WY 1

1101 Words
"ANJIR!" PLAK! "Uma! Paha Stella sakit tau dipukul!" Stella, gadis yang mengenakan pakaian cheerleader biru putih itu mengelus paha terbukanya yang sakit akibat pukulan sang Uma. "Siapa suruh ngomong gak bener? Ini ada suami kamu." Tutur Uma gemas, dengan tingkah laku sang anak perempuan. "Suami apaan sih, Uma?! Kapan Stella kawinnya?!" CTAK! "UMA! Dahi Stella kenapa disentil, sih!" Protes Stella lagi, ketika Uma Sahara menyentil dahinya. "Ya Allah! Mulut kamu bisa diperhalus lagi nggak? Malu, ada suami kamu yang baru empat jam lalu nikahin kamu di masjid kompleks depan rumah." Dua pria berbeda usia yang duduk si sofa sebrang Stella dan Uma Sahara hanya terdiam. Menonton perdebatan anak dan ibu yang sama-sama keras kepala itu. "Emang bener Uma. Kaget dong Stella, waktu Aba ngomong kalo Stella udah kawin. Stella capek loh, habis tampil cheerleader di kampus. Jangan prank Stella ya, Uma, Aba." Ujar Stella dengan mata mendelik pada pria berwajah datar yang terduduk di depannya tepat. Pria itu mengenakan setelan kemeja yang menurut Stella sangat culun. Jangan lupakan matanya yang menunduk ke bawah sedari tadi. "Kamu memang sudah Aba nikahkan diam diam, Stella. Kamu sendiri yang bilang kemarin, terserah Aba mau jodohin kamu sama siapa aja." Aba Sagara menuturi sang anak dengan lembut. "WHAT?! Gak bisa Aba! Gak bisa! Ini namanya pelanggaran hak asasi manusia! Ini bisa Stella laporin ke Komnas HAM loh, Aba." "Laporin aja kalo kamu bisa. Uma punya rekaman suara yang kamu bilang gini, 'terserah Aba mau nikahin Stella sama siapa, yang penting Stella dapet mobil'." Uma Sahara meledek sang anak. Wajah wanita paruh baya dengan gamis yang masih melekat di tubuhnya itu nampak berseri. Wajah Stella otomatis cemberut. Ia masih ingat perkataannya dua minggu silam. Tidak menyangka sang Uma dan Aba mengabulkan perkataan yang ia anggap guyonan. "Tapi Stella bisa laporin ini ke polisi dengan pasal pengancaman, teru—" "Husstt udah udah. Gak usah ngeles lagi. Uma dan Aba lakuin ini yang terbaik buat kamu, Stella." Uma Sahara memeluk pundak sang anak. Wajah Stella sudah nampak masam. Ia ganti menatap Aba-nya yang biasanya luluh ketika ia sodori wajah melasnya. "Aba, tapi kan Stella punya gebe—" "Stella Aziya. Dengerin Aba. Aba sudah tua, nak. Dan sikap kamu semakin hari semakin liar, Aba takut nak, kalau Aba gak bisa jaga anak Aba satu-satunya dan malah membawa keluarga kita ke neraka. Aba lakuin ini demi kamu, nak." Aba Sagara menepuk paha menantu pria yang ia pilih matang-matang sedari dulu. Pria yang memiliki hati tulus dan baik. Ditambah, menantunya itu lulusan universitas Kairo, Mesir, membuat pandangan Aba Sagara terhadap pria bernama Samudera Haidar itu semakin baik, dan dinilai mampu menjaga sang anak yang bebalnya minta ampun. Sebenarnya lulusan apapun itu, Aba Sagara tak mempermasalahkannya, namun segala tutur laku dan kata pria di sampingnya ini mampu menarik hatinya untuk menikahkannya dengan sang anak tunggal. Dan untung saja, pria di sampingnya itu menurut, meskipun Aba Sagara sudah membeberkan segala tingkah laku bandel anaknya. "Tapi, Aba. Stella masih muda. Dan ini tanpa persetujuan Stella. Pemaksaan ini namanya!" Stella mulai mengeluarkan air matanya. Tak terima ketika ia harus di nikahkan diam-diam dengan pria yang sedari tadi diam mematung. Aba Sagara dan Uma Sahara menghela nafas sembari istighfar dalam hati. Bingung ingin memberi pengertian apa pada sang anak. "Saya minta maaf," Sebuah suara yang terdengar berat dan tegas itu membuat semua pasang mata menoleh pada sosok yang sedari tadi terdiam. "Ya emang lo salah! Untung lo ganteng!" Ceplos Stella, membuat sang Aba dan Uma menahan tawa. Pria bernama Haidar itu akhirnya mengangkat pandangannya. Ia sedikit salah tingkah, dan tak tau harus menatap ke arah mana, melihat penampilan sang istri yang nampak terbuka. Istri? Bahkan dirinya tidak menyangka akan menikah dengan gadis yang nampak suka membelot itu. Ia juga tak menyangka akan menikah tanpa seorang wanita di sebelahnya. Seolah olah ia adalah suami tersembunyi. "Saya minta maaf, sudah membuat kamu kesal." "Ya emang!" Stella menatap garang pria yang nampak menatap tegas matanya. Tak menyangka, pria yang katanya memiliki status sebagai suaminya itu memiliki wajah dingin, tegas, dan juga mata tajam yang berwana abu-abu. Garis wajahnya memang nampak ke barat-baratan, dengan rambut pirang. "Apa saya boleh meminta waktu untuk berbicara empat mata saja?" *** Stella menyilangkan tangan di depan d**a. Matanya menyorot tajam pada pria yang berdiri menjulang di depannya. Mereka berada di halaman belakang rumah besar Stella yang langsung menghadap ke kolam renang. Semilir angin malam sedikit membuat tubuh Stella bergidik kedinginan. Pria yang Stella kenal bernama Haidar itu tiba tiba melepas kancing kemejanya. "Maaf," Pria itu menyodorkan kemejanya pada Stella yang menaikkan satu alisnya. "Saya takut menyentuh kamu. Bisa dipakai sendiri?" Lanjut Haidar. Stella menganga. Tak menyangka dengan perkataan pria itu. Baru kali ini loh, ada pria yang tidak berani menyentuhnya. Se-kuno apa pria di depannya ini?! "Hm!" Stella mengambil, dan langsung menyampirkan di bahu terbukanya. Aroma manly yang khas menguar dari kemeja pria itu, padahal, tadi ia tidak mencium aroma parfum sama sekali. "Saya minta maaf, kalau sudah membuat kamu terkejut dan marah." Tutur Haidar dengan kepala tertunduk. "Ya emang. Kalo gue sebutin satu satu kelakuan dajjal gue, lo ogah kali, kawin sama gue!" Tutur Stella ketus. Haidar mengulum bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya untuk menatap istri kecilnya yang ceriwis. "Kalau saya boleh tau, apa saja?" "Okey, kalo lo pingin tau. Tapi gue harap, lo gak sakit hati sampek pingin bunuh diri karena gue, ya." "Tidak akan, Stella." Suara Haidar yang berat dan tegas terdengar lembut. "Gue suka sama cowok badboy atau sugar daddy, bukan yang modelan kaku dan gak ngerti fashion kek lo." Stella menunjuk style Haidar yang sangat kolot. Haidar mengangguk. "Kedua, gue suka mabuk dan nge-vape." Haidar terdiam. "Ketiga, gue jarang solat dan gak bisa ngaji. Gimana?" Tantang Stella. Haidar mengangguk sembari mengulum bibir. "Iya, Stella. Saya tidak masalah." Stella geram, melihat pria di depannya teramat santai. Ada satu kartu paling buruk dari hidupnya yang belum ia keluarkan. "Satu lagi." Stella berjalan mendekat, suaranya mendesis. Langkahnya berhenti tepat di depan Haidar yang mematung. Stella mendongakkan kepala, bersiap membisikan kata, "Dan terakhir, gue udah nggak perawan. Masih mau lo sama gue?" Stella mengeluarkan smirk ejekannya. Haidar terdiam, sebelum kemudian menoleh, menatap Stella tepat pada maniknya. "Iya, saya terima kamu apa adanya, Stella." _______________ Profil Tokoh : - Samudera Haidar - - 24 tahun - lumayan alim - Kaku - Pendiam - Sangat teramat kudet - Pemalu - Sabar tingkat dewa - Positive vibes - Stella Aziya - - 20 tahun - Kuliah di Univ swasta terkenal - Mungil - Centil - Liar - Nakal - Bebal - Badas - Cerewet - Suka ngomel + ngamuk - Negative vibes *** Bagaimana dengan prolognya? Tolong ramaikan cerita ini yaa! Biar makin semangat!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD