Bab 18

928 Words
BLUSH... pipi Daniel sekarang sudah memerah. walaupun Daniel sudah melakukan nya dua kali bersama Nadine, tapi entah kenapa Daniel merasa malam ini akan lebih panas. Lihat saja Nadine yang dari tadi merayu Daniel tidak karuan, tangan nya yang jahil berjalan ke sana kemari. Nadine dengan sengaja menghembuskan nafas nya di belakang telinga Daniel, Nadine benar-benar seperti istri yang memuja suaminya. Entah ini sebuah berkah atau bagaimana , yang jelas biarkan Daniel dan Nadine bahagia Nadine , sejak aku berumur 10 tahun nama itu terus saja menjadi khayalan ku , kehadiran nya hari itu membuat aku begitu menginginkan dia, dia menjungkir balikkan hidupku. bagaimana tidak, saat itu aku masih nakal - nakal nya dan tidak tau apa itu cinta, hanya tau main bersama teman - teman. Hingga pada suatu hari Mama memberi tahuku jika teman nya yang biasa kami kunjungi bila di Indonesia telah melahirkan seorang putri. Dengan terburu - buru aku dan Mama pulang ke Indonesia Negara kelahiran Mama. Aku marah, aku murka karena harus meninggalkan teman - teman ku, demi seorang bayi. "Ah... sangat menjengkelkan waktu itu. Mama terus saja memaksa, membuat aku akhirnya ikut. Kami sampai dengan cepat karena Papa ku punya Jet pribadi, Aku masuk ke ruangan yang sepenuh dengan orang . Dari jauh aku , mendengar suara orang yang sedang berbincang. Mereka saling melepas rindu ketika Mama dan Papa datang. Aku pun tak luput dari kecupan rindu mereka. Aku yang masih kecil lebih memilih duduk di pojok ruangan sambil memakan coklat kesukaan ku, sampai seorang suster datang menggendong seorang bayi mungil. Suster itu menyerahkan sang bayi pada teman Mama. Di saat itulah aku dengan jelas melihat wajah bayi itu. Semua orang yang berada di sana tertawa bahagia. Sedangkan aku terus menatap bayi itu , bayi itu seperti tersenyum hangat pada ku. "Bagaimana kalau kita memanggil nya Nadine ucap Mama ku kepada semua orang.. "Ah... bela.. itu cantik sekali, aku mau menjadi Bunda Nadine ucap teman Mama bahagia dan semua orang tertawa. Rambut hitam tebal, dengan kulit yang seputih s**u, bibir nya sangat merah ,dia terlihat begitu manis dan cantik untuk bayi yang baru lahir. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari pada biasanya, entah kenapa aku pun memegangi d**a ku. Aku belum pernah merasakan hal seperti ini, bayi kecil di hadapan ku ini terlihat sangat bercahaya. Aku pernah menonton acara kartun di tv, siapa yang menikahi gadis dengan wajah bercahaya . Maka kehidupan nya akan bahagia selama nya. aku sangat terpesona oleh Nadine, dan kau ingin hidup dengan nya. Aku yang tidak ingin menyia - nyiakan keadaan langsung berdiri ke arah Nadine dengan meninggalkan coklat kesayangan ku di meja. Aku mengambil jari - jari kecil Nadine dan mengecup nya. Aku melamar Nadine di depan semua orang, MENIKAHLAH DENGAN KU ! Semua orang di ruangan itu iba - tiba menertawakan aku, aku mengerutkan kening ku . "Apa yang kalian tertawakan tanya ku. Mereka tidak menjawab malah tawa mereka semakin kuat. Aku sangat kesal sampai menangis di pelukan Mama ku, aku mogok makan dan tidak mau melakukan apapun. Mama pikir aku hanya main - main, sampai kami kembali pulang ke Singapura tempat Papa dan Mama ku bekerja mengembangkan perusahaan kakek. Aku tetap tidak mau melakukan apapun, malah aku semakin menunjukkan kekesalan ku. Aku mulai tidak ingin berangkat ke sekolah. Mama dan Papa tampak nya mulai mengerti dan mengajak aku bicara. "Apa yang kau lakukan Daniel ? apa ini ? tanya Mama padaku. "Daniel hanya ingin menikah dengan Nadine, ma!” tidak ada respon dari kedua orang tua ku, mereka hanya saling pandang saja. "Baiklah, kau akan menikah dengan Nadine, asal kau mampu menyelesaikan semua tugas yang Papa berikan. "Apa itu pa ? "Nanti kita bicarakan lagi ucap Papa yang langsung berdiri masuk ke kamar nya. Ke esokan harinya , Papa menemuiku di kamar bersama Mama. Memberikan aku semua daftar tugas yang harus aku selesaikan. ada beberapa point di sana. Aku sempat lemas ketika sudah membaca nya pelan - pelan. Tapi senyuman Nadine di hari itu membuat aku mengatakan akan melakukan semua ini dengan baik. Padahal kan aku tau batas kemampuan ku. Hari ini aku berumur 18 tahun dan Nadine 8 tahun. Di saat itu aku harus masuk kuliah di Universitas terbaik dengan otak ku yang pas - pasan, itu termasuk dalam tantangan Papa. Mama masuk ke dalam kamar ketika aku mulai membuat contekan di kertas kecil. "Daniel, di sana tidak bisa mencontek. kau akan di black list oleh mereka ucap Mama lembut sambil menggosok tubuh ku. Mama memberikan selembar foto pada ku, Gadis dengan rambut panjang sampai batas tengah punggung dengan senyum manis nya seolah menatap ku penuh semangat. Entah mungkin aku sudah menjadi b***k cinta. Aku menjadi sangat semangat setelah mendapat satu lembar mood booster ku. aku mengecupi foto Nadine berkali - kali sambil menghafal bacaan yang akan keluar pada test masuk Universitas. Walaupun tubuh Nadine tidak se seksi perempuan dalam majalah yang sering aku baca, atau se menggoda gadis yang aku tonton dalam film. Entah kenapa melihat senyum nya saja membuat jantung ku berdegub - degub. Malam itu juga aku mulai memimpikan Nadine, mimpi nakal hingga membuatku basah. Sialan, aku benar-benar ingin cepat menikah. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapapun bahkan Mama ku sendiri. Beberapa hari seteleh pengumuman kelulusan masuk universitas, aku yang berhasil lolos bersikeras ingin menemui Nadine di Indonesia. Mama sangat tidak setuju aku berangkat sendiri, tapi karena cinta ku yang kuat , Aku menemuinya secara diam-diam. Dalam beberapa hari aku benar-benar seperti penguntit, pertemuan pertama setelah aku dewasa ini membuat aku terpesona untuk ke dua kali nya. Seakan ada kupu - kupu di d**a ku, aku tersenyum - senyum sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD