Aku dan Gus Aaraf semakin dekat, apa lagi saat kelulusan sekolahku, ia menghadiahkan banyak buku. Aku memendam hubungan kami selama satu tahun setengah, bahkan Mbak Naya tidak tahu sama sekali. Gus Aaraf tidak pernah bertindak tidak menyenangkan terhadapku, ia selalu manis. Namun, ia masih menyembunyikanku dari Abah Yai dan Bu Nyai. Sampai akhirnya hari ini Gus Aaraf mengajakku ke suatu bukit yang terletak tidak begitu jauh dari Pondok Pesantren. "Aku mau bikin perusahaan, Ay. Aku mau bikin usaha sendiri di luar nama Abah." Aku sontak menoleh, "kenapa, Gus?" "Aku lelah kalau harus menjadi bayang-bayang. Aku nggak bisa menjadi diriku sendiri saat menjalankan pabrik." "Njenengan sudah yakin?" Gus Aaraf menganggukkan kepala, sesekali ia akan menghela napas dalam, dan menghembuskannya ka

