Rumit Part 12

2462 Words
Zidan yang sedang duduk di meja belajarnya sambil menghapus air matanya. Dia sedih sekali karena papahnya pulang tanpa pamit kepadanya. Sejak dia kecil papahnya tidak begitu peduli dengannya. Setiap datang tanpa beri kabar dulu dan setiap pulang tiba-tiba aja sudah nggak ada. Dia rasa papahnya tidak suka dengannya. Walaupun punya papah dia merasa seperti anak yatim. Suara ketukan pintu terdengar. "Zidan, makan malam dulu yuk, Nak!" Itu suara bundanya. Dia mengambil tisu. Dia menghapus bekas air matanya. Dia tersenyum dan siap menghadap bundanya. Sesedih apapun dia, dia harus terlihat ceria. Dia tidak boleh jadi beban ibunya. Jika dia terlihat sedih pasti bundanya ikut sedih juga. Maka jangan memperlihatkan sedihnya ke bundanya. Dia menghampiri pintu dan membukanya. "Kamu ngapain di dalam, kok lama banget buka pintunya?" tanya Zahra. Zidan menghirup air di hidungnya yang mau meleleh keluar. "Enggak ngapa-ngapain, Bun," jawabnya setelah menghirup air yang mau keluar dari hidungnya. "Kamu habis nangis ya?" Zidan menggelengkan kepala. "Nggak kok Bunda, aku lagi pilek aja." "Tadi nggak pilek kamu." "Kan tadi, Bun. Yang namanya musibah kan gak ada yang tau." Zidan tersenyum manis. Zahra mengusap kepala anak itu. Putranya itu memang pintar ngejawab. "Ya udah, nanti kalau udah makan minum obat ya." Zidan menganggukkan kepala. "Ayo." Zahra menggandeng putranya sampai di meja makan. Mereka duduk saling hadap-hadapan. Selama makan berlangsung tidak ada yang mereka bicarakan. Yang terdengar hanya suara piring dan sendok yang saling bersentuhan. "Bun, papah kapan pulang ke sini lagi?" tanya Zidan setelah menghabiskan makan malamnya. "Bunda juga nggak tau, Sayang," jawab Zahra sambil berdiri mengemasi piring kotor yang di meja makan. "Apa masih lama?" "Bisa jadi," jawab Zahra sambil mencuci piring di westafel. "Memangnya kenapa? Kamu masih kangen ya sama papah?" tanyanya. "Kalau aku tentu masih. Tapi kalau papah belum tentu kangen aku," jawab Zidan lalu cemberut. Zahra selesai mencuci. Dia kembali duduk di hadapan putranya. "Kamu nggak usah sedih. Papah pulang memang nggak pamit ke kamu. Tapi perlu kamu tau, papah selalu kangen sama kamu. Dan papah sebelum pulang nitipin sesuatu ke bunda buat kamu." Raut wajah Zidan berubah ceria. "Hah, papah nitipin sesuatu buat aku, apa Bun?" tanyanya tak sabaran. "Hadiah." "Hadiah apa?" "Akan Bunda kasih tau tapi janji gak masang muka jelek lagi." "Ah Bunda, aku nggak masang muka jelek kok. Aku cuma masang muka sedih aja." "Kalau gitu jangan masang muka sedih. Anak bunda harus cerita terus. Anak sholeh harus--" "Harus banyak-banyak bersyukur. Nggak boleh ngeluh dan nggak boleh kecewa sama Allah." "Pinter." "Mana hadiahnya?" tagih Zidan. "Bentar, kamu tunggu di sini ya. Bunda ambil dulu." Zidan mengangguk. "Jangan lama ya, Bun." "Iya, Sayang." Zahra beranjak. Dia pergi ke keluar. Dia mengambil mainan yang dia simpan di bagasi mobil. "Semoga dia suka," ucap Zahra ketika hadiah yang ingin dia berikan kepada putranya sudah berada di tangannya. Zahra segera masuk kedalam rumahnya kembali. Dia ke meja makan menemui putranya yang masih setia menunggunya. Sampai sana dia langsung memberikan kejutan untuk putranya itu. "TARAAA!" Zahra menunjukkan kadonya. Mata Zidan berkaca-kaca melihat kado yang di tangan bundanya. Bungkus kado itu besar. Dia tidak sangka papahnya memberikannya hadiah itu. Entah isinya apa. Dia tidak mengharapkan hal yang begitu spesial. Namun, dengan diberi hadiah saja dia sudah sangat senang. "Ini hadiah dari papah," ucap Zahra menyenangkan hati putranya. Semoga dengan usahannya ini sang anak nggak merasa diasingkan oleh papahnya. Air mata Zidan tidak terasa menetes jatuh. "Bunda, ini benaran dari papah?" tanyanya kurang yakin. Dia sebenarnya ragu mendapatkan hadiah dari papahnya karena selama ini papahnya sangat bersikap dingin dengannya. "Iya, Sayang. Ini hadiahnya buat kamu." Zahra memberikan kado itu pada putranya. Zidan mengambil kado itu. "Ayo buka." Zidan menghapus air matanya. "Isinya apa, Bunda?" Zahra menggeleng, pura-pura tidak tahu. Dia pun tersenyum melihat kebahagiaan putranya. Dapat dilihat dari wajah sang anak yang terlihat sangat senang sampai-sampai meneteskan air mata. Mungkin jika kado itu benar-benar dari El maka kebahagiaan itu benar-benar nyata. Sayangnya El tidak begitu peduli pada anak mereka. Setiap ulang tahun Zidan saja pria itu tidak pernah datang. Katanya sih lupa tapi mungkin sebenarnya pria itu memang tidak mau mengingat hari spesial anak mereka. "Maafin Bunda Sayang, bunda harus bohong ke kamu," batin Zahra. Dia sedih. Dia menitikan air mata. Dia cepat menghapusnya dan mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk senyum manis. Zidan tidak boleh mencurigainya. Dia harus terlihat senang. Zidan perlahan membuka kadonya. Ketika melihat mobil remot kontrol yang jadi impiannya selama ini, dia langsung meneteskan air mata kebahagiannya dan memeluk bundanya. Dia tidak menyangka papahnya membelikan mainan yang sangat dia inginkan sejak lama. Namun, dia tidak berani memintanya karena harga mainan itu sangat mahal. Kini dia mendapatkan mainan itu dari papahnya. Ini benar-benar mengejutkannya. "Bunda... ini mainan yang selama ini aku mau, hiks..." Zidan langsung memeluk bundanya. Tangisannya pecah. Dia sangat-sangat merasa bahagia. "Kamu suka?" tanya Zahra. "Sangat suka, Bun." "Syukurlah. Sekarang udah nggak marah lagi kan, sama papah?" Zidan menggeleng. "Aku nggak nyangka papah akan beliin ini buat aku. Ternyata papah baik." Zidan melepaskan pelukannya. Dia membuka kotak mainannya lalu memeluknya dengan sangat erat. "Makasih, papah," ucapnya. "Bunda, apa boleh aku nelfon papah? Aku mau bilang makasih," pinta Zidan. Zahra tidak enak untuk menolak permintaan itu. Dia yakin suaminya tidak akan mengangkat telfon. Namun, dia tetap mengangguk mengiyakan. Dia pun memberikan ponselnya pada putranya. Zidan mencoba menghubungi papahnya. Pertama tidak diangkat, kedua tidak diangkat lagi, dan ketika tetap tidak diangkat. "Bunda, kenapa papah nggak angkat telfonnya?" "Mungkin papah sibuk," jawab Zahra. "Besok aja ya nelfonnya." "Tapi... ini baru jam 8 malam Bun. Dan kalau malam papah nggak kerja lagi, kan." "Papah pasti sedang istirahat sekarang. Nanti akan bunda coba hubungi lagi. Sekarang kamu cobain dulu mainannya." "Tapi Bun..." "Sayang, please dengerin bunda yaa." Zidan mengangguk. Dia pun beranjak pergi. Dia tidak sabar mencoba pemberian papahnya. Ini hadiah pertama yang dia dapatkan dari papahnya. Dia senang sekali. Sangat-sangat senang. "Jangan lupa minum obat!" teriak Zahra. "Iya Bundaaa!" sahut Zidan. Sepeninggalan Zidan. Zahra kembali duduk. Dia menghela napas panjang. Dia merasa berdosa karena sudah berbohong pada putranya. Namun, mau bagaimana lagi. Dia harus melakukannya agar putranya tidak sedih dan tidak membenci papahnya. "Ya Allah, maafkan aku karena sudah membohongi putraku," ucapnya dalam hati. "Semoga Kau mengampuni aku ya Allah..." tambahnya. *** "Ganggu aja," ucap El sambil memegangi ponselnya. Sudah dia bilang pada istrinya kalau tidak ada hal penting jangan meneleponnya. Belum juga 24 jam kepulangannya, wanita itu malah menghubunginya. Dasar! Sangat menggangunya sekali. El menyimpan ponselnya di saku celana. Dia turun dari mobil dan mengeluarkan belanjaan yang dia beli untuk kekasihnya. Sebelum menemui pujaan hatin dia membeli hadiah terlebih dulu untuk wanita itu. Agar kekasihnya bisa luluh dan tidak ngambekan lagi. El masuk ke gedung apartemen mewah yang pemiliknya tentu saja para orang-orang hebat. Sama seperti dirinya yang dari golongan orang kaya papan atas. Dia tiba di kamar dengan nomor 306. Dia berdiri di depan pintu kamar apartemen miliknya ini yang sudah dia berikan kepada kekasih hatinya yang sangat dia cintai. Dia membunyikan bel dan tidak beberapa detik dia menunggu sosok wanita cantik dengan baju tidur seksi membukakan pintu. El melempar senyuman. "Hai baby," sapanya. Dia ingin memeluk wanita itu tapi pelukannya malah mendapat penolakan. Kekasihnya malah mendorong tubuhnya. "Kemana aja kamu?" tanya Ara sambil memangku tangan di atas d**a. Sudah beberapa hari El tidak menemuinya. Pria itu malah pergi entah kenapa. Tidak bilang padanya hanya suka menelepon tapi tidak mau memberitahu posisinya. "Setelah aku bilang putus! Kamu malah pergi. Kamu benar-benar ingin kita pisah?" tanya Ara. El meletakkan belanjaannya. Dia meraih rambut kekasihnya dan membelai wajah wanita itu dengan lembut. "Sayang, aku nggak mau kita pisah. Kamu tau aku sayang mencintai kamu," rayunya. Ara menepis tangan pria itu. "Aku nggak akan percaya sama kamu!" Dia beranjak pergi. El mengambil belanjaannya. Dia ikut masuk kedalam. Dia menutup pintu dan menguncinya lalu menyusul kekasihnya yang masuk kedalam kamar. Sampai di kamar El menutup pintu. Dia simpan belanjaan yang dia beli ke atas ranjang. Dia hampiri kekasihnya yang berada di balkon. Dia peluk wanita itu dari belakang. Dia susupkan kepalanya ke leher jenjang kekasihnya. Dia menciumnya. Hem, aroma tubuh kekasihnya sangat harum. Dia suka. Sangat suka. Aromanya membuat dia ketagihan. Baunya sangat berciri khas. Tanpa melihat wajahnya pun dia bisa tahu itu kekasihnya lewat parfum wanita itu. Ara mencoba menolak tapi semakin dia ingin kabur dari pelukan El, semakin tangan pria itu mempererat lingkaran tangannya. "Apa kamu benar-benar ingin kita putus, hem?" tanya El sembari memutar tubuh Ara menghadap ke arahnya. Ara ingin pergi tapi El menahannya. "Mau kemana, hem?" El ingin mencium bibir kekasihnya tapi Ara malah menghindarinya. "Apa kamu nggak merindukan, aku?" tanya El. Dia mencoba lagi ingin mencium Ara tapi lagi-lagi wanita itu menghindar. "Ayolah," ajak El. "Nikahi aku segera maka kita tidak perlu putus!" tekan Ara. Dia kemudian berhasil pergi. Dia masuk kamar dan duduk di pinggir ranjang dengan raut wajah kesal. El menyusul wanita itu. Dia tatap kekasihnya tapi wanita itu tidak mau melihat ke arahnya. Dia punya ide. Dia mengambil belanjaannya dan menunjukkannya pada kekasihnya. "Lihat, aku membeli banyak hadiah untuk kamu. Aku belikan sepatu, tas, baju, kalung, jam tangan, dan coklat kesukaan kamu. Semua barang mahal. Kamu harus cobain," ucapnya ingin meluluhkan kekasihnya yang masih kesal dengannya. Ara menatap sangar pria itu. "Apa kamu pikir selama ini aku bertahan jadi pacar kamu karena aku menyukai semua barang mewah yang kamu berikan?! Kamu salah! Aku bertahan karena aku mencintai kamu! Aku ingin menjadi wanita penting dalam hidup kamu! Aku nggak mau terus-terusan jadi pacar kamu, El! Apa sesusah itu kamu menikahi aku sampai hubungan kita yang sudah bertahun-tahun lamanya tapi tetap sebatas pacar!" El memegang kedua pundak Ara. "Aku tau kamu sangat mencintai aku. Aku tau kamu suka aku bukan mengincar harta aku. Tapi harus berapa kali aku jelaskan pada kamu, bahwa orang tua aku nggak akan pernah merestui hubungan kita," jelasnya. Ara berdiri sambil menepis tangan kekasihnya. "Terus sampai kapan El! Sampai kapan hubungan kita gini-gini aja!" Matanya memerah. Dia memegai kepalanya yang terasa sangat pusing. Dia tidak ingin terus di posisi yang tidak menguntungkan ini. Sebatas pacar bukanlah hal yang istimewa. Bisa saja kekasihnya yang saat ini bersamanya di persatukan ke wanita lain oleh orang tua pria itu. Dia tidak mau hal itu sampai terjadi. Pokoknya tidak boleh. El tidak boleh jadi milik orang lain. Lelaki itu harus jadi miliknya secara penuh. El memeluk kekasihnya. Dia tenangkan wanita itu. Dia tahu Ara sangat mencintainya. Makanya wanita itu sangat terpukul sekali. "Kamu tenang. Semuanya akan baik-baik aja. Aku janji sama kamu." Dia mencium kening kekasihnya itu. "Kamu bisa janjikan untuk menikahi aku?" tanya Ara minta kepastian. El mengusap rambut Ara. "Iya, aku janji." Ara memeluk erat tubuh El. El merenggangkan pelukannya. Dia memegangi wajah kekasihnya itu. Menatap matanya sangat dalam lalu mendaratkan ciuman hangat untuk kekasihnya. Sudah beberapa hari El tidak menyentuh kekasihnya. Rasanya dia rindu sekali dengan setiap sentuhan wanita cantik dan seksi itu. Setiap kali dia melihatnya pasti dia akan tergoda. Ara melepaskan ciuman El. "Kamu nggak membohongi aku, kan?" tanyanya. Dia masih meragukan janji pria itu. El menatap tajam wanita itu. "Apa di mata aku ada kebohongan?" El bertanya balik. Ara menggeleng. "Ya sudah." El lanjut melumat bibir kekasihnya. Semakin lama ciuman mereka semakin panas. Semakin ganas hingga El sampai membawa tubuh Ara mentok ke tembok. Lalu El mengangkat tubuh ramping kekasihnya itu. Ara melingkarkan kakinya di pinggang kekasihnya. Ciuman mereka tak terlepas. El naik ke atas ranjang dan menjatuhkan tubuh kekasihnya di kasur mereka. Kini tubuh Ara berada di bawahnya. Perlahan tangan Ara menyelusup masuk kedalam baju El. Kekasihnya itu bermain nakal. Menyentuh dadanya dengan sangat lembut membuatnya merasa panas. Penuh gairah dan tak sabar ingin mencicipi tubuh indah kekasihnya. Ara mengeluarkan tangannya dari kemeja El. Dia membelai wajah pria itu. "Apa kamu benar ingin menikahi aku?" tanyanya. El memberikan anggukan. Agar permainan tidak kacau maka sudah seharusnya dia cari aman. Bukankah begitu? Senyum Ara mengembang. Merasa senang karena akhirnya dia mendapatkan lampu hijau dari kekasihnya. Ara membuka satu persatu kancing kemeja El. Ketika semuanya terlepas dia membuka baju pria itu dan membuangnya ke lantai. d**a bidang El yang seksi terlihat. Roti sobek El membuat Ara semakin b*******h. Tubuh seksi kekasihnya memang sangat menggoda. Tak hanya tampan rupawan di wajah, tubuh El pun tak kalah mempesona. Giliran El yang membuka baju kekasihnya. Perlahan tali baju wanita itu lepas. Perlahan juga baju Ara melorot kebawah yang kini hanya tinggal bra dan cd yang masih menempel di tubuhnya. Dia semakin tak sabar untuk menyentuh bagian dalam wanita itu. Tubuh kekasihnya memang sangat membuatnya puas. El mulai menjamah tubuh kekasihnya. Dia menciumnya dari pusar hingga ke wajah wanita itu. Dia kembali melumat bibir kekasihnya sambil membuka ikat pinggang serta celananya. Kini tinggal celana dalamnya saja. Tangan Ara tidak tinggal diam. Dia membalai d**a El dan terus turun sampai ke bagian bawah perut pria itu. Dia mengelusnya lembut sampai benda berharga El bangun dan membuat sang pemilik ingin cepat menyudahi permainan. Ingin segera keintinya saja. El menarik selimut menutupi tubuhnya dan Ara. Ketika semua pakaian mereka terlepas tak sehelai benang pun. El pun segera ingin memasukkan miliknya ke dalam tubuh kekasihnya. Namun, ketika setengah perjalanan dia teringat sesuatu dan cepat mengeluarkan benda berharganya. "Kenapa?" tanya Ara lirih. "Aku lupa memakain pelindung." El membuka laci untuk mengambil kondomm. Ara menggenggam tangan El menghentikan pria itu. El pun menatapnya. "Kalau memang kamu ingin menikahi aku, buktikan. Jangan memakai pelindung. Nggak perlu takut aku hamil. Karena kamu juga akan menikahi aku, kan?" "Tapi..." "Buktikan," pinta Ara. Dia mau mengetes kekasihnya. Jika memang pria itu serius ingin menikahinya. Harusnya tidak perlu takut jika dia hamil. El ragu tapi jika dia berhenti sekarang maka rasanya tidak akan menyenangkan. "Oke." Dia pun menyetujuinya. Ara tersenyum senang. El kembali memulai aksinya. Dia memasukkan miliknya kedalam tubuh kekasihnya. Wanita itu mendesah kenikmatan. Dia terus memaju mundurkan miliknya sampai desahan Ara semakin menjadi-jadi dan membuatnya semakin bersemangat. Permainan mereka sangat lama. Ara sangat memanjakannya. Mereka terus berganti posisi. Ara sangat aktif tidak seperti istrinya. Itulah yang membuat El tergila-gila dengan Ara. Memang tubuh Ara dan zahra sebelas dua belas. Tapi permainan Ara sangat baik. Jika bersama Zahra hanya dia yang aktif sedangkan Zahra cuma diam pasrah sehingga dia tidak terlalu suka bersetubuh dengan wanita itu. Istrinya itu sangat pasif entah karena pemalu atau memang tak pandai melayani suami dengan baik. Permainan ranjang selesai. El yang kelelahan pun tertidur. Sedangkan mata Ara masih terjaga. Ara diam-diam berangsur turun dari atas ranjang. Dia mengambil celana kekasihnya yang di lantai. Dia mengambil ponsel pria itu dan memeriksanya. Dia harus mengecek apakah El bermain di belakangnya atau tidak. Dia memeriksa semua sosial media El. Dia tidak menemukan hal yang janggal. Tidak ada yang mencurigakan. Semua tampak normal. Dia pun menyimpan kembali ponsel kekasihnya di saku celana dan kembali berbaring di ranjang. Dia lega dan merasa sangat happy hari ini. Sebelum tidur dia merapikan selimut El dan mencium kening pria itu. "I love you, baby," ucapnya lalu mencium pipi El. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD