"Ada apa, Kay?" Kayshilla tidak bergeming, tangannya terus memasukkan baju ke dalam koper. "Kayshilla!" sentak Aaraf saat istrinya tidak kunjung menjawab. "Saya kangen sama Umik. Setidaknya kalau di Jember tidak ada yang menyakiti saya, Mas." Pria itu menggelengkan kepala. "Kamu boleh pulang, tapi jangan mendadak seperti ini. Apa alasan yang akan kamu berikan pada Abah dan Umik nanti?" "Ada banyak alasan, Mas. Yang tidak ada itu alasan saya tetap bertahan dalam rumah tangga ini," sahut Kayshilla dengan suara yang sangat lirih. Aaraf terdiam. Ia sadar sikap buruknya selama ini, tetapi dirinya tidak menyangka Kayshilla akan berpikiran pergi. Apa yang akan ia katakan kepada Abah dan Umik? Yang ada malah hanya menambah masalahnya dengan Abah. Kayshilla menantu kesayangan, kalau Abah d

