Autor POV
Desa tempat tinggal Faiha memang terkenal dengan para ulamanya. Termasuk juga abinya yang sudah dikenal sebagai ulama di tempat tersebut. Kini desa itu pun bertambah lagi terkenalnya dengan Faiha sang Hafidzah. Namun selain dengan para ulamanya, desa ini pun terkenal dengan kejahilan para anak-anaknya. Anak-anak di desa ini sangat jahil, terutama yang laki-laki. Kejahilannya naudzu billah.
Saat sholat di masjid akan berlangsung, banyak segrombolan anak-anak berumur sekitar 5-10 tahun berkumpul dia area sekitar masjid. Mereka berkumpul bukan karena akan sholat, malah sebaliknya. Mereka berkumpul untuk menjahili orang-orang yang berniat beribadah di masjid. Sekelompok anak-anak itu memang terkenal jahil dan nakal.
Tidak sedikit orang-orang yang telah memarahi mereka, namun tetap saja jahil dan nakal. H. Saiful pun pernah menasehati mereka, tapi nasehatnya hanya mereka anggap sebagai angin lalu. Mereka juga pernah sampai kena hukum oleh Hamzah karena kejahilan mereka.
Banyak sekali kejahilan-kejahilan yang mereka perbuat pada orang-orang. Yang paling sering mereka lakukan adalah menakuti orang-orang yang akan pergi ke masjid dengan cara apapun.
Mereka pernah menjahili orang dengan bersembunyi dan memakai topeng seram. Mereka bersembunyi di tempat gelap kemudian keluar ketika ada orang yang melintas. Orang-orang sampai lari terbirit-b***t karena ketakutan, sedang mereka tertawa lepas.
Mereka juga pernah melempari jamaah-jamaah yang akan melaksanakan sholat dengan petasan. Para jamaah sampai meloncat-loncat karena ketakutan sekaligus terkejut. Para jamaah hanya bisa mengusap d**a dan mengucap istigfar ketika terkena kejahilan mereka. Percuma saja memarahi atau menasehati mereka. Toh itu hanya akan mereka anggap sebagai tong kosong dan angin lalu.
###
Saat sedang khusu’-khusu’nya menjalankan sholat, mereka kembali berulah dengan kejahilan. sempat terdengar ada keributan di luar area masjid tapi kemudian mencoba untuk khusu’ kembali.
“Bi jangan ayo kita ikut sholat aja deh nanti kita kena marah lagi sama orang-orang.” ucap anak yang menolak rencana sekelompok anak jahil itu.
Mereka sekarang berada di depan masjid. Entah rencana apa yang akan mereka lakukan untuk menjahili para jamaah sholat.
“Ih kamu bim penakut banget sih kan udah biasa juga kena marah.” kata anak yang di panggil Bi itu.
“Ta Tapi Bi nanti di hukum sama Ust. Hamzah.” kata anak yang ternyata bernama Abim ini takut.
“Udah lah nanggung udah deh. Ststst jangan pada berisik, nanti ketahuan ustadz. Biar seru...!” kata anak bernama Biyan yang notabenenya adalah pemimpin geng jahil ini. Biyan mengumpulkan sandal para jamaah sholat di tangannya.
“Sekarang kita sebar sandalnya.....kamu kesana..kamu kesana......” katanya sambil menunjuk tempat-tempat untuk menyembunyikan sandal-sandal itu.
‘Assalamu’alaikum warohmatullah.......................assalamu’alaikum warohmatullah’ terdengar salam dari dalam masjid menandakan bahwa para jamaah sudah selesai dengan sholatnya. Namun para jamaah tidak langsung keluar mereka bermujat, berdzikir terlebih dahulu.
“Hei udah salam tuh ayo kita pergi jangan sampai ketahuan sama ustadz Hamzah.” Seru Biyan pada teman-temannya.
Setelah selesai berdzikir dan berdo’a Faiha berencana akan langsung kerumah Tasmira. Namun apa yang terjadi? Hiyya harus rela terlambat karena ulah Biyan dan teman-temannya.
###
Aku keluar dari masjid setelah selesai berdo’a dan berdzikir. Aku berencana akan langsung ke rumah Tasmira, karena sejak tadi ponsel yang ku silent bergetar. Setelah ku lihat ternyata benar Tasmira sudah menghubungiku beberapa kali.
Keluar masjid betapa terkejut nya aku. “Astaugfirullahal’adziim......”teriakku. Dan semua jamaah saat itu keluar dari masjid. Mas Hamzah datang mengahampiriku.
“Ana apa ta dek kok teriak-teriak ini masjid lho..” katanya. Aku hanya diam kemudian menunjuk bagian bawah masjid yang sudah kosong tanpa ada satu pun sandal dari para jamaah sholat.
Mas Hamzah sama terkejutnya.
“Ini pasti kerjaan Biyan sama teman-temannya yo wis dek kamu bantu jama’ah buat nyari sandalnya ya. mas tak cari dulu Biyannya. Assalamu’alaikum.”
“Inggih mas wa’alaikumsalam.” kataku.
“Pasti Biyan sama temen-temenya bakal di hukum sama mas Hamzah nih kalo gini. Kasian juga sih tapi ya mau gimana lagi, jahilnya itu lho....” batinku. Kemudian aku membantu mencari sandal jamaah dan juga sandalku sendiri pastinya.
“Lha dalah – dalah, iki moleh sembayang malah nyari sandal. Wis wis anake sopo kok yo bethik tenan iki.” kata ibu-ibu sambil mengelus dadanya.
“Sabar bu....” kataku. Semua jamaah gusar karena ulah Biyan dan kawan-kawan.
Hampir setengah jam mencari semua sandal jamaah sudah di temukan, bahkan mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya sandalku saja yang belum ketemu.
“Aduh mana sih, nih sandal kok gak ketemu juga. kan ini akunya udah di tunggu dari tadi...” kataku sambil tetap mencari sandalku di seluruh area masjid. Aku frustasi karena dari tadi aku mencari bukan sandalku yang ku temukan malah sandal orang lain.
Drrrtttt
Kemudian ponselku berdering mengalunkan lagu bidadari surgaku dari Alm. Uje. Ku lihat siapa yang menelponku. Nama Tasmira yang tertera di layar ponselku.
“Tuh kan....baru aja di omongin orangnya udah nelpon.” kataku kemudian kuangkat telponnya dengan menggeser pada tombol hijau.
“Halo assalamu’alaikum iya Tas”
“.........”
“Oh...iya maaf yah aku telat, bentar lagi aku kesana kok.”
“........”
“Iya haduh jangan pada pulang dulu dong ini bentar lagi kesana, tunggu ya. ”
“........”
“Iya ini mau cepet. Ya udah ya, Assalamu’alaikum.”
Aku menutup telponnya aku benar-benar frustasi sekarang. Sandalku belum juga ketemu. Aku bingung sekarang.
“Ya Allah masak aku ke rumah Tasmira nyeker sih bisa di ketawain habis-habisan aku.” kataku dalam hati.
“Bantu hamba ya Rab” kataku.
♠♠♠