Rumah kayu itu terasa lebih sempit dari biasanya sejak kehadiran pria asing itu.
Di atas balai-balai bambu yang dilapisi kasur tipis, pria itu terbaring tak berdaya. Aruna bergerak cekatan, memeras handuk kecil dari baskom berisi air hangat.
"Pelan-pelan, Runa. Dahinya masih panas," bisik Nenek sambil memegangi lampu teplok agar Aruna bisa melihat luka di pelipis sang pria dengan lebih jelas.
Aruna mengangguk kecil. Dengan jemari gemetar, ia menyeka darah yang sudah mengering.
Setiap kali kulitnya bersentuhan dengan kulit pria itu, ada sengatan aneh yang membuat jantungnya berdesir.
Pria ini tampak begitu asing sekaligus rapuh di antara dinding papan mereka yang mulai lapuk.
"Dia tidak punya identitas, Nek. Dompetnya mungkin hangus bersama mobil itu,"
Aruna mengoleskan salep racikan Nenek ke luka-luka pria itu. "Apa kita harus lapor Pak RT?"
Nenek diam sejenak, menatap wajah pria itu yang tampak gelisah dalam tidurnya.
"Jangan dulu. Lihat pakaiannya, dia bukan orang sembarangan. Kalau dia punya musuh dan kita lapor sekarang, kita malah bisa membahayakannya. Biar dia sadar dulu."
“Baik, Nek,”
**
Pagi menyapa dengan aroma kopi hitam dan kayu bakar. Aruna harus segera berangkat ke kafe.
Ia tidak punya pilihan; absen satu hari berarti potongan gaji yang sangat ia butuhkan.
"Nek, kalau dia bangun, beri dia bubur encer ini ya? Jangan dipaksa bicara kalau dia masih bingung," pesan Aruna sambil membetulkan letak kain jarik yang menyelimuti kaki pria itu.
"Sudah, pergilah. Biar Nenek yang jaga si 'Bagas' ini," sahut Nenek sambil tersenyum tenang.
Sebutan 'Bagas' mendadak muncul karena bagi Nenek, pria tampan yang jatuh ke jurang itu seolah jatuh langsung dari langit ke pangkuan mereka.
Ketampanannya sangat mirip dengan aktor kesukaan Aruna, Bagas Atmaja.
**
Sepanjang hari di kafe, pikiran Aruna tidak tenang. Ia berkali-kali memecahkan cangkir dan salah mencatat pesanan pelanggan.
Bayangan pria itu—cara napasnya yang berat dan jemarinya yang sempat mencengkeram tangan Aruna semalam—terus menghantuinya.
Aruna tidak bisa bekerja dengan cepat lantaran terlalu memikirkan pria yang ditolongnya.
Wajahnya yang tampan membuatnya salah tingkah saat merawatnya, jika ia tidak merawatnya, mana bisa luka-luka id tubuhnya mengering dan sembuh.
Tapi, neneknya juga sudah renta untuk melakukan pekerjaan yang berat itu. Ia akan berusaha untuk tidak terpengaruh dengan kegelisahan hatinya selama mengurus luka pria itu.
Sementara itu, di rumah kecil mereka, nenek Arum sedang sibuk menanak nasi dan tidak menyadari kalau pria itu akhirnya membuka mata.
Dalam sadarnya, menatap langit-langit atap rumbia dengan bingung. Harum masakan di sebuah gubuk tua membuatnya terbangun dan menyadari bahwa ia berada di tempat asing.
Selang satu jam kemudian, nenek Arum masih tidak menyadari kalau ada yang sudah membuka matanya dan kebingungan dalam diamnya.
Pria itu tiba-tiba mengeluarkan suara, mengerang secara lirih karena belum tahu dimana keberadaannya.
Nenek Arum, yang sedang memilin benang di sudut ruangan, segera mendekat.
“Sudah siuman, akhirnya,”
"Di mana... aku?" suara pria itu parau, nyaris hilang.
"Di rumah kami, Tuan Muda. Cucuku yang membawamu pulang dari jurang semalam," jawab Nenek lembut sambil menyodorkan air putih.
Pria itu mencoba mengingat. Ia memegang kepalanya yang berdenyut hebat.
Putih.
Kosong.
Seperti kertas yang dihapus bersih, ia tidak tahu siapa dirinya, mengapa ia ada di sini, atau ke mana harus pergi.
Ia hanya ingat sebuah cahaya putih terang dan suara dentuman besi.
Kepalanya terasa sakit setiap kali mencoba mengingat sesuatu. ”Argh … sakit,” rintihnya.
**
Malam kembali datang, dan Aruna pulang dengan sisa tenaga yang ada. Begitu menginjakkan kaki di rumah, ia langsung menuju balai-balai itu.
Pria itu sudah sadar, sedang duduk bersandar pada dinding kayu sambil menatap jendela yang terbuka.
Awalnya ia ragu untuk mendekat tapi karena terus penasaran dan ingin tahu apa pria itu orang baik-baik atau bukan ia pun mencoba lebih mendekat lagi.
"Kamu sudah bangun?" tanya Aruna lembut.
Pria itu menoleh. Matanya yang tajam namun penuh kebingungan bertemu dengan mata cokelat Aruna yang letih.
“Siapa kamu?”
Nenek Arum berdiri tak jauh dari kerja duduk. “Ini cucuku, dia yang menolong mu,”
Pria itu mengerutkan keningnya, mungkin mencoba untuk mengingat sesuatu. "Terima kasih... sudah menyelamatkanku."
Aruna tersenyum tipis, sebuah senyum yang sanggup meluluhkan rasa sakit pria itu sesaat.
Selama malam-malam berikutnya, Aruna menjadi perawat paling tekun. Setelah pulang bekerja, bukannya istirahat, ia justru menghabiskan waktu berjam-jam menyuapi pria itu, membantunya belajar berjalan kembali, hingga membacakan cerita-cerita dari koran bekas agar pria itu tidak bosan.
"Kenapa kamu begitu baik padaku? Aku bahkan tidak tahu siapa namaku sendiri," tanya pria itu suatu malam saat Aruna sedang mengganti perban di lengannya.
Aruna menatapnya dalam. "Karena setiap nyawa itu berharga. Dan mungkin... semesta memang ingin kamu ada di sini sekarang."
Pria itu meraih tangan Aruna, menggenggamnya erat. "Terima kasih sudah menolong, kamu sangat baik,"
Bagai tersengat aliran listrik, Aruna merasa jantungnya berdebar kencang. Ia hampir pingsan jika neneknya tidak segera memanggilnya dari arah dapur.