Shakil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Malam ini lelaki berusia tiga puluh tahun itu tampak gelisah, setelah Nayyara menunjukan alat tes kehamilan padanya tadi siang. Pikirannya sedikit terusik dengan permasalahan itu, pertanyaan tentang janin dalam kandungan Nayyara terus berkecamuk. Apa benar benih yang saat ini tertanam dalam rahim mantan pegawai magangnya itu adalah darah dagingnya.
"Arrrgh ... Gadis sialan, bikin masalah saja," umpat Shakil melampiaskan kekesalannya dengan memukul stir mobilnya.
Aroma rempah dari gerobak penjual wedang ronde dan asle menyapa penciuman Shakil yang kebetulan kaca mobilnya terbuka dari tadi. Tetiba dia ingin menikmati semangkuk sajian minuman khas asli Kota Solo itu. Wedang asle terbuat dari ketan putih yang berasa sedikit manis. Dengan isi potongan agar-agar, juga irisan roti tawar dan sedikit gula pasir. Sebelum disajikan, pedagang akan mengguyur bahan-bahan tersebut dengan santan hangat yang gurih. Seperti ciri wedang lain, wedang asle disajikan hangat.
Shakil cukup terkejut saat mendekat ke gerobak yang dihias lampu LED dengan dibentuk tulisan ASLE. Sudut bibir Shakil tertarik sedikit, membentuk senyum mengejek pada gadis yang tadi siang menuduhnya sudah menghamilinya. Entah apa yang ada dalam benak Shakil hingga terlihat begitu merendahkan Nayyara.
"Nay ... Ngapain malam-malam di sini?" tegur Shakil begitu jaraknya tak jauh dari Nayyara.
"Ba-pak?" Nayyara cukup kaget dengan keberadaan Shakil yang tiba-tiba saja sudah berada tak jauh dari tempatnya duduk.
"Mangkal?" tanya Shakil dengan senyum mengejek.
"Mak-sud ucapan Bapak apa?" Lagi-lagi Nayyara terkejut dengan ucapan Shakil.
"Apalagi kalau nggak cari mangsa, perempuan malam-malam masih keluyuran." Tatapan Shakil begitu merendahkan Nayyara.
"Jaga ucapan Bapak ya, kalau tidak tahu apa-apa tentang saya, jangan menuduh sembarangan," bentak Nayyara geram dengan ucapan Shakil yang begitu menyakitkan.
"Kenyataannya Nay. Bahkan saat ini kamu sedang hamil, bapaknya saja siapa kamu tidak tahu kan?" Ucapan Shakil semakin menjadi-jadi.
Nayyara yang awalnya sudah lumayan tenang, setelah mendapat support dari Bu Mur, karena ucapan Shakil yang terus menyudutkannya dan menuduh tanpa bukti membuat emosinya kembali tersulut. Tanpa bisa dikendalikan lagi, Nayyara menumpahkan amarahnya yang tadi sengaja ditahan waktu berada di ruangan Shakil.
"Kamu sudah sangat keterlaluan, semua tuduhan kamu hanyalah omong kosong tanpa bukti apapun. Bahkan kamu juga tidak mengenal siapa saya dengan baik!" Nayyara benar-benar mengeluarkan kemarahannya.
"Saya hamil juga atas perbuatan bejad kamu! Dan kamu adalah manusia yang tidak punya hati, perasaanmu juga sudah mati. Semua yang kamu perbuat suatu saat akan mendapat balasan yang setimpal dan saya pastikan akan lebih pedih dari apa yang saya rasakan saat ini!" Nayyara berteriak di tepi jalan sambil mencengkeram baju Shakil. Wajah cantiknya sudah banjir air mata. Bu Mur cukup panik melihat kejadian ini, terlebih pada Nayyar yang begitu hesteris.
"Diam kamu! Suaramu terlalu kencang, orang bisa salah paham dengan ucapanmu. Mereka akan menuduhku lelaki jahat tak bertanggung jawab," bentak Shakil pada Nayyara sambil memegang kedua pergelangan tangan Nayyara yang masih mencengkeram kuat baju pemilik Seung Caffe itu.
"Biar ... Biar semua orang tahu bagaimana sebenarnya seorang Shakil Althafaunizam yang sebenarnya." Nayyara semakin histeris dalam kemarahannya.
"Sudah cukup, tolong jangan kasar pada perempuan. Apapun masalah kalian selesaikan dengan kepala dingin, jangan dengan amarah seperti ini." Bu Mur berusaha melerai pertengkaran antara Nayyara dan Shakil. Apalagi beberapa pedagang yang masih berjualan berdatangan mendekat.
"Mas ... Jangan jadi lelaki pengecut, beraninya hanya dengan wanita," celetuk seorang pedagang dengan postur tinggi tegap.
"Sial, awas aja kamu. Jangan sampai muncul di hadapanku lagi. Dasar gadis pembawa sial," umpat Shakil yang merasa jadi pusat perhatian, dan langsung menghempaskan cekalannya pada pergelangan tangan Nayyara, hingga gadis itu terhuyung hampir jatuh. Bersyukur Bu Mur sigap menahan tubuh Nayyara.
"Mampus aja kamu lelaki pengecut!" teriak Nayyara pada Shakil yang sudah masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi.
"Sial ... Sial ... Sial!" Shakil melampiaskan kekesalannya lagi-lagi pada stang kemudi.
Sementara itu Nayyara kembali menangis dalam dekapan Bu Mur. Tubuhnya terasa lemas sekali. Pak Ranto--suami Bu Mur--yang baru saja datang cukup terkejut melihat istrinya sedang memeluk seorang perempuan muda. Awalnya lelaki berusia enam puluh tahun itu ingin mendekati sang istri tapi, melihat gadis dalam pelukan istrinya sepertinya sedang menangis diurungkannya niat tersebut.
"Sudah Nak, yang sabar. Allah tidak akan memberikan ujian pada hamba-Nya melebihi bata kemampuan kita. Maaf kalau tadi ibu ikut campur, ibu hanya nggak tega kamu diperlakukan kasar begitu. Ikut sakit rasanya hati ini." Bu Mur semakin mengeratkan pelukannya terhadap Nayyara.
"Dia jahat Bu, dia sudah menghancurkan hidupku," rintih Nayyara yang kembali putus asa.
"Sekarang kita pulang dulu ya, sudah larut malam. Nggak baik untuk kesehatan kamu juga bayimu. Jangan egois, ada nyawa lain yang harus dijaga dalam tubuhmu, Nak. Biar bagaimanapun dia tidak bersalah, belum tahu apa-apa tentang permasalahan yang sedang ibunya hadapi."
Ucapan Bu Mur cukup menampar Nayyara, benar ada kehidupan baru yang harus dia perjuangkan. Tidak mungkin dirinya tega menyingkirkan darah dagingnya sendiri. Mungkin ini cara Allah mempercayainya dengan memberikan amanah. Terkadang lucu dengan jalan takdir, di luar sana banyak pasangan halal yang menunggu bertahun-tahun kehadiran seorang anak tapi, Allah justru begitu mudah memberikan anak pada orang-orang bernasib kurang beruntung seperti Nayyara.
"Kamu mau kamu antar pulang, Nak. Besok bisa ketemu lagi di sini atau kamu main ke rumah kalau masih butuh teman ngobrol." Bu Mur seakan tidak rela melepas Nayyara dalam keadaan kacau seperti sekarang.
"Saya pulang sendiri saja, Bu. Bisa naik ojek online," balas Nayyara masih bergelayut di pelukan Bu Mur.
"Ya sudah, kamu hati-hati pulangnya. Jangan mikir macam-macam. Sampai rumah langsung istirahat. Nomor ibu sudah kamu simpan kan? Kalau ada apa-apa langsung hubungi ibu ya."
Nayyara mengangguk, wajahnya terangakat tepat saat Pak Ranto berdiri tak di samping Bu Mur.
"MasyaAllah, Bu ini kok mirip sekali dengan gendhuk," ucap Pak Ranto begitu melihat wajah Nayyara dengan jelas. Pak Ranto sampai speechless menatap Nayyara.
"Ini Nak Nayyara, Pak. Salah satu pembeli tapi karena wajahnya mirip genduk makanya ibu ajak ngobrol. La kok malah ada kejadian tidak terduga. Maaf yo Pak kalau malah bikin ribut di tempat jualan." Sesal Bu Mur mengusap lengan sang suami.
"Namanya orang hidup, permasalahan kapan saja bisa datang. Nak Nayyara rumahnya mana? Apa nggak dicari orang tuanya jam segini belum pulang?" Ada nada khawatir pada suara Pak Ranto.
"Saya tinggal di Banjarsari, Pak. Qodarullo bapak sama ibu sudah meninggal. Saya tinggal sendiri," jawab Nayyara berusaha menampilkan senyum pada suami Bu Mur itu.
"Walah, maaf ya Nduk kalau pertanyaan Bapak jadi membuatmu sedih. Bukan maksud ngusir, ini sudah larut malam. Nggak baik anak perempuan masih di luar rumah," lanjut Pak Ranto.
"Iya Pak, ini sudah pesen ojek, sebantar lagi datang. Bu terima kasih sudah menemani saya, Pak maaf kalau tadi sempat ada keributan dan terima kasih juga saya sudah diperbolehkan di sini," terang Nayyara merasa tidak enak dengan kejadian antara dirinya dan Shakil.
"Sudah nggak pa-pa, yang penting kamu baik-baik saja."
Nayyara berpamitan pada sepasang suami istri yang sudah begitu bagik padanya, begitu ojek online yang dipesannya datang.