Pactum | 56

2044 Words

Natasya terlonjak kaget ketika meletakkan tangan Xavier ke pipinya. Tidak seperti biasanya yang terasa dingin, kali ini tangan itu entah kenapa terasa hangat. Natasya tidak salah, dia benar-benar merasakan adanya kehidupan lagi. Ketika sibuk bercerita bersoalan hidupnya yang penuh liku, dari yang dulunya sangat membenci Kenan, kini dia berani membuka hati sampai akhirnya terjatuh juga pada pria itu. Jari telunjuk Xavier bergerak, Natasya menganga. Dadanya bertaluan kencang, air mata sudah tidak dapat dia bendung. "Ya Tuhan, Ayah!" gumam Natasya. Dia meletakkan tangan Xavier di atas tangannya, melihat dengan seksama apakah jemari itu benar-benar melakukan pergerakan atau hanya halusinasi. Cukup lama tidak nampak terjadi apa pun, Natasya kembali bersedih. Apakah dia terlalu berharap? "Aya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD