Elena baru selesai menyetrika pakaian saat jam sudah menunjukkan pukul empat sore—waktunya ia menjemput beberapa anak di sekolahnya. Segera ia bersiap agar anak-anak tidak menunggunya terlalu lama.
“Elena.”
“Iya Bunda,” kata Elena menengok sebentar lalu kembali merapikan rambutnya.
“Kau tidak perlu menjemput anak-anak. Aku sudah meminta petugas keamanan disini untuk menjemput mereka,” kata Savannah yang berdiri diambang pintu kamar Elena. “Kau harus bersiap.”
“Bersiap? Bukannya aku tidak perlu menjemput anak-anak lagi?”
“Kau harus bertemu seseorang.”
“Seseorang? Siapa?”
Savannah tersenyum kecil. “Seseorang yang akan mengadopsimu.”
“Mengadopsiku? Tapi Bunda, aku—”
“Bersiaplah.”
Setelah berbicara seperti itu, Savannah pergi dari tempatnya berdiri dan meninggalkan Elena yang masih bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.
Mengadopsi? Setelah sekian lama aku tinggal disini baru sekarang ada yang mau mengadopsiku?
Elena yang memang sudah siap kemudian mengambil langkah menuju ruang pertemuan. Beberapa anak terlihat sedang bermain di taman, namun saat mereka melihat Elena segera mereka bangkit dan memeluknya sejenak. Ya, itulah kebiasaan anak-anak panti yang Elena sukai.
Pintu ruang pertemuan yang terbuka membuat Elena bisa melihat siapa yang sedang berada didalam. Savannah terlihat sedang menceritakan sesuatu pada calon ‘orang tua baru’ Elena sebelum ia menyodorkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani oleh orang itu.
“Ayo masuk Elena.”
Suara Savannah yang mempersilahkannya masuk membuat Elena mengambil langkah dan berdiri dekat dengan Savannah. Senyum kecil mengembang diwajah Elena untuk menutupi matanya yang sedang menyelidiki orang yang duduk tepat didepan Savannah ini.
“Maaf, saya terlalu lama membuat kalian menunggu. Anak-anak tidak memperbolehkan saya pergi kemari,” kata Elena sebagai kalimat pembuka.
Penyelidikan Elena menghasilkan kesimpulan bahwa seseorang yang akan mengadopsinya ini adalah laki-laki berusia sekitar tigapuluh tahunan dengan seorang istri cantik yang hidup bahagia namun masih belum dikaruniai seorang anak. Wajahnya masih terlihat sangat muda, namun guratan lelah dan janggut tipis yang ada diwajahnya membuat tampilannya sedikit terlihat tua.
“Tidak apa-apa,” kata laki-laki itu seraya tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Elena. “Saya Kynnan Orlando.”
Elena juga tersenyum sembari menyambut jabatan tangan Kynnan. “Elena, Elena Jasmine.”
“Nama yang indah.”
“Tuan Kynnan adalah orangtua barumu sekarang,” kata Savannah ikut berbicara. “Lebih baik sekarang kau bereskan pakaianmu, ia akan menunggumu disini.”
“Jangan terlalu banyak membawa pakaianmu, aku tidak ingin kau kesulitan membawanya,” kata Kynnan menimpali.
“Baiklah.”
Elena memilih untuk berjalan di lorong paviliun untuk menghindari anak-anak panti yang sedang asyik bermain. Ia masih belum siap untuk mengucapkan salam perpisahan dengan mereka—meskipun itu harus ia lakukan cepat atau lambat.
Sungguh, tidak pernah terpikirkan oleh Elena kalau ia akan pergi dari rumah yang selalu menjadi saksi bisu kehidupannya ini. Hatinya perlahan hancur setelah ia melihat kamar yang ia tempati kini sudah rapi dan terlihat lengang karena seluruh barangnya telah berpindah kedalam tas yang ia genggam.
“Kak Elena!” Tanpa Elena sadari, seluruh anak-anak yang sedang bermain di taman sebelumnya telah berlarian kearahnya dengan wajah panik karena melihat Elena menggenggam dua tas besar ditangannya. “Kau ingin pergi?”
Elena bingung, ia bingung harus menjawab apa. Ia tidak ingin melukai perasaan anak-anak panti apabila ia mengatakan yang sesungguhnya, namun Elena sadar kalau ia harus jujur meski itu akan menyakiti mereka semua. “Ya, aku akan pergi.”
“Kenapa kau mau meninggalkan kami?” tanya Ethan dengan suara seperti sedang menahan tangis. “Apa kau tidak menyayangi kami?”
“Ethan,” Elena berlutut dihadapan Ethan. Hatinya hancur melihat wajah anak-anak yang kecewa dengan kepergiannya. “Jangan—”
“Elena akan sering berkunjung untuk menemui kalian.”
Dua tangan besar membantu Elena untuk berdiri. Ya, itu tangan milik Kynnan. Dan suara tadi juga suara Kynnan. Ada senyum terukir diwajah Kynnan, membuat Elena semakin penasaran dengan orang yang berdiri disebelahnya saat ini.
“Ayo,” Ajak Kynnan seraya membawa dua tas milik Elena.
Elena mengangguk pelan. “Jaga diri kalian baik-baik, jangan nakal. Kalau ada waktu, aku akan kemari mengunjungi kalian.”
Kenyataan harus dihadapi, dan inilah kenyataan yang Elena harus hadapi; pergi dari panti asuhan tempatnya dibesarkan, pergi dari anak-anak yang selalu mewarnai hari-harinya. Mereka semua mengikuti langkah Elena sambil berlari kecil agar tidak tertinggal, lalu semua berdiri di teras rumah bersama Savannah. Sementara Kynnan memasukkan tas milik Elena ke dalam bagasi mobil, Elena mulai memeluk satu per satu anak-anak panti sebagai tanda perpisahan.
“Ayo Elena.”
Elena mengangguk. “Aku akan sering main kemari. Jangan nakal, kalian harus menuruti perkataan Bunda.”
Setelah berkata demikian, Elena beralih pada Savannah lalu memeluknya. Tanpa Elena sadari air mata telah membasahi pipinya.
“Jangan menangis, Elena. Kau akan memiliki kehidupan baru yang tentunya akan lebih indah dari sebelumnya.” Kata Savannah seraya menyeka air mata yang mengalir dipipi Elena.
Elena menoleh ke arah Kynnan yang menunggunya dengan sabar sembari bersandar pada mobil sedannya. Senyum manis yang terukir diwajahnya sedikit meyakinkan Elena kalau ia adalah orang baik yang tak perlu Elena takuti. Kynnan pun telah mengatakan bahwa Elena boleh sering berkunjung kemari. Jadi, ini bukan masalah yang besar, bukan?
“Sampai jumpa, Bunda.” Kata Elena seraya memeluk singkat Savannah sebelum ia menghampiri Kynnan.
“Sampai bertemu lagi, Savannah.” Kata Kynnan sambil tersenyum pada Savannah.
***
Sepanjang perjalanan menuju ‘rumah baru’ Elena ini hanya diisi dengan keheningan, bahkan radio pun ikut tidak bersuara. Kynnan yang duduk dikursi pengemudi hanya fokus pada jalanan didepannya. Hal itu memang baik bagi semua pengendara, namun tidak bagi Elena yang terbiasa mengobrol dengan siapapun dalam perjalanan menuju suatu tempat.
Tigapuluh menit kemudian, mobil yang ditumpangi Elena memasuki pekarangan sebuah rumah yang Elena yakini adalah rumah barunya.
“Kita sudah sampai,” kata Kynnan seraya melepas sabuk pengamannya. “Mulai sekarang, kau akan tinggal disini.”
Elena mengangguk sebagai jawabannya. Sesaat kemudian Elena sudah membantu Kynnan untuk menurunkan dua tas miliknya.
“Selamat datang, Tuan.”
Seorang wanita paruh baya yang Elena yakini adalah seorang asisten rumah tangga menyambut Kynnan tepat di pintu masuk utama rumah ini. dengan cekatan ia mengambil dua tas dari genggaman Kynnan.
“Bawa tas ini kekamarnya.” Wanita itu mengangguk dan segera pergi untuk membawa tas tersebut.
Kynnan melangkah masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat bersih dengan cat warna putih. Rumah yang berukuran tidak terlalu besar ini terasa nyaman dan sejuk karena banyak tumbuhan hijau yang tumbuh disekitar taman.
“Silakan duduk, Elena.” Kata Kynnan mempersilakan Elena duduk di sofa yang berada di hadapannya.
“Terima kasih, Tuan.” Kata Elena seraya duduk.
“Panggil saja Kynnan, tidak usah terlalu formal.”
“Baiklah.”
Hening kembali menghampiri mereka berdua. Kynnan sibuk dengan ponselnya, sedangkan Elena tidak mengerti apa yang harus ia lakukan saat ini.
“Boleh saya bertanya sesuatu padamu Tu—um, Kynnan?” tanya Elena memberanikan diri membuka pembicaraan.
Kynnan memalingkan wajahnya dari ponsel dan menatap Elena. “Silakan.”
“Mengapa anda memilih untuk mengadopsiku sedangkan banyak anak lain yang masih dibawah umur dan cocok untuk diadopsi?”
“Karena aku tidak menyukai anak kecil,” jawab Kynnan. “Beristirahatlah, Bibi akan mengantarmu ke kamar. Kita berjumpa lagi saat makan malam.”