Bab 9. Pertunangan

1205 Words
"Malam ini kita pakai baju couple, ya, Gus." "Buat apa?" Gerakanku memilah baju di lemari sontak terhenti mendapati jawaban dinginnya. "Biar kita serasi, Gus." Aku menoleh ke arah suamiku yang masih asyik dengan ponselnya. Pria tampan itu hanya mengangguk tanpa menjawab kata-kataku barusan, ia sama sekali tidak mengangkat pandangannya. Dengan cepat tanganku mengambil gamis berwarna coklat, tidak lupa kemeja, dan sarung untuk Gus Aaraf dengan warna senada. Setelah semuanya tertata rapi di ranjang, langkahku lantas menuju kamar mandi guna menyiapkan air hangat. "Silakan mandi dulu, Gus. Airnya sudah siap." Aku mengganti keset dan menaruh handuk untuknya, tetapi suamiku sama sekali tidak bergeming. 'Kuatkan aku, Ya Allah. Setelah ini Ayrani akan menikah, jadi Gus Aaraf tidak ada pilihan lain selain merelakannya. Semoga ini menjadi jalan untuk kami bisa semakin dekat,' batinku. Aku kembali ke ranjang untuk menyiapkan beberapa kado. Umik bilang kami harus memberikan bingkisan sebagai ucapan selamat. Entah itu selamat karena pertunangan Ayrani, atau selama karena Ayrani akan pergi dari benak suamiku. Tidak lama kemudian, Gus Aaraf sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia terlihat tampan dan gagah dengan balutan kemeja yang aku pilihkan. Apa lagi jambang halus dan bibir merah alaminya yang selalu menggetarkan d**a. "Kamu nggak siap-siap?" tanyanya yang tak ayal membuatku tersentak. "I-iya, Gus." Suamiku kembali sibuk dengan ponselnya, sementara aku lantas masuk ke kamar mandi. Aroma maskulin langsung menyeruak memenuhi indra penciuman. Aroma wangi yang selalu aku dambakan untuk ku dekap. "Kamu nggak tahu 'kan, Gus, kalau aku sangat menyukai aromamu." • Kami semua sudah siap dan sebentar lagi akan berangkat dengan Gus Aaraf sebagai supirnya. Abah duduk di depan, aku dan Umik di belakang menjaga bingkisan kami. Tidak seberapa lama kemudian mobil ini berhenti di depan rumah sederhana yang sudah tampak ramai tersebut. Abah dan Umik berjalan lebih dulu dan langsung disambut oleh pasangan paruh baya, mungkin itu adalah Paman dan Bibi Ayrani. Kemudian aku dan Gus Aaraf turut masuk. Kami duduk di tikar dengan para tamu undangan lain. "Terima kasih Pak Yai, Bu Nyai, sudah berkenan hadir di gubuk saya. Terima kasih juga kepada Gus dan Ning." Pria paruh baya itu berbicara sopan dengan menundukkan badan. "Kami juga berterimakasih sudah diundang ke sini, Zaki. Apa calonnya sudah datang?" "Mungkin sebentar lagi, Pak Yai. Pasalnya perjalanan lumayan jauh." Abah mangut-mangut dan meneruskan lagi perbincangan. Sesekali ujung netraku melirik ke arah suamiku, dia terlihat sayu dengan pandangan kosong. Entah apa yang ia rasakan, mungkin sakit hati lantaran wanitanya akan menjadi wanita lelaki lain. Beberapa menit kemudian, terdengar deru mobil memasuki halaman. Paman Zaki langsung bangkit yang diikuti oleh para kerabatnya, termasuk juga Abah. Ternyata kelurga calon laki-laki sudah datang. "Kamu kenapa, Gus? Kok kayak gelisah gitu?" "Eh, jangan asal nuduh, Kay! Aku cuma kebelet mau ke kamar mandi." "Oh, begitu. Ya sudah kamu ke belakang saja." Gus Aaraf mengangguk dan lantas bangkit menuju ke dalam. Mataku terus mengikuti pergerakannya, entah kenapa ada perasaan yang mengganjal. Gegas aku juga memilih bangkit dan meminta izin tuan rumah untuk numpang ke kamar mandi. Ternyata hanya ruang tamu yang banyak orang, di sini kosong. Mungkin keluarga Ayrani tidak terlalu banyak. "Kamu masih bisa pikirkan semuanya, Ay." Deg! Jantungku hampir melompat saat mendengar suara yang mirip suara suamiku dari balik lemari besar. Kakiku melangkah pelan dan mencoba mengintip siapa di sana, sepersekian detik kemudian aku hampir limbung saat melihat pemandangan di depanku. Jika tidak mengingat ini adalah rumah orang, pasti aku sudah berteriak dan mengamuk. Di depan mataku Gus Aaraf tengah berbicara dengan Ayrani, wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan gamis dan hijab berwarna putih. Wajahnya dipoles make up sehingga membuatnya bersinar dengan tetes air mata yang terus luruh dari netranya. "Saya akan menikah, Gus." "Aku bisa bawa kamu kabur!" 'Ya Allah ...,' batinku mencelos. Tanpa terasa air mataku menitik melihat suamiku begitu mempertahankan wanita lain. "Saya nggak bisa, Paman sama Bibi bisa malu kalau saya pergi." "Tapi hati kamu gimana? Kamu akan terluka kalau meneruskan ini, Ay! Kalau kita pergi, kita akan bahagia! Aku bisa membuat kamu bahagia!" "Gus ... pikirkan Ning Kayshilla! Dia istrimu, Gus!" "Aku tidak mencintainya, dia tahu kalau aku mencintai wanita lain! Aku belum menyentuhnya sama sekali, Ay! Aku cuma mau kamu. Ayo kita pergi mumpung masih ada waktu!" Aku menekan d**a dengan kuat, sebelah tangan lagi ku gunakan untuk membekap mulut. Netraku mulai kabur saat melihat Ayrani menunduk dengan kepala menggeleng, lalu Gus Aaraf memegang dagunya dan mengangkat wajah cantik itu. "Ayo kita pergi ...." Aku menggeleng dan memilih pergi. Hatiku terluka sakit bak ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungku. Aku ingin berteriak, memberitahu semua orang bahwa hatiku telah hancur berkeping-keping. Aku ingin meraung memaki takdir yang tidak memihak. Namun, lagi-lagi aku gagal karena cintaku telah jatuh kepada Gus Aaraf. Pria yang terang-terangan menolak ku. Pria yang begitu yakin membawa wanita lain kabur di hari pertunangannya. "Suamimu ke mana, Nduk?" tanya Umik saat melihatku kembali sendirian. Apa aku katakan saja kalau Gus Aaraf akan pergi bersama Ayrani? Apa aku bilang saja kalau putranya tidak pernah menginginkanku? Bibirku sudah terbuka dan hendak mengatakan kejadian yang beberapa menit lalu menghantam kewarasanku. Namun, terhenti saat netraku melihat Gus Aaraf muncul. "Itu Gus Aaraf, Mik. Tadi Kay duluan yang masuk kamar mandi, jadi Gus Aaraf lama." Umik menoleh ke belakang dan tersenyum saat mendapati putranya, kemudian beliau menatap lagi kepadaku, "Umik takut kalau kalian belum kembali. Soalnya acara mau di mulai." Aku hanya mengangguk, berusaha menata hati dan mengatur napas dengan menggumamkan kalimat toyyibah. Siapa tahu bisa mengobati nyeri dan sakit yang meranggas dadaku. Acara berjalan lancar dengan lelaki itu yang meminta Ayrani kepada Paman Zaki. Kemudian Ayrani turut keluar dengan dituntun Bibinya, kedua insan itu saling menautkan cincin sebagai tanda pengikat. Aku tidak menoleh ke arah Gus Aaraf. Aku sudah tahu pria di sebelahku ini pasti tengah merana, aku tidak mau semakin tersakiti kalau melihatnya. "Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Mahesa dan Ayrani sudah resmi bertunangan," ucap Paman Zaki. 'Alhamdulillah ... semoga suamiku bisa sadar setelah ini,' batinku. "Mereka pasangan yang serasi, ya, Nduk. Kang Mahesa ini Kang Santri yang mengabdi di pondok putra, seorang ustadz muda juga," celetuk Umik. "Semoga menjadi pasangan yang sakinah, Umik. Kay bahagia melihat Mbak Ayrani bahagia dengan pria pilihan Abah," jawabku dengan menekan suara disetiap intonasinya, berharap Gus Aaraf mendengar. "Iya, Nduk." Aku tersenyum menatap wajah Ayrani yang hanya tertunduk. Kang Mahesa cukup tampan dan parasnya berseri, dia memiliki garis wajah yang mirip dengan calon istrinya. *** Entah sudah jam berapa ini, aku terbangun dari tidur saat merasakan kantung kemih penuh. Kelopak mataku beberapa kali mengerjap, rasanya sangat berat sekali. Perlahan-lahan aku mulai ingat kalau sepulang dari rumah Paman Zaki tangisku langsung meledak di ranjang. Aku menangis cukup lama, menyesali takdir kenapa harus membawaku pada pernikahan yang rumit. Setelah lelah dengan air mata yang tidak mau berhenti, aku tertidur dengan membawa hati yang hancur. "Ya Allah, aku jadi sembab gini," gumamku. Aku langsung mendudukkan diri dengan kepala yang lumayan pusing, saat itu juga jantungku terhenyak karena mendapati Gus Aaraf tengah tergugu dalam tahajudnya. Gus Aaraf berdoa dengan isakan tangis pilu dan bahu bergetar. Aku tidak mendengar apa yang ia minta, tetapi hal ini membuatku semakin sakit hati. 'Siapa, Gus?! Siapa yang kamu panggil dalam tahujudmu sampai kamu seperti ini?! Nama siapa yang kamu minta dalam doamu, Gus. Apa nama Ayrani? Atau mungkin namaku?' batinku mulai sesak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD