Haidar mengetuk pelan pintu kamar Stella yang masih tertutup.
Tok tok tok!
"Stella, bisa tolong buka pintunya?" Lirih Haidar sembari terus mengetuk pintu kamar yang terkunci itu.
"Stella, saya minta tolong buka pintunya. Aba dan Uma kamu sebentar lagi bangun." Tutur Haidar.
Tangan Haidar tak hentinya mengetuk pintu kamar Stella. Ia sangat berharap pintu itu lekas terbuka, agar kedua mertuanya tidak menemukan dirinya yang nampak mengenaskan berdiri di depan pintu kamar istrinya.
"Stella, saya diluar. Jangan sampai Aba dan Uma melihat saya tidur di luar, bukan di dalam kamar kamu."
Tak lama pintu terbuka, menampilkan Stella dalam balutan baju tidur terbukanya.
"Masyaallah! Astagfirullah!" Haidar memekik sembari menutup matanya menggunakan telapak tangan.
Stella menggaruk lehernya yang gatal sembari mengecap, sesekali bibirnya menguap, akibat rasa kantuk yang tak bisa ia tahan.
"Apaan sih, anjir! Bawel banget lo! Gak liat apa gue lagi tidur?!"
Stella menggerutu dengan mata terpejam. Bibirnya ingin mengomel panjang lebar, tapi rasa kantuk dan malas lebih mendominasi.
"Maaf. Sa-saya, Astagfirullah hal adzim!" Haidar beristigfar, ketika Stella dengan santai menggaruk pahanya yang terbuka.
"Lo tidur dimana semalem?" Stella pada akhirnya mempersilahkan Haidar untuk masuk ke dalam.
Menurutnya lebih baik pria itu masuk, dari pada Aba dan Uma benar benar menemukan pria itu ada di luar kamarnya, dan berakhir dia yang diberi wejangan hingga telinganya panas.
"Di depan pintu." Jawab Haidar sembari berjalan ke dekat sofa kamar Stella untuk mengambil koper miliknya yang digeletakkan oleh Uma Sahara disana, kemarin sore.
Semalam Haidar tidur terduduk di samping pintu kamar Stella sembari menyender pada tembok.
Ia juga mendengar segala u*****n kasar dan makian yang ditujukan pada dirinya, ketika gadis itu berbincang di telepon entah dengan siapa.
Dan selanjutnya, Haidar tak tega mengganggu wanita itu yang menangis ketika bercerita perihal poster poster yang disumbangkan ke tetangga.
Pada akhirnya, Haidar memilih untuk mengistirahatkan diri dengan menyender pada tembok.
"Sebentar lagi masuk jam subuh. Jangan tidur dulu." Tutur Haidar lembut.
Stella yang sudah merangkak ke atas kasur menoleh ke arah Haidar cepat.
"Bacot lo! Lagi mens gue! Gak percaya, nih gue buka disini."
Haidar langsung menunduk. "Iya, saya percaya. Kalau sudah selesai mandi besar, kira solat bersama-sama ya,"
"Bodo amat! Kalo inget, ya gue solat!"
Haidar terdiam sebentar, mengusap bibir menggunakan lidah. Ia tak tau, harus menghadapi istri kecilnya ini bagaimana.
Pada akhirnya Haidar memilih untuk mandi, sebelum melaksanakan ibadah subuh.
"Apa saya boleh memakai kamar mandi?" Tanya Haidar dengan nada tak enak.
"Ya sono lo pakek! Dah ah! Bacot mulu dah!" Sentak Stella kesal setengah mati.
Haidar mengangguk, ia berjalan dengan tangan membawa pakaian ganti serta handuk menuju kamar mandi di ujung kamar Stella.
Beberapa saat kemudian mata Stella membelalak lebar. Ia teringat sesuatu. Dengan gesit, tubuhnya bangkit dari kasur dan berlari menuju kamar mandi yang pintunya hampir tertutup.
"Eittss!!" Stella dengan cepat menyelinap masuk.
Haidar kaget bukan kepalang. Ia terkejut sampai terlonjak. Tak menyangka dengan kehadiran istri kecilnya, yang hanya setinggi pundak langsung menyelinap masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu ingin mandi bersama saya?" Tanya Haidar langsung pada intinya.
Stella yang sedang mencomot beberapa sabun mandi botol dan keperluan miliknya langsunh mendelik, menatap kaca yang memantulkan ekspresi Haidar.
Wajah pria itu nampak memerah dengan raut tegang.
"Maaf, saya belum siap." Lanjut Haidar, ketika Stella masih melotot tajam ke arahnya.
"What?!"
Haidar mengelus dadanya, mendengar pekikan kencang istrinya yang menggelegar di seisi kamar mandi.
Stella mendecih sinis sembari menatap ke arah lain, asalkan bukan ke wajah sok polos milik suaminya.
"GUE CUMAN MAU AMBIL SABUN DAN SHAMPO MAHAL PUNYA GUE!! Lo pakai aja sabun Lifebuoy merah yang biasanya gue buat cebok, noh!" Amuk Stella dengan telunjuk mengarah pada sabun Lifebuoy merah yang sudah mengecil di tempat sabun dekat closet.
Kemudian Stella menghentakkan kakinya keluar kamar mandi, dengan seperangkat alat mandi berupa sabun dan shampo yang ia beli seharga ratusan ribu.
"Enak banget dia pakek sabun punya gue! Seserahan kewong aja dia kagak ada! Dasar cowok gak modal!!" Geram Stella dengan suara kencang, sengaja agar pria yang berada di dalam kamar mandi itu dapat mendengarnya.
***
Ketika Haidar menuruni tangga kamar dengan pakaian rapi, ia melihat ruang makan sudah penuh dengan makanan dan juga ketiga orang yang duduk di atas kursi.
Dapat ia lihat dari sini, tangan Stella yang berusaha mencomot ayam bakar, namun ditepis sang Uma sembari mengomel.
Jangan lupakan gadis itu hanya memakai sweater sepanjang paha. Bahkan penutup mata gadis itu masih terpasang di kepalanya.
"Ya Allah, nak! Malu sama suami mu! Mandi dulu sana! Kamu habis malam pertama pasti capek, kan." Uma Sahara sampai beristigfar, melihat kelakuan sang putri.
"Malam pertama apa sih, Uma. Mulai deh, mulai. Kesel banget ya aku dari kemarin." Stella mulai kesal. Nada suaranya mulai sedikit meninggi.
Haidar yang mendengar sang istri kecil mulai meninggikan suara di depan mertuanya langsung mempercepat langkah, ingin menghentikan perdebatan keduanya.
"Maaf saya terlambat." Hadiar menunduk sopan.
"Eh, gapapa Haidar, maklum penganten baru malamnya suka gaspol." Uma Sahara cekikikan, namun lansgung terdiam, melihat lirikan sang suami.
Stella membanting sendok yang ia pakai ke atas piring makannya. Rasa kesalnya benar benar tak terbendung.
"Terserah. Stella capek sama kalian."
Stella langsung bangkit dan berjalan menjauh dari ruang makan. Ia menutup telinga dari pekikan Uma yang beristighfar sembari menceramahinya.
"f**k YOU!" Pekik Stella, begitu sampai di lantai dua, dengan jari tengah yang menunjuk ke arah ruang makan.
Haidar terdiam di tempat. Sedikit kesusahan menelan salivanya. Bukan, ia bukan merasa marah dengan kelakuan Stella. Tapi, ia ragu, bisakah ia merubah sifat buruk istrinya itu?
***
Selesai mandi, Stella mengunci pintu kamar. Ia menghiraukan perutnya yang keroncongan. Tangannya membuka loker di samping tempat tidur, dan mengambil rokok elektrik yang biasa ia gunakan.
Duduk di kursi sembari mengisi vape dengan liquid rasa yang ia inginkan, Stella terus terbanyang dengan kejadian aneh bin rumit ini.
Bagaimana bisa, statusnya berubah begitu saja menjadi istri seorang pria alim? Bukankah katanya jodoh itu cerminan diri sendiri?
Tok tok tok!
"Stella, ini saya. Bisa tolong buka pintunya?"
Sebuah ketukan dan panggilan membuat kepala Stella menoleh. Dengan cepat ia menutup tutup botol liquid berperisa stroberi kesukaannya, kemudian meletakan di laci.
"SABAR WOI!" Pekik Stella kencang ketika pintu diketuk lagi.
Stella menyalakan vape lalu menghisap ujungnya sembari berjalan ke arah pintu.
Begitu pintu terbuka, ia langsung mengepulkan asapnya, tepat di depan Haidar yang membawa nampan piring berisi berbagai macam hidangan dan juga s**u.
Haidar sempat terkejut. Namun ia langsung mengubah raut mukanya menjadi seperti biasa.
"See? Gue senakal ini. Masih yakin lo sama gue?" Tantang Stella, sembari kembali mengepulkan asap ke depan wajah Haidar.
**
Bagaimana dengan chapter ini?
Spam komen next disini!
Spam komen lanjut disini!