“Mas El lagi apa ya?” tanya Zahra sambil melihat hujan gerimis di balik kaca jendela kamarnya.
“Apa sesekali dia memikirkan aku?”
“…. Atau hanya aku yang selalu memikirkan dia?”
Zahra menghela napas sembari menunduk. Kemudian dia mengangkat kedua sudut bibirnya dan mengangkat pandangannya. “Aku hanya harus menjadi istri yang baik untuknya. Jika dia tidak memperlakukanku sama seperti apa yang aku lakukan untuknya, maka itu pilihannya,” ucapnya sambil memegang dadanya.
Setelah berkata begitu hatinya menjadi tenang. Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Sudah waktunya dia menjemput putranya. Dia segera bersiap-siap lalu beranjak pergi dengan mobilnya.
Sampai di sekolah dia tidak melihat putranya yang biasa menunggunya di depan gerbang. Dia pun turun dari mobil. Dia menghampiri pos security.
“Maaf Pak, apa anak-anak belum keluar kelas?” tanyanya pada penjaga.
“Belum Buk. Sebaiknya ibu nunggu di dalam. Soalnya ada perubahan jam pelajaran hari ini. Jadi anak-anak akan pulang terlambat.”
“Gitu ya Pak, ya udah makasih ya Pak.”
Security mengangguk.
Zahra masuk kedalam mobilnya. Dia memarikirkan mobilnya di parkiran. Tak sengaja ketika dia menoleh dia melihat seseorang lelaki yang memarkiran motor di samping mobilnya. Dia speechless melihat pria itu yang sedang membuka helm lalu mengibaskan rambut. Pria itu terlihat sangat tampan dan keren banget. Seperti cowok-cowok yang dia lihat di film. Ternyata memang ada yang seperti itu di dunia nyata.
“Astagfirullah.” Zahra cepat mengalihkan pandangannya. Bisa-bisanya dia terpesona pada pria asing itu.
“Ya Allah maafkan hamba,” ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba ada suara yang mengetuk kaca mobilnya. Dia menoleh dan melihat ternyata pria itulah yang mengetuknya. Kira-kira pria itu mau apa? Apa jangan-jangan pria itu tahu jika dia terpesona melihat wajah pria itu tadi? Ya Allah dia malu sekali jika hal itu benar.
Zahra segera membuka kaca mobilnya.
“Maaf, sa--” Pria itu langsung pangling ketika melihat pemilik mobil yang ternyata wanita itu adalah wanita yang akhir-akhir ini mengisi pikirannya. Dia mimpi apa semalam sampai-sampai bisa ketemu bidadari, ck.
“Kenapa ya, Mas?” tanya Zahra.
Pria itu meneguk salivanya lalu menyembunyikan senyumnya dari wanita itu. “Maaf, saya cuma mau ngasih tau kalau ban mobil Mbak bocor,” ucap Rehan yang sangat gerogi. Jantungnya tiba-tiba deg-degan banget. Entah kenapa?
“Oh ya?”
Rehan segera menjauh ketika Zahra membuka pintu mobil. Zahra turun dari mobil dan mengeceknya dan melihat ban mobil depannya kempes. “Astagfirullah,” ucapnya yang kena musibah.
Zahra berbalik menghadap pria yang baik yang sudah mau memberitahunya soal bannya yang bocor. “Makasih ya Mas. Kalau Mas nggak kasih tau saya, mungkin saya nggak akan tau.”
Rehan mengangguk sambil nahan senyum. Dia senang sekali bisa melihat wanita di hadapannya ini. Dalam hati dia banyak mengucap syukur pada Allah karena sudah mengabulkan doanya yang ingin bertemu dengan wanita itu.
“Kayanya saya pernah ketemu kamu,” ucap Rehan.
“Oh ya?” tanya Zahra.
Rehan mengangguk lagi. “Waktu itu saya yang gagal nolongin kamu. Maaf ya…”
“Ohh kejadian itu.” Zahra mengingatnya. “Jadi Mas orang yang mau nolongin saya waktu itu, makasih ya Mas.”
“Iya itu saya.” Rehan mengulurkan tangannya. “Saya Rehan.” Dengan percaya diri ingin memperkenalkan dirinya pada wanita cantik di hadapannya.
Zahra melihat tangan pria itu lalu dia menangkupkan kedua tangannya. “Saya Zahra.” Begitulah cara seorang wanita bersalaman pada pria yang bukan mahromnya. Selain itu, alasannya dia menghormati suaminya. Hanya suaminya lah yang boleh menyentuhnya.
El menarik tangannya. “Masya Allah,” ucanya dalam hati. Saking bersemangatnya dia ingin mengenal wanita itu dia sampai lupa bahwa berkenalan dengan wanita tidak boleh berjabat tangan.
“Maaf ya, saya gagal menolong kamu waktu itu.”
Zahra tersenyum. “Gapapa Mas. Kemarin itu suami saya, dan kami hanya bertengkar kecil tapi sayanya aja yang terlalu emosi saat itu. Maaf ya sudah membuat kesalahpahaman. Maaf juga atas sikap suami saya waktu itu.”
“Ternyata benar itu suaminya,” ucap Rehan dalam hati. Mana ada wanita secantik dia single, ya pasti sudah punya pasangan. Namun, dia cukup senang bisa bertemu dengan wanita itu dan tahu namanya. Walaupun sedikit kecewa karena wanita itu sudah dimiliki orang lain.
“Iya gapapa,” balas Rehan.
Mereka sama-sama terdiam. Sama-sama nggak tahu mau membicarakan tentang apa lagi.
“BUNDA!” Teriak Zidan yang melihat bundanya di parkiran.
“AYAH!” teriak Qila yang melihat ayahnya.
Mereka berlari bersama menghampiri bunda dan ayah mereka masing-masing.
“Bunda baru dateng?” tanya Zidan
“Ayah baru sampai ya?” tanya Qila.
“Iyaa,” jawab Zahra dan Rehan serempak. Mereka jadi saling pandang dan Zahra segera menundukkan wajahnya. Bisa-bisanya mereka menjawab dengan bersamaan. Benar-benar kejadian ketidaksengajaan. Entah, petanda apa?
“Cieee Ayah…” goda Qila sambil menoel lengah Rehan.
Rehan jadi salting. Dia jadi senyum-senyum. Malu banget dia.
“Kok Om bisa di sini bareng bunda aku?” tanya Zidan.
“Om--” Rehan baru mau jawab tapi omongannya langsung dipotong oleh Zidan.
“Om kenal bunda aku ya?” tanya anak itu.
“Iya, kenal. Kami baru aja kenalan.Jadi ini Bunda kamu?” Rehan balik bertanya pada anak itu.
Zidan menggandeng tangan Zahra. “Iya Om, ini bunda aku. Cantik, kan?”
Rehan memandang wajah Zahra. Dia tidak bisa menahan senyumnya sehingga senyum itu terukir di wajahnya.
“Bunda, ini Om baik. Om ini yang beri aku hadiah,” ujar Zidan.
“Makasih ya hadiahnya. Zidan sangat senang dengan hadiah pemberian, Mas,” ucap Zahra ke Rehan.
Rehan menganggukan kepalanya.
“Gadis cantik ini namanya siapa?” tanya Zahra sambil mengusap lembut pipi gadis kecil yang berdiri di samping Rehan.
“Aku--” Baru aja Qila mau jawab, ayahnya langsung memotong ucapannya.
“Dia Qila, putri saya,” jawab Rehan.
“Masya Allah, dia gadis kecil yang cantik,” puji Zahra.
“Terima kasih Tante. Tente juga sangat cantik,” puji Qila.
“Coba aja ibu ini adalah ibu aku. Dia sangat cantik sekali,” batin Qila sambil melhat wajah Zahra terus-menerus.
“Ayo kita pulang,” ajak Rehan. Lama-lama di sini memuat jantungnya tak nyaman. Buka apa-apa soalnya yang dia lihat itu istri orang. Jika bukan ya ada harapan dia bisa memperistri wanita itu. Jadi lebih baik dia menjauh untuk menjaga perasaannya yang jatuh pada wanita yang tidak tepat. Cukuplah menjadi pengagumnya secara diam-diam.
“Aku pulang dulu Tante, aku pulang dulu Zidan,” pamit Qila.
“Hati-hati,” ucap Zidan.
“Tante kirim salam ya ke ibu kamu,” ucap Zahra.
Qila mengangguk sambil tersenyum.
Rehan memasangkan helm ke putrinya lalu naik ke motornya. “Kami permisi, assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam,” balas Zahra dan Zidan.
Rehan dan Qila pun meninggalkan ibu dan anak itu.
“Bunda.”
“Apa?”
“Qila itu nggak punya ibu.”
“Astagfirullah, bunda nggak tau Sayang. Ya Allah, nanti sampaikan maaf bunda ke Qila ya.”
“Ibunya ada, tapi pergi jauh. Gak pernah pulang-pulang.”
“Bunda benar-benar gak tau. Kasihan Qila.”
“Gapapa, nanti aku sampaikan maaf bunda ke dia. Qila gak akan marah, Bunda nggak perlu khawatir. Dia anak baik.”
Zahra mengusap kepala putranya itu.
Zidan masuk mobil. Zahra pun menyusul. Ketika sudah menyalakan mesin dia baru ingat kalau ban mobilnya bocor. Dia pun memanggil montir untuk membetulkannya. Supaya tidak menunggu lama dia dan Zidan pulang menggunakan taksi. Mobilnya dia tinggal dan minta diantar ke rumahnya setelah sudah diperbaiki.
***