Nancy membuka matanya secara perlahan. Senyum puas itu masih bertahan di sudut bibirnya. Ia menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursi dengan gerakan santai, seolah barusan tidak terjadi apa-apa yang perlu dipikirkan terlalu jauh.
Ia berjalan menuju dapur, menyalakan lampu kecil di bawah kabinet. Cahaya temaram menyinari wajahnya yang tenang, dingin, dan penuh perhitungan. Nancy menuang air ke dalam gelas, lalu meneguknya perlahan sambil bersandar pada meja dapur. Pikirannya tidak kosong. Justru sebaliknya. Ia memikirkan Bella saat ini.
Tentang cara wanita itu selalu mempercayai orang dengan sepenuh hati. Tentang senyum lembutnya. Tentang bagaimana Bella memandang Julian seolah pria itu adalah satu-satunya tempat aman yang ia miliki.
Nancy mendecakkan lidah pelan. “Kasihan,” gumamnya lirih, entah ditujukan pada siapa.
Ia melangkah menuju kamar tamu. Pintu ditutupnya perlahan, nyaris tanpa suara. Begitu berada di dalam, Nancy menyandarkan punggungnya ke pintu, menutup mata sejenak. Ada rasa puas yang mengendap di dadanya—bukan sekadar karena Julian, melainkan karena keyakinan bahwa ia masih memegang kendali. Dan akan selalu seperti itu.
Nancy kemudian berjalan menuju ke ranjang, duduk di tepinya, lalu mulai melepas perhiasan kecil yang ia kenakan. Semua dilakukannya dengan sangat tenang.
Sementara itu di lantai atas, Julian berbaring di samping Bella. Tubuh istrinya menghadap ke arahnya, napasnya teratur, wajahnya tampak damai dalam tidur yang dalam. Julian menatap langit-langit kamar, matanya terbuka lebar. Ia benar-benar tidak bisa langsung memejamkan mata.
Tangannya kemudian perlahan meraih tangan Bella. Jari-jemari puan itu terasa begitu dingin, namun genggamannya terasa familiar. Aman. Terlalu aman.
Ada rasa bersalah yang menyelinap pelan, namun Julian menolaknya mentah-mentah. Ia menelan ludah, memalingkan wajah ke arah Bella, lalu memejamkan mata dengan paksa.
“Tidurlah,” gumamnya pada diri sendiri.
Namun bayangan senyum Nancy kembali muncul di benaknya.
+++
Pagi datang lebih cepat dari yang Julian inginkan.
Cahaya matahari menembus celah tirai, menyentuh wajah Bella lebih dulu. Wanita itu mengerang pelan, menggerakkan kepalanya sedikit sebelum akhirnya membuka mata perlahan. Namun yang dirasakan pertama kali adalah kepalanya yang masih terasa berat.
Bella mengangkat tangan, memijat pelipisnya pelan. Ia menghela napas, lalu menoleh ke samping—Julian masih ada di sana. Tidur menghadap ke arahnya, satu lengannya tergeletak di atas selimut.
Rasa lega langsung menyelusup ke dadanya.
Bella tersenyum kecil. Ia tidak membangunkan Julian. Perlahan, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Air hangat membantu sedikit meredakan sakit di kepalanya, meski perasaan lelah belum sepenuhnya hilang.
Saat keluar dari kamar mandi, Bella mendengar suara langkah dari bawah. Ia melirik jam di meja samping ranjang. Masih pagi.
Bella mengenakan robe tipis, lalu turun ke bawah dengan langkah pelan. Begitu sampai di dapur, ia melihat Nancy sedang menuang kopi ke dalam cangkir.
“Oh, kau sudah bangun,” ucap Nancy sambil tersenyum santai, seolah malam tadi hanyalah malam biasa.
Bella tersenyum balik. “Iya. Kepalaku masih sedikit pusing, tapi sudah sedikit membaik.”
Nancy mengangguk pelan. “Syukurlah kalau begitu."
Ada jeda sesaat di antara mereka. Bella duduk di kursi dapur, memperhatikan gerak-gerik Nancy tanpa curiga. Sementara Nancy—ia sangat sadar akan tatapan itu.
“Kau tidur nyenyak semalam?” tanya Nancy santai.
Bella mengangguk. “Lumayan.”
“Julian juga,” sambung Nancy. “Aku sempat lihat dia ke kamar setelah dari dapur.”
Bella mengangguk lagi, tanpa berpikir lebih jauh. Jika saja ia tahu.
Nancy menyerahkan secangkir kopi pada Bella. “Minum dulu. Agar kepalamu tidak terlalu berat.”
“Terima kasih, Nance.”
Nancy hanya tersenyum kecil. Lalu Julian muncul tak lama kemudian. Pria itu tampak mengenakan kemeja kasual, wajahnya tampak biasa saja—terlalu biasa. Namun begitu matanya bertemu dengan mata Nancy, ada kilatan singkat yang tak luput dari perhatian wanita itu. Begitu singkat, yang mana hal itu sama sekali tak terlihat oleh Bella.
“Pagi,” ucap Julian, suaranya datar.
“Pagi,” jawab Bella dan Nancy hampir bersamaan.
Julian menuang kopi untuk dirinya sendiri. Ia berdiri, menyesap minumannya, lalu berkata, “Nanti aku ada urusan sebentar. Kalian berdua santai saja di rumah.”
Nancy menoleh ke arahnya. “Tidak apa-apa. Aku juga rencana pulang setelah ini.”
Julian tersenyum. “Kalau begitu, hati-hati di jalan nanti.”
Nancy mengangguk. “Tentu.”
Namun sebelum benar-benar pergi, Nancy mendekat ke Bella. Ia merangkul pundak wanita itu sebentar, gesturnya hangat dan akrab.
“Jaga diri baik-baik, Bell,” katanya lembut.
Bella membalas pelukan itu tanpa ragu. “Kau juga.”
Nancy melirik Julian sekilas. Senyumnya samar—nyaris tak terlihat.
Nancy melangkah keluar dari rumah itu menjelang siang. Udara terasa lebih hangat dibanding pagi tadi. Ia menuruni anak tangga dengan langkah mantap, seolah tidak meninggalkan apa pun di belakangnya. Padahal, ia tahu—ia baru saja menanam sesuatu. Sesuatu yang akan tumbuh pelan-pelan.
Mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah Bella. Di kaca spion, bangunan itu makin mengecil, lalu menghilang sepenuhnya. Nancy menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis.
+++
Bella berdiri di depan jendela ruang tamu, memperhatikan mobil Nancy hingga benar-benar hilang dari pandangan. Ia masih memeluk cangkir kopinya, yang kini sudah hampir dingin. Entah sejak kapan, perasaan tidak nyaman itu kembali menyelinap, halus namun mengganggu. Ia menggeleng kecil, mencoba menepisnya.
“Mungkin aku terlalu lelah,” gumamnya pelan.
Bella berbalik, melangkah ke dapur untuk meletakkan cangkir. Rumah itu terasa sunyi. Terlalu sunyi.
Padahal, biasanya ia menyukai ketenangan. Namun hari ini, ada sesuatu yang berbeda. Seolah udara di sekelilingnya menyimpan gema yang tak bisa ia dengar, tapi bisa ia rasakan.
Julian sudah pergi. Ia bahkan tidak pamit lama. Hanya ciuman singkat di kening, lalu langkah cepat menuju pintu. Biasanya Bella tidak mempermasalahkan itu.
Biasanya.
Ia naik ke lantai atas, kembali ke kamar mereka. Tempat tidur sudah rapi, namun aroma pagi masih tertinggal. Bella duduk di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam. Tangannya meraih ponsel di meja samping, menatap layar tanpa benar-benar berniat membuka apa pun.
Pikirannya kembali ke percakapan singkat di dapur.
“Julian juga,” kata Nancy tadi. “Aku sempat lihat dia ke kamar setelah dari dapur.”
Bella mengerjap. Kenapa kalimat itu terasa… aneh?
Ia mencoba mengingat. Malam tadi, ia tertidur cepat. Kepalanya pusing, tubuhnya lelah. Ia tidak mendengar apa pun setelah itu. Tidak ada langkah. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.
“Jangan berpikir macam-macam, Bella! ” bisiknya pada diri sendiri.
Bella bangkit, memutuskan untuk mengalihkan pikirannya. Ia membersihkan kamar, mengganti seprai, membuka jendela agar udara segar masuk. Aktivitas sederhana itu biasanya cukup untuk menenangkan hatinya.
Namun hari ini, bahkan hal-hal kecil terasa berat.
Sementara itu, Julian duduk di balik kemudi mobilnya, menatap jalanan tanpa benar-benar fokus. Lampu merah menyala, dan ia berhenti. Tangannya mencengkeram setir lebih erat dari biasanya. Pikirannya kacau.
Ia teringat tatapan Nancy pagi tadi. Singkat, penuh makna, dan terlalu akrab. Tatapan yang seolah berkata, aku tahu, dan kau juga tahu.
Julian mengumpat pelan, menunduk sebentar sebelum kembali menatap jalan saat lampu berubah hijau.
Ia merasa terjebak di antara dua dunia yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada Bella—tenang, penuh pengertian, dan selalu berusaha menjaga rumah tangga mereka tetap utuh. Di sisi lain, ada Nancy—liar, penuh tantangan, dan membawa sesuatu yang membuatnya merasa hidup dengan cara yang berbahaya.
Julian tahu, ia seharusnya berhenti. Ia juga tahu, ia tidak yakin bisa.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa—setidaknya di permukaan. Bella kembali dengan rutinitasnya. Mengurus rumah, bertemu beberapa kenalan, sesekali keluar bersama teman. Julian tetap sibuk dengan pekerjaannya, pulang larut, membawa lelah yang tak selalu bisa ia jelaskan.
Namun ada jarak yang mulai terasa. Bukan jarak fisik. Melainkan sesuatu yang lebih halus. Cara Julian menjawab pertanyaan Bella dengan singkat. Cara ia lebih sering memeriksa ponselnya. Cara sentuhannya terasa… berbeda. Tidak hilang, tapi tidak juga sama.
Bella merasakannya.
Suatu malam, mereka duduk bersebelahan di sofa, menonton acara yang sama-sama tidak benar-benar mereka perhatikan. Bella melirik Julian, lalu memberanikan diri bicara.
“Kau kelihatan lelah sekali akhir-akhir ini,” katanya pelan.
Julian menoleh. “Hm, mungkin karena pekerjaanku sedang terlalu banyak.”
Bella mengangguk. “Kalau begitu, akhir pekan ini kita pergi ke luar kota saja bagaimana? Hanya sebentar. Anggap saja agar kau bisa istirahat.”
Julian terdiam sejenak. “Aku lihat nanti.”
Jawaban itu membuat d**a Bella terasa sedikit sesak.
“Julian,” ucapnya lagi, kali ini lebih hati-hati. “Ada apa?”
Julian menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, Bella berharap pria itu akan berkata jujur. Apa pun itu. Namun yang ia dapatkan hanyalah senyum tipis.
“Tidak ada apa-apa, Bell. Kau terlalu banyak berpikir.”
Bella tersenyum kecil, meski hatinya tidak sepenuhnya percaya. “Mungkin.”
Namun malam itu, Bella sulit tidur.
Nancy duduk di sebuah kafe kecil dua hari kemudian. Ia mengaduk minumannya pelan, matanya sesekali melirik ponsel di atas meja. Nama Julian muncul di layar—pesan singkat, sederhana, namun cukup membuatnya tersenyum.
[Kau sibuk?]
Nancy membalas cepat.
[Untukmu? Tidak pernah.]
Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar.
[Aku perlu bicara.]
Nancy mengangkat alis, lalu tersenyum lebih lebar.
[Tempat biasa.]
Ia tahu Julian akan mengerti. Dan benar saja, satu jam kemudian, mereka duduk berhadapan di tempat yang sama—tempat yang tidak pernah Bella datangi, tempat yang aman dari tatapan orang-orang yang mengenal mereka.
“Kau terlihat sangat kacau,” komentar Nancy sambil menyeruput minumannya.
Julian mendesah. “Aku merasa semuanya makin rumit.”
“Karena kau membiarkannya menjadi rumit,” jawab Nancy ringan.
Julian menatapnya. “Kau tahu maksudku.”
Nancy menyandarkan punggung ke kursi. “Aku tahu. Dan aku juga tahu, kau tidak benar-benar ingin aku menjauh.”
Julian terdiam. Kemudian Nancy mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan. “Kau hanya takut.”
Tak ada bantahan.
Di rumah, Bella berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangan dirinya sendiri. Matanya tampak lelah. Ada garis tipis di antara alisnya yang sebelumnya tidak ada. Ia menghela napas, lalu memercikkan air ke wajahnya. Ia tidak bodoh.
Bella mulai menyadari perubahan kecil itu. Terlalu banyak kebetulan. Terlalu banyak keheningan yang tak terjelaskan. Ia mencoba mempercayai Julian, karena itu yang selalu ia lakukan. Namun perasaan di dadanya terus berdenyut, pelan tapi konsisten. Ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Malam itu, saat Julian akhirnya pulang, Bella menyambutnya seperti biasa. Senyum, makan malam, percakapan ringan. Namun kali ini, ia lebih banyak memperhatikan. Gerak-gerik kecil. Tatapan yang menghindar. Sentuhan yang cepat dilepas.
Saat Julian tertidur, Bella tetap terjaga. Ia menatap wajah suaminya dalam gelap, bertanya pada dirinya sendiri—sejak kapan rasa aman itu mulai terasa rapuh?
Dan di tempat lain, Nancy berdiri di depan jendela apartemennya, menatap lampu kota yang berkelip. Ia memegang ponselnya erat, membaca ulang pesan terakhir dari Julian.
[Aku akan datang besok.]
Nancy tersenyum puas. Ia tahu, semakin Bella berusaha mempertahankan dunianya, semakin besar celah yang tercipta. Dan di celah itulah, Nancy akan masuk—perlahan, tanpa tergesa, tanpa perlu memaksa.
Karena ia tahu satu hal dengan pasti.
Beberapa kebohongan tidak perlu diungkapkan dengan kata-kata.
Cukup dibiarkan tumbuh… sampai akhirnya menghancurkan segalanya dari dalam.