Pendamping Wisuda

1268 Words
Di atas ranjangnya, Erwin menguap untuk yang kesekian kali. Matanya sudah sangat sayu, pertanda kantuk yang berat semakin bergelayut di kelopak mata. Erwin juga merasa sangat lelah, jiwa dan raga. Akan tetapi, Erwin kesulitan untuk tidur. Entahlah, mungkin ia terlalu lelah. Bisa jadi juga karena bayangan cantik Devi di bioskop tadi yang mengganggu. Terbayang-bayang di pelupuk mata Erwin, Devi dan senyumnya yang menawan. “Kamu cantik. Semakin cantik ...” gumam Erwin seorang diri. Sementara bayangan Devi dalam benaknya seolah tertawa mendengar pujian Erwin. Masih tawa yang sama seperti dulu, ketika Devi masih menjadi kekasihnya. Sepanjang sejarah percintaan mereka, hanya sekali Erwin merasa betul-betul dikecewakan oleh Devi. Meskipun sebelumnya Devi sering bersikap menyebalkan, namun Erwin selalu memaafkan dan melupakan. Hanya satu kali itulah Erwin merasa sakit oleh sikap Devi. Erwin ingat betul peristiwa itu. Beberapa tahun telah berlalu, tapi seakan baru kemarin hal itu terjadi. Ia kebingungan. Skripsinya sudah selesai, ia tinggal menunggu jadwal wisuda keluar. Tapi, ada satu hal yang mengganjal pikirannya. Ia ingin memiliki pendamping wisuda saat hari besarnya tiba. Pendamping wisuda, kekasih yang siap menjadi pendamping hidup kelak. Itulah salah satu kebanggaan para wisudawan dan wisudawati di hari yang dinanti. Akan tetapi, sampai sekarang Erwin tak tahu pasti adakah pendamping wisudanya kelak. Devi memang kekasihnya, tapi Devi menolak menjadi pendamping wisudanya. Erwin merasa ganjil. Seharusnya Devi tak menolak, bukankah ia kekasih Devi yang siap menjadi suaminya kelak? Erwin teringat percakapannya dengan Devi jauh sebelum waktu wisuda tiba. Di depan teras rumah Devi mereka berbincang. “Dev, sebentar lagi Mas lulus, nih...” Ujarnya serius. “Oh, ya? Wah, hebat Mas. Aku malah belum mulai skripsi,” balas Devi sekenanya. “Mas bisa ikut wisuda bulan Maret ini. Kamu siap kan jadi pendamping wisuda, Mas?” Erwin menatap Devi lekat-lekat. Devi gelagapan. Sekarang barulah ia mengerti ke mana arah pembicaraan Erwin. “Pendamping? ...” Sejenak Devi terdiam. Erwin kecewa melihat reaksi Devi yang tak diduganya. “Wah? Nak Erwin mau wisuda? Selamat, ya. Tentu saja Devi bersedia menjadi pendamping. Ya kan, Dev?” celetuk ibu Devi yang tiba-tiba muncul dari ruang dalam. Ibu Devi mendekat dengan sepiring kue-kue di tangannya. Perempuan paruh baya yang sudah Erwin anggap orangtua sendiri itu meletakkan piring di meja, kemudian menarik kursi di dekat putrinya. “Kapan, Nak? Wah, sebentar lagi Nak Erwin bekerja, ya. Mama sudah nggak sabar kalian segera tunangan dan tukar cincin,” kata ibu Devi heboh sendiri. “Ih, apa-apaan Mamah ... masih jauh itu, Mah,” Devi melirik ibunya dengan tatapan tak suka. “Lho. Betul, kan? Kalian kan sudah lama pacaran. Yang ditunggu tinggal Erwin bekerja tetap, toh?” Ibu Devi balas melirik Devi, seolah menegur dengan tatapan matanya. Sejak awal, ibu Devi sangat menyetujui hubungan putrinya dengan Erwin. Setiap kali Erwin datang, ibunya yang menyambut dan memperlakukan Erwin bak anak sendiri. Devi sendiri cenderung tak peduli pada kehadiran Erwin. Seolah-olah ada dan tiadanya Erwin tak berpengaruh padanya. “Ehm. Mas Erwin wisudanya bulan Maret, Mah. Bulan itu aku sudah ada rencana keluar kota bersama teman-teman,” Devi menatap mata ibunya seolah menantang. Ibu Devi mengibaskan tangan di depan wajah. “Tunda saja. Wisuda Erwin lebih penting,” tukas ibu Devi. “Tapi, Mah--” “Nggak ada tapi-tapi,” potong ibu Devi tegas. Devi cemberut. Erwin merasa tak enak menjadi penyebab pertengkaran ibu dan putrinya. Ia berinisiatif untuk mengalah, meskipun hati kecilnya merasa kecewa. “Kalau Devi ada keperluan pas saya wisuda, nggak apa-apa kok, Mah. Kasihan Devi harus membatalkan janji dengan teman-temannya,” ujar Erwin, mencoba menengahi keadaan yang mulai memanas. Calon mertua Erwin itu tak menggubris, bahkan melirik Erwin saja tidak. Alih-alih, ibu Devi malah memelototi putrinya, sebelum berkata tajam. “Batalkan saja acaramu,” kata beliau penuh penekanan. Di bawah tatapan otoriter sang ibu, Devi melengos lalu menunduk. “Lihat saja nanti, Mah,” jawab Devi dengan suara lunak. Ia bukannya setuju dan taat pada perintah sang ibu, tapi ia tak mau berdebat lebih lama. Sementara itu di dalam hati Devi bertekad, tak akan membatalkan acara bersama teman-temannya demi apapun. Perkara nanti ibunya marah biar dipikirkan saja nanti. Erwin memandang kosong ke arah Devi. Cukup melihat gelagat Devi yang tak antusias, segalanya menjadi jelas bagi Erwin. Devi tak mau menghadiri wisudanya. Sakit betul hatinya. Tapi ia tak mau memaksa, karena ia tak mau Devi marah. Lebih baik ia mengalah seperti biasa. *** Sepanjang hubungannya dengan Devi, hanya sekali mereka pernah bertengkar. Cukup sekali dan Erwin sudah bersumpah tak akan lagi bertengkar dengan Devi. Erwin ingat betul, saat itu mereka bertengkar karena Devi pergi ke Starry Night. Tempat itu sudah terkenal sebagai kelab malam paling top di kota mereka. Saat itu, sudah lewat tengah malam. Ia menjemput Devi ke Starry Night. Tanpa sepengetahuan Erwin, apalagi seijinnya, Devi pergi ke kelab malam bersama teman-temannya. Erwin tak tahu apa yang terjadi dengan teman-teman Devi, karena ia hanya mendapati Devi seorang diri saat ia menjemput. Devi ditemani oleh satpam kelab saat menunggunya. Syukurlah, setidaknya Devi tak sendirian saat itu. “Ngapain kamu ke tempat seperti ini, Dev?” kata Erwin tajam, tangannya menggandeng Devi menuju tempat sepeda motornya diparkir. Bau minuman keras tercium dari mulut Devi yang setengah terbuka. Sepertinya ia setengah mabuk. “Aku suntuk, Mas...” jawab Devi setengah sadar, tapi masih cukup sadar buat menjawab pertanyaan Erwin. “Bahaya buat gadis seperti kamu. Jangan lagi ke sini, ya.” Erwin berusaha bicara baik-baik. “Mas mau mengatur aku?” Tiba-tiba suara Devi meninggi. Nada tak suka terdengar jelas dari ucapannya. “Bukan, Dev. Mas itu sayang kamu...” Erwin berkata lembut. “Kalau sayang, jangan melarang-larang,” Devi membantah. Erwin tak menyahut. Ia tak ingin berdebat di tengah jalan. Mereka sudah sampai di tempat parkir. Ia dan Devi menaiki kendaraan dengan sama-sama diam. “Mama tahu kamu ke kelab?” tanya Erwin dengan nada suara biasa. Devi diam saja. Sepertinya ia mengambek. Erwin perhatikan, tangan gadis itu juga tak melingkari pinggangnya seperti biasa ketika membonceng. Rupanya Devi menolak untuk menyentuhnya. Mereka melewati perjalanan dalam diam. Sesampainya di halaman rumah Devi, Devi turun dan langsung berkata dingin, “Makasih, Mas.” Devi berbalik menuju rumahnya seolah Erwin sudah pergi dari situ. Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Ibu Devi di ambang pintu dengan wajah terbangun dari tidur. “Deviii! Dari mana kamu, Nak?” Pertanyaan ibunya lebih mirip sebuah tuduhan. Devi terkejut melihat ibunya hadir sekonyong-konyong. “Oh! Eh, pergi dengan Mas Erwin, Mah. Kami memang kemalaman. Maafkan ya, Mah,” Devi sigap menjawab. Ia menjadikan Erwin sebagai tameng perbuatan buruknya. Mata tua ibu Devi menatap Erwin. Erwin yang merasa tak enak langsung turun dari sepeda motor dan mendekat. Erwin mencium tangan orang yang diharapkannya menjadi mertua itu. “Lain kali jangan terlalu malam lagi ya, Nak. Walaupun Mama percaya padamu, tapi tetap saja hati Mama tidak tenang,” kata ibu Devi sambil menatap Erwin. “Maafkan saya, Mah,” jawab Erwin takzim. Ia tak mau membuka kebohongan Devi di depan ibunya. Ia tak mau ibu Devi semakin marah kepada Devi. Biarlah ia yang dianggap bersalah. Beberapa hari setelah kejadian itu, Devi tak menghubungi Erwin. Tampak jelas ia marah mendapat teguran Erwin. Tahulah Erwin bahwa Devi tak bisa ia nasihati. Kekasihnya itu tak ingin diatur dan ingin berbuat sesuka hati. Cukup sekali itu Erwin tak diindahkan Devi. Erwin merasa sangat tak enak. Ia tak sanggup didiamkan oleh Devi. Erwin memilih untuk bersabar. Dalam hatinya sudah ada rencana. Dalam waktu dekat, ia akan mengikat Devi dalam pertunangan. Setelah Devi menjadi istrinya, mau tak mau gadis itu harus tunduk pada ucapannya. Bukankah seorang istri harus mematuhi suaminya? Biarlah Devi tak menjadi pendamping wisudanya, asal gadis itu menjadi pendamping hidupnya selama-lamanya. Mengalah untuk menang, itulah rencana Erwin.***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD