Di sebuah desa kecil nan asri di jakarta barat, hiduplah , seorang gadis buta bernama Zahra Jasmine yang senyumnya mampu menerangi hari.
Kehilangan penglihatannya sejak kecil tak pernah memadamkan semangatnya yang membara.
Ia memiliki suara merdu, bak aliran sungai yang tenang, dan mampu menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Kecerdasannya pun luar biasa; ia mampu menghafal ratusan bait syair lagu tradisional .
Setiap pagi, Zahra setia menghiasi pasar dengan alunan kecapi dan suara emasnya, menyanyikan lagu-lagu nenek moyang yang penuh makna.
Zahra menggantungkan hidupnya dengan memainkan kecapi dan menyanyikan lagu-lagu tradisional Aceh di pasar setiap pagi.
Suaranya yang lembut, mengalun merdu, mampu menarik perhatian banyak orang yang lalu lalang di pasar yang ramai itu.
mampu menarik perhatian banyak orang, termasuk seorang pemuda tampan bernama Adam.
(Pasar tradisional yang ramai. Zahra duduk memainkan kecapi, suaranya merdu mengalun. Adam datang dan terpesona.)
Adam, seorang seniman muda yang baru pulang dari perantauan, terhenti di dekat Zahra.
Ia terpesona, bukan hanya oleh keindahan suara Zahra, tetapi juga oleh aura tenang dan damai yang terpancar dari dirinya.
Adam, yang selama ini mencari inspirasi di kota-kota besar, mendapati keindahan yang tak terduga di pasar kecil ini.
Ia terpaku, memandangi Zahra yang memainkan kecapinya dengan mata tertutup, seolah-olah ia melihat keindahan yang tak terlihat oleh mata biasa.
Adam: (Berbisik pada dirinya sendiri) Suara yang luar biasa...
Amir: (Menyikut Adam) Kau terpesona? Gadis buta itu?
Adam: Diamlah Amir. Ada sesuatu yang istimewa dari suaranya.
Aroma rempah-rempah dan jajanan pasar bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan, membuat suasana semakin syahdu.
Adam merasa ada sesuatu yang menariknya kepada Zahra, sebuah getaran yang tak terjelaskan.
Ia merasa terhubung dengan Zahra melalui musiknya, seolah-olah musik itu menjadi jembatan yang menghubungkan dua jiwa yang berbeda.
Setelah Zahra selesai memainkan lagunya, Adam memberanikan diri untuk menghampiri.
Ia ingin mengenal lebih dekat gadis buta yang telah memikat hatinya sejak senja itu.
Adam mendekat, langkahnya hati-hati, takut mengganggu konsentrasi Zahra yang masih terhanyut dalam melodi.
Aroma harum melati samar-samar tercium dari rambut Zahra yang terurai. Ia memberanikan diri untuk bersuara,
Adegan: Di taman, senja hari. Zahra baru saja selesai memainkan musik. Adam mendekatinya.
Adam: (Dengan sedikit gugup) Maaf, "Maaf, bolehkah aku berbicara denganmu sebentar?"
Zahra tersentak, senyumnya mengembang saat mendengar suara Adam.
Zahra: (Senyum lembut) Tentu saja.jawabnya lembut, suaranya seperti alunan musik yang menenangkan.
Adam duduk di sampingnya, merasakan debaran jantungnya semakin cepat.
Adam: Lagu barusan… luar biasa. Aku belum pernah mendengar yang seperti itu sebelumnya. Apa yang menginspirasimu untuk menciptakan lagu itu?
Zahra: Terima kasih. Aku terinspirasi oleh keindahan alam.
Meskipun aku tidak bisa melihatnya, aku bisa merasakannya melalui sentuhan angin di kulitku, suara dedaunan yang berdesir, dan aroma bunga yang harum.
Aku mencoba menuangkan semua itu ke dalam musik.
Adam: Itu… sangat indah. Kau menggambarkannya dengan begitu hidup. Aku… aku takjub.
Zahra: (Tertawa kecil) Terima kasih. Kau sendiri bagaimana? Apa yang kau lakukan di sini?
Adam: Aku… sebenarnya aku sering lewat sini, dan aku selalu mendengarmu bermain musik. Aku selalu penasaran…
Zahra: (Senyum) Jadi, kau… mengikutiku?
Adam: (Tersipu) Bisa dibilang begitu. Musikmu… menarik perhatianku.
Zahra: (Tertawa) Aku senang kau menyukainya. Ceritakan tentang dirimu.
Adam: Aku… (menceritakan sedikit tentang dirinya, hobinya, cita-citanya)
Zahra: (Mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menanggapi)
Adam: Kau… sangat inspiratif, Zahra. Cara kau memandang dunia… sangat berbeda. Kau kuat.
Zahra: Kita semua memiliki tantangan dalam hidup kita, Adam. Yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapinya.
Adam: Senja ini… sangat indah.
Zahra: Ya, memang. Rasanya damai sekali.
Adam: Aku… aku senang bertemu denganmu, Zahra.
Zahra: Aku juga, Adam.
(Keduanya terdiam sejenak, menikmati keindahan senja bersama.)
Adam duduk di sampingnya, merasakan debaran jantungnya semakin cepat.
Ia memulai percakapan dengan canggung, bertanya tentang lagu yang baru saja dimainkan Zahra.
Zahra menceritakan inspirasinya, tentang keindahan alam yang ia rasakan melalui sentuhan dan pendengarannya yang tajam.
Adam terpesona, bukan hanya oleh musiknya, tetapi juga oleh kecerdasan dan kepekaan Zahra.
Mereka berbincang lama, berbagi cerita tentang kehidupan, mimpi, dan harapan. Adam menyadari bahwa keterbatasan fisik Zahra tak menghalangi dirinya untuk meraih impian.
Justru sebaliknya, keterbatasan itu telah membentuknya menjadi pribadi yang kuat dan inspiratif.
Ia kagum dengan cara Zahra memandang dunia, dengan penuh syukur dan optimisme.
Senja kembali menyapa mereka, langit berubah warna menjadi oranye keemasan, menyapu bersih sisa-sisa hari yang telah berlalu.
Cahaya matahari yang meredup memantul di permukaan air laut, menciptakan kilauan bagai berlian yang tersebar di hamparan luas.
Angin pantai berbisik lembut di telinga mereka, membawa aroma garam dan aroma bunga kamboja yang harum.
Adam merasa waktu berhenti saat itu juga. Ia terpaku, menatap Zahra yang berdiri di sampingnya, siluet tubuhnya terukir indah oleh cahaya senja.
Kedamaian dan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya membanjiri jiwanya, begitu dalam dan begitu nyata. Ia menemukannya di sini, di tepi pantai yang sunyi, bersama Zahra.
Di mata Zahra, Adam melihat cerminan jiwanya, sebuah koneksi yang tak terbantahkan.
Senyumnya, yang biasanya tersembunyi di balik keraguan, kini merekah sepenuhnya, memancarkan cahaya yang sama indahnya dengan senja di hadapan mereka.
Ada kedalaman dalam tatapannya, sebuah pemahaman yang melampaui kata-kata.
Dalam diam, mereka berbagi momen sakral itu, sebuah ikatan yang terjalin oleh keindahan senja dan anak anak yang sedang bermain bersama orang tua nya.
Detik-detik berlalu, namun terasa abadi, seakan waktu berhenti untuk menyaksikan keajaiban cinta yang sedang tumbuh di antara mereka.
Angin senja membawa bisikan rahasia, sebuah janji akan masa depan yang cerah, penuh dengan cinta dan kebahagiaan yang tak terhingga.
Di bawah langit jingga keemasan, mereka menemukan surga kecil mereka sendiri, sebuah tempat di mana cinta dan kedamaian berpadu menjadi satu.
Mentari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan jejak warna jingga keemasan yang memukau di langit.
Adam dan Zahra berdiri berdampingan di dekat taman kota melihat anak anak bermain dengan ceria .
Detik-detik berlalu, namun terasa abadi, seakan waktu berhenti untuk menyaksikan keajaiban cinta yang sedang tumbuh di antara mereka.
Pandangan mereka bertemu, sebuah pertukaran tanpa kata yang lebih bermakna dari seribu ungkapan.
Dalam tatapan mata itu, terpancar kedalaman perasaan yang tak terungkapkan, sebuah koneksi jiwa yang begitu kuat dan nyata.
Angin senja berbisik rahasia di telinga mereka, membawa aroma kedamaian yang mendalam bahi mereka.
aroma bunga kamboja yang harum. Angin itu seakan menjadi perantara, menyampaikan janji akan masa depan yang cerah, penuh dengan cinta dan kebahagiaan yang tak terhingga.
Bayangan mereka berdua terukir di taman kota, seakan menjadi bukti abadi akan momen indah mereka.
Mereka saling mengenal satu sama lain membuat mereka merasakan kehangatan yang menenangkan di tengah semilir angin senja.
Di bawah langit jingga keemasan, mereka menemukan surga kecil mereka sendiri, sebuah tempat di mana cinta dan kedamaian berpadu menjadi satu.
Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan keindahan dan kedamaian yang mereka rasakan saat ini.
Hanya ada mereka berdua, di tengah keindahan alam yang luar biasa, diiringi tawa anak kecil dan bisikan angin senja.
Momen itu, sebuah kenangan indah yang akan selalu mereka simpan dalam hati, sebuah awal dari perjalanan cinta yang panjang dan penuh makna.
Senja itu menjadi saksi bisu, menyaksikan permulaan sebuah kisah cinta yang abadi.