooooey jawab, kamu dimana?
Naya : Makan siang
Riska : Sama siapa? Narend Oppa?
Naya : Hmm
Riska : Dimana ?
Winda : Kita nyusul?
“ Berisik. “ guman Naya, memilih beralih membalas chat pekerjaannya.
Kamu ingat Naya, cucu kakek Rahadi? Dia kuliah di kampus tempatmu mengajar, beda fakultas. Oma memintanya menemuimu, kalian sudah belasan tahun tidak ketemu. Oma minta kamu menjaganya, bersikaplah baik. Sekarang kami tinggal bersama kakek neneknya… Selama ini kita sudah seperti keluarga, bukankah lebih bagus kalau kita benar benar menjadi keluarga ? …
Narend menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan mengingat ucapan oma beberapa waktu lalu. Bukan sekali dua kali mereka mengajukan gadis gadis yang dirasa layak dan itu membuatnya kesal, tapi kali ini tidak ada rasa kesal dan terganggu… Apakah karena gadis dihadapannya sudah dikenalnya dari kecil, atau karena sikapnya yang ringan dan kelihatannya dia tidak memahami maksud orang-orang tua itu terhadap mereka, “ Sibuk? Makan dulu. “
Naya meletakkan ponsel di meja, “ Maaf. “
“ Lain kali kalau kita lagi makan simpan atau matikan ponselmu. “
Kita… . Lain kali… ..
Keduanya bertatapan lalu sama sama tergagap setelah menyadarinya, dan memilih berkonsentrasi menghabiskan makan siangnya dalam diam.