WY 5

1265 Words
"Anjing, lo diam seperti j****y, bergerak seperti ukhtea. Gile, bisa-bisanya lo nikah sama cowok alim?!" Cleo, sahabat Stella mengumpat, sesaat setelah Stella menceritakan apa yang terjadi di hidupnya. Tentang pernikahan aneh itu. "Lo mau? Ambil aja noh. Gue ogah," Sembari mengunyah bakso, Stella berceletuk. Matanya menatap seisi kantin fakultas, mencari sosok pria yang akhir akhir ini menjadi gebetannya. "Trus trus, mahar lo apa? Dia kerjanya apa? Kaya dong, secara dia lulusan s2, di Mesir lagi." Cleo bergerak mendekat ke arah Stella. Rasa kepo benar-benar menguasainya. "Gatau, gue aja belom dapet cincin, mobil, rumah 5 M, tas Hermes, dari dia." Tutur Stella. Cleo menaikkan satu alisnya. "Keknya kalo orang orang beragama tuh maharnya surah gitu gak, sih?" "Mana gue tau. Tapi kalo dia nikahin gue, yang jelas maharnya harus barang-barang yang gue sebutin diatas tadi." Ucap Stella, membuat Cleo berdecak. "Dasar cewek mata duitan!" Sindiran Cleo. "Ya kan kita sama, beb. Gue mata duitan, lo mata keranjang!" Kekeh Stella, sembari nyengir ke arah Cleo yang sontak memberi pelototan tajam. "Trus, kalo lo sama dia udah nikah, si Gaung gimana dong?" Tanya Cleo, menyebut nama pria yang akhir-akhir ini menyandang gelar sebagai calon pacar Stella. "Ya bodo amat lah gue. Dia kan cuman status, sedangkan Gaung kan cowok idaman gue." Jawab Stella dengan enteng, membuat kepala Cleo menggeleng tak percaya. "Gila lo, dapet yang solehah, malah milihnya yang astagfirullah." Gumam Cleo, mengakhiri perdebatan mereka siang itu. "Soleh ege! Solehah buat cewek!" Cetus Stella. Bibir Cleo menganga, mendapati celetukan Stella. "Oh, sorry sorry, maklum, anak dajjal kek gue butuh bimbingan ilahi" *** Stella tersenyum, ketika melihat pria berperawakan tinggi dengan rambut acak-acakan sedang duduk di bangku depan kelasnya. Gaung Bumi, lelaki jurusan filsafat di universitasnya. Lelaki paling cool versi Stella yang punya kegemaran memegang segala jenis alat musik. Terutama gitar dan drum. "Udah selesai?" Suara rendah dan serak itu menyadarkan Stella dari lamunannya. "Eh, iya Ga. Udah kok, udah selesai." Stella tersenyum manis. Senyum yang ia tampilkan di depan Gaung selama empat bulan terakhir. Gaung bangkit berdiri. Di punggungnya menggantung asal tas abu-abu miliknya. "Makan di kafe baru yang ada di perempatan, mau?" Tanya Gaung, sembari memainkan kunci mobilnya. "Mau lah. Ngajak siapa aja?" "Kita berdua, aja." Jawaban dari Gaung seketika membuat pipi Stella memanas dengan ribuan kupu-kupu mengepak di dadanya. Menimbulkan perasaan membuncah di d**a. "Ayo!" Stella langsung menggandeng tangan Gaung, sembari melangkah menuju area parkir kampus. *** Haidar tersedak minuman, membuat air putih keluar dari lubang hidung. Ia terbatuk keras, sampai beberapa kali menepuk dadanya. "Astagfirullah," "Den Haidar gapapa?" Pria tua berkumis segera menanyakan kondisi Haidar yang sedang terbatyk keras. Haidar menggeleng, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Tidak apa-apa, pak. Cuman kesedak." Tutur Haidar setengah menahan batuk. "Oalah, Den, saya kira kenapa." Pria tua itu mengelus dadanya yang penuh dengan rasa khawatir. Haidar sedang ada di peternakan ayam miliknya. Tanah seluas hampir satu hektar itu dibagi menjadi beberapa bagian dengan fungsi tersendiri. Beberapa hari sekali Haidar berkunjung ke peternakan miliknya, sekedar mengecek kinerja pegawai, atau hanya untuk mengelus kepala ayam yang sudah menghasilkan uang untuknya. Sebagai tanda terimakasih, sudah mau hidup, meskipun berakhir untuk disembelih. "Den Haidar, Non Stella-nya gimana? Cantik ndak?" Pak Tarno, pria paruh baya itu bertanya dengan nada geli. Haidar kembali terbatuk, tersedak oleh salivanya sendiri. Wajahnya memerah, menahan malu. "Kok malu-malu sih, Den? Brati Non Stella memang cantik buanget ya?" "Ehm," Haidar berdehem sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Semua wanita cantik. Tapi, istri saya lebih cantik." Jawab Haidar, namun enggan menatap mata Pak Tarno yang sudah setengah tertawa. "Sudah, sudah. Saya ingin menjemput istri saya di kampus. Besok saya kesini lagi, Pak. Permisi." Haidar segera berbalik, dan melangkah cepat menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang peternakan dengan rasa tak karuan. Antara senang dan bingung, ketika untuk pertama kalinya ia akan menjemput istrinya pulang kuliah. *** Langkah Stella terhenti, ketika menemukan pria dengan kemeja hitam dan celana kain dengan gaya kolot sudah berdiri di depan mobil yang Stella sebut dengan mobil kodok. Dilihat dari bentuknya yang mungil. "Anjir." Umpat Stella, dan langsung membalikkan tubuhnya. Gaung yang ada di sampingnya sontak menoleh pada Stella yang membalik posisi tubuhnya. "Stel? Why?" Stella memejamkan mata sembari misuh misuh dalam hati. Ia memundurkan langkahnya dengan posisi membelakangi posisi Haidar, hingga ia berdiri tepat di samping Gaung. "Aga, sorry. Kayaknya gue ada janji sama si galon." Ujar Stella dengan wajah melas. Ia mengkambing hitamkan Cleo, yang memiliki julukan Galon, sebagai alasannya. "Cleo? Yaudah aku anter." Tawar Gaung, dan kembali menggandeng tangan Stella. "Eh, anu, itu, apa namanya, itu, aku bareng si galon. Kamu tau sendiri kan, dia itu plin plan, otaknya agak gesrek dan udah pikun?" Sorry, Cleo... Batin Stella dalam hati. Alis Gaung menyatu, mendengar ucapan Stella yang menggebu. "Cleo masih di kampus?" Stella dengan yakin mengangguk. "Gue inget, dia tadi bilang nunggu di depan!" Stella dengan cepat menyuarakan ide ngawurnya. Gaung mengangguk, matanya melirik mata Stella, memastikan ucapan gadis itu. "Beneran Cleo masih di kampus, kan?" Tanyanya sekali lagi. Stella dengan yakin mengangguk. Ia lantas mengangkat tangan, dan mendorong lengan Gaung agar menjauh. "Kamu pulang dulu aja gapapa, Ga. Aku mau balik ke kelas bentar, sekalian telfon si galon." Ujar Stella setengah menahan nafas. "Okey deh! Hati hati." Gaung mengusap puncak kepala Stella, dan berjalan menjauh dari Stella. Gaung melangkah kan kaki menuju mobilnya. Ia sempat memberi anggukan sopan pada pria yang tersenyum padanya dengan ramah. "Duluan, mas." Tutur Gaung pada lelaki itu, yang dibalas dengan anggukan sopan. *** Stella menghembuskan nafas lega, ketika ia berhasil bersembunyi dibalik dinding kampus uang menutupi tubuhnya dari pandangan Haidar. "Anjir tuh orang! Gue udah bilang, gak usah gegayaan jemput gue di kampus. Kenapa ngeyel, sih?!" Stella segera membuka ponselnya. Matanya membelalak, menemukan puluhan chat dari Haidar dengan nomor yang belum ia simpan di kontak. Bibirnya berdecak. Ia menoleh, memastikan mobil Gaung sudah hilang dari parkiran. Setelah ia pastikan mobil Gaung pergi dari area parkir, Stella segera berlari menuju parkiran, tak ingin menjadi pusat perhatian anak anak kampus. Haidar yang melihat Stella berlari ke arahnya pun sedikit tersenyum tipis. Namun, senyumnya lenyap, ketika Stella memberi lirikan maut dengan sebuah sentakan galak. "Masuk mobil!" Haidar bergegas masuk ke dalam mobil dengan perasaan was-was. Stella membanting pintu mobil dengan kencang, membuat Haidar semakin kebingungan. "Kenapa Ste—" "Budeg ya, lo?!" Potong Stella dengan sentakan kesal. Haidar tersentak. Alisnya mengerut bingung. "Gue bilang kan tadi pagi. Gak usah jemput gue!!" Stella memekik kesal setengah mati. Wajah Stella memerah. Nafasnya terengah-engah. Ingin rasanya Stella mencakar-cakar wajah Haidar yang menampilkan ekspresi tak bersalah. "Saya sebagai suami cuman mau jemput istri say—" "SHUT UP!!" Stella melempar kotak tisu ke arah Haidar yang langsung terdiam. "I don't care about your f*****g mouth!!" Umpat Stella dengan telunjuk yang mengancung tepat di depan wajah Haidar. Haidar menghela nafas. Matanya yang semula menatap Stella ia turunkan ke arah telunjuk Stella yang mengacung penuh emosi. Tangan Haidar perlahan terangkat, kemudian berhenti tepat di telunjuk Stella, dan berganti menggenggamnya. "Saya minta maaf tidak mendengarkan kamu. Lain kali, saya akan menunggu di luar kampus saja." Haidar menarik tangan Stella ke depan bibirnya. Mengecupnya perlahan. "Maafkan saya ya, Stella?" Kalo kalian ingin marah sama Stella, menurut aku dia berhak marah disini. Itu jika kalian pandang Stella dari sudut yang lain. Coba bayangkan kalian ada di sisi Stella. Di luar sisi sang suami yang agamanya bagus, kalian pasti juga bakal liat dari fisik. Okelah, kalau fisik good, agama good. Tapi hati? Kalo hatinya udah buat orang lain, kurasa wajar dia marah. Sekali lagi, perasaan itu tidak dapat berubah secepat kita membalik telapak tangan. Apa yg ingin disampein utk Stella? Apa yg ingin disampaikan utk Haidar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD