Jika kita bisa merasakan kebahagiaan berturut-turut, lalu nikmat mana lagi yang kita dustakan? Meskipun masih banyak teka-teki dan rahasia yang menunggu untuk diungkap di saat yang tepat.
[Abella Rasheika Valerian, Evano Rafanial Cokroatmojo — Sećanja: Memori]
“Kak Humira udah sampai, Ma?” tanya Zamina yang kembali merasa mengantuk saat tangan hangat suaminya mengelus kepalanya sementara tangan Nasima tak berhenti mengelus perutnya.
“Udah, mereka lagi tidur di atas soalnya Zaidan sempet rewel dari pagi. Ceritanya ‘kan mereka keburu-buru ke sini setelah dapat kabar adikmu mau ijab super kilat, padahal mereka baru sehari liburan di UK. Cucu sulung Mama tuh belum puas main padahal hari ini jadwalnya mereka ke Eureka makanya jadinya gitu deh. Ada aja yang dijadiin alesan buat rewel sepanjang pagi,” terang mama Oryz.
“Oh, pantesan. Emang mau masuk sana aja kudu pre-book dulu dari jauh-jauh hari, ‘kan? Jelas aja dia rewel karena gak jadi main di sana sepuasnya. Terus sampai sini gak digodain sama Tante Jahilnya satu ini, ‘kan?” tanya Zamina lagi sambil mengelus kepala Nasima, lalu ia kembali menutup mulutnya karena semakin sering menguap.
“Aku mana pernah godain si Gemes sih, Kak? Baru turun dari mobil aja dia langsung ribut nyariin zia Favoritnya sampai merosot dari gendongan zio Alfredonya. Kayaknya sih mau ngadu seperti biasa, tapi dia gak berani deketin Kak Bella begitu masuk ke kamar tamu situ soalnya kaget pas lihat kak Bella lagi didandanin. Pas aku suruh gelendotan ke Kak Bella kayak biasanya malah aku diajakin gelut mulu sama dia,” adu Nasima, cara duduknya makin bersandar karena dia ingin memeluk perut buncit Zamina.
“Dia kaget kali, ya? Atau malah gak ngenalin Zianya yang makin cantik pas didandanin? Kakak tebak pasti zio Alfredonya mulai bawel tuh, ngelihat Zaidan sama kamu berantem mulu dari pagi, Dek.” Kalimat Zamina membuat semua orang terkekeh. Cucu lelaki pertama kesayangan mendiang Amadeo sudah jelas sangat manja pada sang kakek yang kini telah tiada. Ini juga yang membuat Humira sangat disiplin ketika mendidik putranya, dia tak ingin si sulung terlalu dimanjakan meskipun mereka semua sangat menyayanginya.
“Gak usah cemburu gitu dong, Dek. Ntar kayaknya anak Kak Zamina tuh bakal nempelin kamu kayak Zai ke aku,” goda Bella.
“Gak cuma sama Dek Khailina aja, Kak. Orang sampai sekarang aja nih, tiap lihat aku tuh tatapannya kayak ngajak musuhan. Padahal udah aku senyumin, deketin, ajakin main. Masih tetep aja belum bisa luluh juga,” adu Evano tiba-tiba membuat semua orang kaget, apalagi Clemira dan Jarvish sebab Evano tak biasanya banyak bicara saat acara kumpul keluarga. Dia lebih sering tersenyum atau berwajah datar. Kalaupun menimpali, itu juga hanya satu atau dua kata dan itu pun jika ditanya. Clemira dan Jarvish saling lirik sambil bertukar pandang keheranan. Tentu saja Bella menyadari gerak-gerik para iparnya.
“Hah, beneran?! Oh, ya jelas aja, Raf. Karena kamu dianggapnya udah berhasil ngerebut tante favoritnya Zai. Banyakin sabar aja ngadepin si Gemesin satu itu, ya,” saran Zamina sambil terkikik geli, pasti keponakannya satu itu sangat menggemaskan dengan ekspresi jutek andalan keluarga Valerian.
“Ya udah, kalian mau makan malam pakai menu apa dan jam berapa? Biar Raina bisa atur mejanya tepat waktu, terus nanti soal persiapan resepsi biar Mama aja yang lanjutin ngecek bareng Alfredo sama Raina,” tanya mama Oryz, sepertinya ide untuk makan malam lebih awal akan sangat pas untuk hari ini. Semua orang sudah terlalu tegang seharian karena persiapan pernikahan kilat antara cucu lajang terakhir dari Alano dan Mireia Valerian.
“Kami ngikut Mama aja, tapi emang pas banget soalnya aku sekarang jadi gak tahan ngantuk sama laper, Ma,” ucap Zamina dengan nada manja sambil memeluk suaminya. Rasa kantuknya benar-benar tak tertahankan lagi. Suami Zamina yang paham keinginan istrinya segera mengangguk hormat sambil tersenyum simpul sebelum menggendong istrinya masuk ke kamar mereka di lantai yang sama. Kondisi kehamilan Zamina membuat ibundanya menyiapkan kamar di lantai bawah agar putrinya yang kedua tak terlalu kelelahan apalagi harus naik turun tangga.
Sepertinya para tetua keluarga Valerian sudah mulai terbiasa melihat keempat permata hati mendiang Amadeo mengeluarkan sisi manja jika berada di dekat suami mereka. Padahal dulunya para gadis ini terkenal dengan sifat mandiri yang sangat kritis, mengintimidasi, dan paling pandai bersilat lidah saat harus berdiplomasi dengan lawan bicara mereka. Sifat yang membuat Amadeo ketar-ketir meskipun di saat yang sama dia juga sangat bangga dengan hasil didikannya.
Tangan kedua pengantin baru di depan mereka saling bertaut, “Kami juga terserah Mama. Evan bukan tipe lelaki rewel kok, Ma. Malah bentar lagi Evan yakin kudu rajin olahraga kalau gak mau dibikin gendut sama Tuan Putri kesayangan Mama ini,“ celetuk Evano, lalu segera pamit untuk mengajak Bella kembali ke kamar mereka lebih dulu.
Saat kedua pengantin di depan mereka sudah hampir mencapai anak tangga, tiba-tiba Nasima menoleh dengan tatapan tajam ke arah Jarvish sambil menunjuk punggung kedua pengantin. Reaksinya seolah mengatakan,’Tuh, lihat! Gue bener, ‘kan?! Apa gue bilang, hm?!’
Jarvish hanya bisa mendengus kesal, “Ah, mereka terbawa suasana pengantin baru doang. Gue masih yakin kalau mereka butuh waktu buat jatuh cinta. Iya toh, Mbak’e?” kata Jarvish santai karena para tetua juga sudag terlihat beranjak menjauh dari ruang tengah tempat mereka berkumpul sebelumnya.
Clemira bergeming dengan tatapan tajam ke arah adik dan adik ipar barunya. Dia memerhatikan bahasa tubuh pengantin baru di depannya sementara kedua telinganya tetap fokus mendengarkan informasi apa pun yang terlontar secara tak sadar dari bibir Jarvish dan Nasima tentang satu bahasan yang sama sejak siang, sudah atau belum ada cinta di antara sepasang sejoli nikah paksa yang sekarang sosoknya sudah tak terlihat lagi setelah sampai di lantai atas.
✧✧✧
“Apa konsep pernikahan tadi beneran sesuai sama keinginanmu, Sayang?” tanya Evano sambil menyentak pinggang Bella tepat setelah dia baru saja menutup pintu.
Tubuh Bella tertarik mundur dalam dekapan posesif prianya. Dia mengangguk antusias sambil terkekeh geli saat rahang Evano kembali bermain-main di ceruk lehernya, “Mas tuh ternyata sukanya bikin lutut istrinya lemes, ya? Aku gak nyangka banget ternyata priaku ini diem-diem suka ‘nyiksa’ istri,” sindir Bella berbalut candaan yang menggoda.
Mata Evano yang sempat terpejam saat menikmati aroma khas Bella seketika membola, ia menyeringai jahil lalu berbisik, “Kalau gitu Mas gak akan keberatan seandainya Adek mau balas. Soalnya kalau gak dibalas, Mas sih yakin bukan cuma lutut aja yang Mas bikin lemes, tapi dari ujung rambut sampai ujung kaki istri seksinya Mas ini bisa Mas bikin lemes sampai gak kuat turun dari ranjang selama minimal seharian?!”
“Haduh, lemes sekujur tubuh dong itu namanya?! Sekarang Mas makin nakal, ya?!” ujar Bella sambil berbalik tiba-tiba, lalu dengan cepat berinisiatif mencuri kecupan dari bibir Evano sebelum dia berlari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan wajah merona. Baru kali ini Bella tak segan-segan menggoda seorang pria dan itu adalah prianya sendiri.
Evano terkekeh melihat tingkah laku istrinya yang baru dia sadari, ternyata Bella ini tipe malu-malu harimau. Tepat saat dia akan mengejar langkah istrinya, terdengar suara tangisan bocah kecil di depan pintu kamar mereka, “Ziaaaa, Zai mau sama Ziaaa.”
Pundak Evano merosot, “Gagal lagi deh percobaab unboxingnya, sing sabar yo, Van!” gumamnya pasrah lalu membuka pintu sambil tersenyum. Evano berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya, “Sini sama Zio Evan, Nak. Zia Bella masih di kamar mandi, mau masuk gak, Anak Pintar?” rayu Evano. Zaidan terlihat kaget, mau tak mau Evano harus putar otak, “Mau Zio ajakin terbang?” bujuk Evano lagi. Alis bocah kecil di depannya bertaut, lalu mengangguk dengan tatapan ragu. Tanpa menunggu lama Evano segera menggendongnya dengan kedua tangan, menahan posisi Zaidan tetap tengkurap lalu dia menirukan bunyi angin yang berembus sambil membawa tubuh Zaidan berputar sampai si bocah terkikik geli dan mulai terpejam ketika ia merasa pusing.
Bella tersenyum melihat pemandangan di depannya. Napas Evano tersengal setelah dia membanting punggungnya di atas ranjang dengan Zaidan masih dalam pelukannya. Zaidan segera berbalik dan duduk di atas perut Evano, dia memeluk Evano sambil tengkurap, “Zai boleh bobok sini sama Zia dan Zio ‘kan nanti malam?” tanya Zaidan polos sambil mengerjapkan kedua mata bulatnya. Evano dan Bella sontak beradu pandang, tatapan nelangsa Evano membuat Bella tak tahan untuk menyemburkan tawanya. Evano senang karena sudah berhasil meluluhkan hati keponakan tersayangnya, tapi ia juga jadi dilema sebab sudah pasti dia ingin menuntaskan rasa penasaran dan memuaskan egonya sebagai seorang pria.
—✧✧✧—
Satu minggu kemudian, suasana sore hari di area kolam dan taman bunga indah ciri khas Magnífico Boutique Hotel Roma, Italia dipenuhi nuansa pastel. Sangat selaras dengan bunga musim semi yang memanjakan mata. Para wanita tampak anggun dalam balutan kebaya modern berwarna pastel dengan jarik berwarna dominan hitam dengan corak batik yang sama dengan vest dan dasi para pria. Sementara para pria mengenakan setelan jas dan celana katun sutra berwarna hitam. Abella tampak memesona dengan gaun kebaya modern berwarna broken white. Seakan Bella menjadi peri bunga musim semi saat memakai kebaya berekor panjang dan lebar dengan detail silver, sedangkan Evano sangat menarik perhatian saat wajah adonisnya berpadu selaras dengan jas dan setelan silver, yang membuat mereka tampak serasi adalah corak batik sidomukti yang dikenakan Bella untuk jariknya seperti vest dan dasi milik Evano.
Hari ini tak hanya acara resepsi Bella dan Evano, tapi sekaligus perayaan ulang tahun pernikahan kakek dan nenek Bella juga. Rasanya rencana Bella untuk membuat pesta kejutan benar-benar terealisasi dengan rencana Tuhan yang jauh lebih indah dari bayangannya saat bisa merayakan pesta bertema pernikahan bebarengan dengan kakek dan nenek yang sangat dia sayangi.
Sepasang pengantin baru dan pengantin abadi di depan mereka tak hentinya menyunggingkan senyuman. Bella sangat menyukai konsep resepsi yang dia dapatkan tiba-tiba saat sedang berjemur pagi itu di hari yang sama di mana dia bertemu dengan jodohnya di perairan Portofino yang hangat. Saat senja hampir tergelincir dan lampu dekorasi sudah menyala, wanita ayu ini memandang langit senja yang cantik, ‘Papa, Bella yakin Papa lihat kami dari atas sana sambil tersenyum. Sekarang Papa gak perlu khawatir lagi karena pria yang selalu menggenggam tangan putri Papa ini pasti gak akan melepaskan tangan Bella dengan mudah. Benar gitu, ‘kan, Our First Love?’ batin Bella dengan tatapan menerawang.
“Senjanya cantik, ya? Masalahnya meskipun cantik, tapi masih kalah jauh sama wanita yang selalu membuat Mas terpesona sejak pertama bertemu ini,” bisik Evano penuh dengan rayuan bernada serius. Bella menanggapi perkataan Evano dengan senyuman, ia perlahan menoleh menatap iris cokelat gelap milik Evano. Saat menyadari istrinya terlihat berkaca-kaca Evano segera paham jika Bella sedang teringat mendiang Amadeo Valerian. Evano mengecup kening Bella, “Keinget Papa?” bisik Evano yang segera mendapat anggukan istrinya. Evano menangkup wajah istrinya, kembali memberikan kecupan lembut lebih lama lalu berbisik, ”Ikhlasin Papa, Sayang. Biar Papa tenang di sana, ya?” Mendengar kalimat Evano membuat Bella memeluk pinggang berotot suaminya. Sungguh pemandangan romantis bermandikan cahaya senja di musim semi.
‘Kuharap ini bukan hanya sandiwara kalian aja, Bella dan Evano,’ batin Clemira sambil mencecap minuman dingin dari gelas kristal di tangannya.
"Mbak Cle lagi mikirin apa toh, serius banget kayaknya?" tegur Jarvish. Dia mengamati air muka kakak sulungnya yang selalu saja sama tiap kali memandang pasangan pengantin baru di depan mereka.
"Mbak kepikiran soal bahan perdebatanmu sama Khailina seminggu lalu, Le," jawab Clemira tanpa melepaskan tatapannya pada sepasang sejoli yang menjadi bintang utama hari ini.