Bab 8. Berdamai dengan Keadaan

1080 Words
Nayyara yang sedang berjalan menuju warung asinan langganan agak terkejut ditegur seseorang. Agak celingak celinguk juga gadis yang sendang hamil muda itu. Dari arah gang sebelah kiri muncul sosok perempuan seusianya, dengan senyum semringah berjalan semakin mendekati Nayyara. "Lupa ya pasti?" ucap perempuan yang tadi memanggil Nayyara. Dan dibalas anggukan oleh si pemilik nama. "Aku Lela, teman sekelas kamu waktu SMP, ingat belum? Kamu apa kabar? Makin cantik aja." Lela mengulurkan tangan untuk berjabatan. "Lela yang dulu sering juara lomba lari? Ih, kamu juga cantik banget sekarang, makanya aku pangkling tadi, maaf ya. Alhamdulillah kabar aku baik, kamu sendiri gimana kabarnya?" jawab Nayyara semringah begitu ingat siapa perempuan yang menyapanya. "Bener banget, Say. Eh ... Ngomong-ngomong mau ke mana siang-siang begini? Panas banget Lo Nay." "Ke warung asinan Teh Elis, lagi pengen yang pedes seger. Kamu sendiri mau ke mana, La? Nggak takut item kamu?" Nayyara terkekeh sambil memukul pelan lengan teman SMP-nya itu. "Wih cucok tuh panas-panas gini, jadi pengen juga. Yuk ke sana, boleh gabung kan?" ajak Lela yang tiba-tiba juga pengen makan asinan. "Boleh lah, Ayuk keburu habis nanti." Dua gadis yang berteman lama itu akhirnya berjalan beriringan. Jarak warung Teh Elis memang tak terlalu jauh dari gang tempat Lela keluar tadi, tak sampai lima menit berjalan, mereka sudah duduk santai di dalam warung sambil menunggu pesanan dibuat. Lela tidak banyak berubah, masih bawel seperti dulu, hanya tampilannya yang lebih dewasa dan make up yang diaplikasikan juga terlihat mencolok. Beda dengan Nayyara yang dari dulu tidak suka berdandan, kecuali tuntutan pekerjaan atau memang ada acara yang mengharuskan dia menggunakan make up lengkap. Obrolan seru dua teman lama cukup mengundang perhatian para pengunjung warung Tek Elis, apalagi yang jadi pusat perhatian dua gadis cantik. "Kamu kerja di mana Nay?" "Lagi nganggur nih, baru beberapa hari sih. Kemarin sempat magang di Seung, terus nggak aku lanjutin. Mau cari suasana baru." "Seung yang cafe Korean food itu kan? Emang nggak bisa jadi karyawan tetap kalau udah selesai magang?" Lela tampak lahap menikmati kudapan dengan rasa pedas menyegarkan itu. "Seharusnya aku sudah kontrak jadi karyawan tetap tapi ... sudah lah nggak usah dibahas. Kamu sendiri kerja di mana? Kalau ada peluang infonya dong, siapa tahu rezekiku." Nayyara sudah melahap mahkluk ke dua asinan sayurnya. Lela aja sampai heran, teman SMP-nya itu makan dengan porsi di luar nalar. "Aku SPG kosmetik, Nay. Emang kamu mau jadi SPG? pakaian serba minum dan ketat. Make up udah seperti ondel-ondel. Kalau aku langsung bilang supervisor ku, kebetulan emang lagi butuh beberapa orang lagi, buat Mall baru di batas kota." "Kalau SPG nggak dulu deh, aku nggak pinter dandan. Lagian kamu tahu sendiri, aku paling malas pakai rok, apalagi yang mini dan super ketat gitu," tolak Nayyara halus, supaya tidak menyinggung teman lamanya itu. Lela justru terbahak mendengar alasan Nayyara. Obrolan berlangsung seru, waktu berlalu tanpa terasa. Tahu-tahu sudah sore, dan kedua gadis cantik itu berpisah. Sebelumnya saling bertukar nomor ponsel. Wajah Nayyara terlihat ceria, bertemu Lela sedikit membuatnya lupa dengan masalah yang sedang menyapa hidupnya. Hingga dia berpapasan dengan seorang wanita dengan kondisi hamil juga. Perutnya sudah tampak membesar, berjalan ditemani seorang anak, mungkin anak pertamanya. Perlahan tangan Nayyara mengusap perut bagian bawahnya. "Hai Nak, terima kasih ya hari ini kamu tidak nakal. Bagaimana kalau hari ini kita ke dokter, untuk melihat kondisimu. Semoga kamu sehat ya, aamiin." Nayyara sudah belajar berdamai dengan keadaannya. Siap tidak siap, mau tidak mau, kenyataannya saat ini, ada kehidupan baru yang sedang tumbuh dalam tubuhnya. Allah sudah mempercayakan amanah ini tentu bukan suatu kebetulan. Pasti ada rencana terbaik dari Sang Pemilik Kehidupan untuk Nayyara juga calon anaknya. Terkadang jika dipikir dengan logika manusia, ketetapan Allah itu sungguh di luar nalar. Banyak pasangan halal di luar sana yang sedang menanti hadirnya seorang anak. Setahun, dua tahun, lima tahun, bahkan lebih dari sepuluh tahun, masih belum diberi kepercayaan tapi, Nayyara yang baru berusia dua puluh tahun, belum menikah malah sudah dipercaya menerima amanah dan tanggung jawab besar. Antrian di klinik dokter kandungan lumayan ramai. Nayyara yang baru pertama berkunjung cukup terkejut dengan keadaan ini. Dia pikir kalau di klinik pasiennya tidak akan seramai ini, nyatanya di luar ekspektasinya. Mendaftar secara langsung membuat Nayyara mendapat nomor antrian lumayan banyak. Sambil menunggu gadis dengan wajah cantik alami itu menyibukkan diri dengan bermain ponsel. "Ibu Nayyara Thara Khalisa." Suara asisten dokter kandungan lantang memanggil nama Nayyara. "Saya, Sus." Nayyara bergegas menuju ruang periksa. Mengekor perawat yang memanggil namanya. "Selamat sore Bu Nayyara," sapa dokter yang menyambut Nayyara dengan ramah. "Sore Dok." Nayyara duduk di kursi yang terpisah oleh meja kerja sang dokter. "Baru pertama berkunjung ya? Apa yang dikeluhkan?" Kembali dokter wanita berhijab itu bertanya. "Betul, Dok. Beberapa hari lalu saya melakukan tes kehamilan mandiri menggunakan tes pack dan hasilnya garis dua. Mau memastikan saja apa benar saya hamil?" jawab Nayyara mantap tanpa ada yang perlu ditutupi lagi. Toh memang kenyataannya seperti ini. "Baiklah, kita lakukan pemeriksaan lebih lengkap ya. Silahkan berbaring di brankas, kita lihat dengan USG, apakah sudah ada kantung rahimnya juga embrionya." Beruntung Nayyara bertemu dokter perempuan yang sabar, ramah, humble juga tidak langsung menghakimi saat kunjungan pertama tanpa pasangan. Hal ini merupakan suport sistem tersendiri untuk ibu hamil dengan kasus seperti Nayyara. Dibantu asisten Dokter Pungki, Nayyara berbaring di atas ranjang periksa. Dibukanya kancing juga resleting celananya, lalu diberi olesan gek khusus untuk USG. Perut Nayyara merasan benda lembek yang dingin. "Oke, kita lihat ya." Dokter Pungki mulai menempelkan alat USG ke perut Nayyara. Layar monitor menampilkan gambar berbentuk segitiga terbalik. Ada lingkaran hitam di tengahnya, dalam lingkaran hitam ada titik putih sebesar biji kecambah. Dokter Pungki masih menjalankan alat USG di atas perut Nayyara. Seakan ingin memastikan hasil pemeriksaan yang akurat. "Lingkaran ini kantung rahimnnya ya, Bu. Dan titik putih itu calon anak Bu Nayyara. Usianya sudah jalan lima minggu. Berkembang sesuai usianya. In Syaa Allah tumbuh dengan sehat," terang Dokter Pungki mengakhiri sesi pemeriksaan dengan USG. "Nanti kamu beri hasil cetak USG-nya. Jaga pola makan, jangan terlalu capek. Kehamilan trimester pertama harus benar-benar dijaga ya, Bu. Saya resepkan vitamin, penguat kandungan juga penambah darah, diminum rutin ya. Apa ada keluhan mual muntah?" "Ada Dok, tiap pagi tapi, nggak terlalu parah kok. Kalau sudah keluar cairan kuning yang pahit rasanya udah nggak mual lagi," jawab Nayyara sesuai dengan kondisi sebenarnya. "Oke, saya beri anti mual dosis rendah. Kalau terasa mualnya agak parah, baru diminum ya. Kalau enggak ya tidak usah diminum. Semoga sehat selalu, mama dan calon bayinya." "Aamiin, terima kasih Dok. Saya permisi," pamit Nayyara setelah pemeriksaan selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD